.
.
.
..
.
.
Dikediaman Natio, Mereka saat ini masih berkumpul diruang tamu. Rasa khawatir tiba-tiba melanda keluarga itu, karena sang bungsu yang belum pulang sedari tadi. Padahal waktu sudah hampir tengah malam.
"Ini, Tian kemana,Sih? " Khawatir Shani.
"Coba kamu telpon temen-temennya,Chik? " Suruh Shani kepada anak sulungnya.
Sang anak sulung pun menurutinya, kemudian pergi menjauh dari tempat ia duduk untuk menelpon teman teman Christian.
10 menit sesi telpon, Chika pun kembali ke sofa tempat awal ia duduk.
" Gimana,Chik? Ada yang tau Christian kemana? " Tanya Shani kepada Chika yang belum sempat duduk.
Chika pun menggeleng. "Ngak ada yang tau Bun, Mereka bilang Tian udah pulang sedari tadi." Jawab Chika yang tak kalah Khawatir kepada adik semata wayangnya yang belum kembali.
Sedangkan kepala keluarga Natio, Gracio Harlan Natio. Ia masih berada diruang kerjanya, mengerjakan berkas-berkas yang belum ia selesaikan saat dikantor tadi.
****
Dimarkas Hesperos, para petinggi yang Niat awalnya ingin pulang langsung mengurungkan niatnya setelah mendengarkan ketua Mereka yang belum kembali kerumah.
"Kok bisa belum balik sih? Bukannya udah dari tadi." Binggu Ollan.
"Makanya, udah gua telpon dari tadi cuma berdering doang." Kata Zean, yang sehabis mendapatkan telpon dari Chika ia langsung menelpon Tian, namun tak ada balasan.
"Gimana, Bang? Cari kita nih! " Tanya Aldo kepada Gito.
"Iya lah, ponakan gua itu. Masa iya gua diam aja." Balas Gito.
"Yaudah Ayok cari, lu lan, Bareng Aldo sama Daniel Ke arah timur gua sama Bang Gito ke arah barat. " Perintah Zean dan dianguki oleh mereka.
"Yaudah ketemu lagi disini jam 2, ketemu ngak ketemu harus balik!." Tegas Gito dan dianguki saja oleh mereka.
Mereka pun langsung naik ke motor masing-masing dan berangkat mencari Ketua mereka, CHRISTIAN.
***
Di lain sisi, Christian baru saja terbangun dari pingsan.
"Ehkk... sakit banget pala gua," gumamnya pelan sambil meringis. Ia melepas helm yang masih terpasang di kepalanya, lalu menoleh ke arah motornya.
"Tai lah... ancur banget ini motor," keluhnya, menatap kendaraan yang kini tinggal rangka berantakan.
Ia menghela napas panjang, lalu matanya bergerak ke sekeliling.
"Ini sendal gua mana, ya? Masa iya gua balik sendal cuma sebelah," gerutunya sambil berdiri linlung, mencari sandal yang entah terlempar ke mana.
Di sisi Zean dan Gito, keduanya masih mencari keberadaan Christian. Namun pencarian mereka tiba-tiba terhenti ketika saku celana Zean berdering-ponselnya ada yang menelepon.
"Bang Git! Berhenti dulu, Tian-eh, Christian nelpon nih!" teriak Zean, membuat Gito langsung menghentikan langkahnya.
"Yaudah, cepet angkat," ujar Gito.
Zean segera mengangkat panggilan itu.
"Halo... Zean," terdengar suara lemah dari seberang.
"Lu ke mana, monyet? Dicariin
sekeluarga lu ini!" balas Zean kesal.
"Ya... sorry. Abis kecelakaan gua ini. Jemput gua, dong," jawab Christian.
"HAH?! Kok bisa, jing?!"
"Udah, ntar aja. Intinya jemput gua dulu. Sakit banget nih badan gua."
"Oke, oke. Sharelok aja. Gua berangkat sekarang."
Telepon pun langsung dimatikan Christia.
"Gimana? Di mana dia sekarang?" tanya Gito.
Zean menatap layar ponselnya yang baru saja menerima lokasi dari Christian, lalu menghela napas pendek.
