***
Ruang tamu keluarga Natio malam itu berubah seperti ruang perawatan dadakan.
Christian duduk di sofa sambil menahan perih dari luka yang sedang diobati. Jaketnya sudah dilepas, memperlihatkan beberapa luka lecet di tangannya.
Chika duduk di depannya dengan kotak P3K terbuka.
"Jangan gerak-gerak!! " perintahnya sambil membersihkan luka di siku dan kakinya Christian dengan kapas yang dibaluri ciaran alkohol.
"AHH... sakit, kak!" protes Christian.
"Makanya kalo naik motor jangan ugal-ugalan," balas Chika kesal.
Di samping mereka, Bunda Shani masih terlihat cemas. Tangannya berkali-kali memijat bahu Christian, memastikan anak bungsunya benar-benar baik-baik saja.
"Ini sebenarnya gimana kejadiannya?" tanya Bunda Shani pelan kepada Zean dan Gito yang masih berdiri di sana.
Zean dan Gito saling melirik sebentar.
"Kalau itu tanya Tian aja, Tan," jawab Zean sedikit kaku.
"Soalnya waktu kita sampai, dia udah kayak gitu."
Bunda Shani kemudian menoleh ke arah Christian.
"Jadi gimana? Kok kamu bisa kecelakaan?" tanyanya dengan nada khawatir.
Christian menarik napas pelan, lalu mulai menjelaskan sambil menahan rasa sakit di tubuhnya.
"Jadi... tadi aku dikejar geng motor. Mereka rame banget," katanya,
"Karena panik, aku langsung gas motor. Nah... pas sampai di tikungan tempat aku kecelakaan itu, jalannya licin. Motor aku selip... terus ya gitu deh."
Ia mengangkat bahu sedikit, mencoba terlihat santai meskipun wajahnya masih meringis menahan nyeri.
Bunda Shani langsung menghela napas panjang.
"Ya Allah... kamu ini," gumamnya pelan, antara lega dan masih khawatir.
KLIK..
"udah..tuh, lain kali pelan-pelan bawa motornya." Kata Chika memperingati Christian yang sudah selesai ia obati
"Iya-iya, Makasih ya kak. " Ujar Christian berterima kasih kepada sang kaka, dan Chika pun hanya mengangguk dan lantas beranjak dari sana untuk mengembalikan kota P3K ketempat asalnya.
"Eh... ngomong-ngomong, tiga curut itu ke mana? Masa iya mereka nggak nyariin gue. Tega banget sih," tanya Christian dengan nada dramatis.
Zean langsung mendengus.
"Lebay lu. Udah gue kabarin kok kalau lu udah balik," jelasnya santai.
Christian mengangguk kecil.
"Yaudah deh..."
Gito kemudian melirik jam di tangannya.
"Zen, cabut yuk. Udah malem banget nih," ajaknya. Kerana Jam sudah menunjukkan hampir setengah dua pagi.
Zean mengangguk.
"Iya, ayo. Pamitan dulu."
Mereka berdua kemudian berdiri.
"Shan... gue cabut dulu ya. Udah malem," pamit Gito kepada Shani.
"Lah, kenapa ngak nginep aja?" tawar Shani.
Zean tersenyum tipis sambil menggeleng.
"Nggak dulu deh, Tan. Besok ada kegiatan pagi-pagi."
Ia lalu menyalami Shani dengan sopan, diikuti Gito.
Zean menoleh ke sekitar, lalu cengengesan.
"Kak Chika mana, Tan?" tanyanya.
Shani menggeleng pelan.
"Nggak tahu. Coba panggil aja."
Lalu ia menengadah sedikit ke arah lantai atas. "Chik!!"
"Iyaa! Kenapa, Bund?" sahut Chika dari lantai dua dengan suara cukup keras.
Shani menahan senyum.
"Ini pacar kamu mau pulang nih!"
""Oh iya... bentar!!" balas Chika dari atas, lalu buru-buru berlari turun menghampiri Zean.
Begitu sampai di hadapan mereka, Zean langsung tersenyum kecil.
"Kak, aku pulang duluan ya," pamitnya sambil menyalami Chika.
"Iya... hati-hati. Kalau udah sampai, kabarin ya," jawab Chika dengan senyum manis.
Chika lalu menoleh ke samping dan sedikit terkejut melihat Gito yang juga sudah siap pergi.
"Loh... Om juga? Kirain nginep di sini," katanya.
Gito tertawa kecil.
"Ngak lah!, ngapain nginep. Udah dikasih rumah, masa ninggalin," jawabnya santai.
Shani kemudian berdiri.
"Yaudah, ayo. Aku anter ke depan."
"Ayo, Tan. Chris, gue cabut dulu ya," ujar Zean.
Ia lalu memberikan fist bump ke arah Christian, yang langsung dibalas.
Gito ikut melakukan hal yang sama.
"Cepet sembuh lu," tambah Gito singkat.
Christian hanya mengangguk pelan.
Tak lama, mereka pun berjalan keluar menuju depan rumah, meninggalkan suasana yang perlahan kembali tenang.
Selang 5 menit Suara mesin motor bergemuruh dan mulai menghilang ditelan malam, dan menandakan Gito dan Zean sudah pergi dari perkarangan Rumah Christian.
Tak lama, mereka pun berjalan keluar menuju depan rumah, meninggalkan suasana yang perlahan kembali tenang.
Selang lima menit, suara mesin motor bergemuruh lalu mulai menghilang ditelan malam, menandakan Gito dan Zean telah pergi dari perkarangan rumah Christian. Tak lama setelah itu, Shani sang ibu kembali masuk ke dalam rumah.
"Udah kamu masuk ke kamar gih," suruh Shani dengan lembut, "Bisa jalan kan?" tanyanya.
Christian langsung berdiri perlahan. "Bisa... luka begini mah nggak ada rasa, Bund," ujarnya, padahal beberapa menit lalu ia meringis kesakitan saat sedang diobati.
"Iyaa deh, sana masuk kamar langsung istirahat," ujar Shani dan hanya diangguki saja oleh Christian, yang kemudian berjalan naik ke atas menuju kamarnya.
Di tengah perjalanan menuju kamarnya, Gracio sang kepala keluarga baru keluar dari ruang kerjanya. Ia langsung dibuat bingung melihat kondisi Christian yang berjalan dengan luka-luka di tubuhnya.
"Kamu kenapa dek?" tanyanya dengan wajah kebingungan.
Belum sempat Christian menjawab, seseorang sudah lebih dahulu bersuara. "Makanya jangan kerja mulu, PAK! Anaknya kecelakaan kagak tau," ucap orang itu dengan nada kesal, yang bukan lain adalah Shani sendiri.
"Ohh... wajar aja kan, laki-laki," jawab Gracio dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa.
"WAJARR kamu bilang!! Kalau anak kamu mati gimana?" marah Shani, tidak terima melihat sikap Gracio yang masih tenang dan tidak menunjukkan rasa khawatir sedikitpun saat melihat Christian yang terluka.
"Yaudah bikin lagi," jawabnya dengan wajah yang tak bersalah.
"ENAK BANGET YAA NGOMONG TINGGAL BIKIN, KAMU ENAK AKU NGAK!" balas Shani dengan nada kesal.
"Hehehe... ya gimana kan kamu yang hamil, aku mah tinggal... eh-eh doang," kata Gracio dengan wajah polosnya.
"Ahhh pembicaraan apa inii...."Ucap Christian sambil menutup kupingnya, lalu langsung berjalan masuk ke dalam kamarnya.
"Kamu sih Cioo... Anaknya jadi denger omongan begituan kan?" ucap Shani menyalahkan Gracio atas omongannya tadi.
"Lahh! Kok aku sih, kan kamu juga tadi," balasnya yang tak mau kalah."Lagian juga dia udah dewasa, jadi biarin aja."
"HEH KALIAN BERDUA, BALIK DEH KE KAMARNYA BRISIK TAU!!" tegur seseorang dari dalam bilik kamar, dan orang itu adalah Christian.
"Hehehe... iya dek, kita balik nihh," ujar Gracio yang takut diomeli lagi oleh sang bungsu.
Shani dan Gracio akhirnya kembali masuk ke dalam kamarnya, setelah drama dan kepanikan yang melanda keluarga Natio.
Seperti ombak yang pernah bergulung tinggi lalu perlahan surut kembali ke laut, suasana di rumah mereka pun mulai kembali tenang. Semua keributan dan kekhawatiran yang muncul seolah menjadi percikan kecil yang menghangatkan hubungan di tengah keluarga, membuktikan bahwa meskipun kadang ada benturan, cinta tetap menjadi pijakan yang kuat untuk mereka semua.
Bersambung.......