"Abis kecelakaan dia, ayok jemput dia." Jawab Zean, membuat Gito terkejut.
"Kok bisa anj, terus si Marsha gimana? Balik sama Marsha kan dia." Ujar Gito panik.
"Udah sesi tanyanya nanti aja, kasian dia itu." Ucap Zean memotong pertanyaan Gito, dan bergegas pergi menuju lokasi yang telah dibagikan oleh Christian tadi.
20 menit kemudian, Akhirnya Gito dan Zean sampai dititik lokasi Christian berada.
Namun sesampainya mereka disana, mereka tak melihat Christian berada.
"Mana dia? " Tanya Gito.
"Gak tau, tapi titiknya bener." Jawab Zean yang kebingungan juga.
"Tapi itu Motornya kan?" Ujar Gito sambil menunjuk kepada sebuah motor yang telah hancur akibat menabrak pohon.
" Lah iya, tapi orangnya mana? " Ujar Zean yakin bahwa itu adalah motor Christian, dan langgsung menghampiri Motor itu
"Woi! Zean. " Panggil seseorang yang membuat Gito dan Zean menoleh.
"Ngapain lu? Itu motor udah hancur biarin aja." Ujar Orang itu yang bukan lain adalah Christian.
"Si anjing, kagak bisa diam banget lu. Abis nabrak pohon bukan diam malah jalan-jalan." Kesal Zean, sambil menghampiri Christian.
"Abis, nyari warung gua. Haus banget, tapi kagak ketemu." Jawab Christian santai, seolah-olah habis tidak terjadi apa-apa.
"Udah naik dah, kalo ada luka biar di rumah lu aja," suruh Zean kepada Christian.
"Iya, iya," jawabnya pasrah, lalu perlahan naik ke atas motor Zean sambil menahan nyeri di sekujur tubuhnya.
Tak lama kemudian, mereka bertiga meninggalkan tempat itu, melaju menembus jalanan malam menuju rumah Christian.
***
Di rumah Christian, Chika dan Bunda Shani masih setia menunggu di ruang tamu. Jam dinding berdetak pelan, terasa jauh lebih nyaring di tengah suasana yang dipenuhi kecemasan. Mata mereka sesekali melirik pintu depan, berharap sosok sang bungsu segera muncul.
"Dari masih belum ada kabar?" tanya bunda Shani pelan.
Chika menggeleng. "Belum, tapi temen-temenya udah bantu nyariin."
Suasana kembali hening. Hanya suara televisi yang menyala tanpa benar-benar ditonton.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara motor berhenti di depan rumah.
Keduanya langsung saling pandang.
"Itu... suara motor Zean, kan?" Ujar Shani.
Chika sudah lebih dulu berdiri. Tanpa menunggu jawaban, ia bergegas menuju pintu dan membukanya.
Di depan rumah, Zean dan Gito tampak menahan tubuh Christian yang berjalan tertatih. Helm masih menggantung di tangannya, dan wajahnya meringis menahan sakit.
"ASTAGA, CHRISTIAN!" seru Chika panik, langsung menghampiri. Bunda
Shani menyusul dari belakang, tangannya menutup mulut melihat kondisi anaknya.
"Ini kenapa?!" tanya Bunda Shani dengan suara bergetar.
Christian mencoba tersenyum tipis. "Cuma... jatuh dikit."
Zean mendengus pelan. "Kalo ini jatuh dikit, ngak bakal gua tolongin yaa."
Gito mengangguk setuju. "Kita masuk dulu aja. Kasian pada bedarah."
Chika segera menyingkir memberi jalan, sementara Bunda Shani bergegas mengambil kotak P3K.
Malam itu, ruang tamu yang tadinya dipenuhi kecemasan berubah menjadi tempat penuh kepanikan, kekhawatiran, sekaligus rasa lega-karena sang bungsu akhirnya pulang, meski dalam keadaan terluka.
Selamat Malam semuanya...
Gimana gess puasanya?Aman.
Yaa kali ini Gua upp lagi Chapter Hesperos yang terbaru...
Sory yaa telet dikit ngak ngaruh...wkwkw
Udah gitu aja jangan lupa Vote dan Komen jika ad kesalahan dalam penulisan.
