.
.
.
Happy Reading
.
.
Jangan lupa di votmen ya
.
.
Angin sore mulai berhembus lebih dingin, membelai rambut Jungkook yang tergerai lembut. Namun yang lebih menusuk adalah kata-kata Taehyung barusan—penuh kuasa, seperti segel yang mengikatnya erat tanpa celah untuk kabur.
Taehyung masih berdiri sangat dekat. Tatapannya menuntut, tapi di balik itu, Jungkook bisa menangkap luka yang tersembunyi… luka yang hanya muncul saat Taehyung merasa takut kehilangan.
“Aku tahu kau belum terbiasa,” suara Taehyung melunak sedikit, meski masih terdengar tegas. “Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi. Bahkan jika dunia ini tidak menerimamu, aku akan membuat mereka tunduk. Untukmu, sayang.”
Jungkook memalingkan wajah. “Itu bukan hal yang mudah, Hyung…”
“Tidak ada yang mudah dalam hidupku, Jungkook,” ucap Taehyung, lebih serius kali ini. “Kau tahu, bahkan ketika mereka menjodohkanku dengan Wonyoung, aku tetap memilihmu. Aku tahu apa risikonya—kemarahan ayahku, perpecahan dalam keluarga, bahkan ancaman dari klan lain.”
Nama Wonyoung membuat Jungkook menoleh. Ini pertama kalinya Taehyung menyebut wanita itu di hadapannya.
“Kenapa Hyung tidak memilih jalan yang lebih mudah? Wonyoung dari keluarga terpandang, cantik, dan—”
“—bukan kamu,” potong Taehyung tajam. “Aku tidak butuh perjodohan, aku butuh seseorang yang membuatku merasa hidup. Dan itu hanya kau, baby.”
Jungkook menggigit bibirnya, pikirannya berkecamuk. Perasaan takut, terintimidasi, tapi juga… hangat. Seolah ada sisi dari Taehyung yang hanya bisa dilihatnya, sisi yang penuh rasa memiliki dan perlindungan. Obsesi yang berbahaya, tapi juga indah dalam balutan luka.
“Kau tidak tahu seberapa dalam aku tenggelam padamu…” bisik Taehyung lagi. “Bahkan jika dunia ini terbakar, aku akan menyeretmu bersamaku—asal kau tetap di sisiku, sayang.”
Jungkook memejamkan mata, mencoba menenangkan detak jantungnya. “Hyung… aku hanya ingin tahu, apakah ini cinta… atau hanya obsesi?”
Taehyung tidak menjawab langsung. Ia meraih pinggang Jungkook dan memeluknya dari belakang, dagunya bersandar di bahu namja itu.
“Mungkin awalnya obsesi…” bisiknya lirih, tapi terdengar jelas. “Tapi sekarang, aku bahkan tak bisa membayangkan hidup tanpa senyummu. Tanpamu, aku bisa jadi lebih kejam dari sebelumnya.”
Diam.
“Jadi tolong… jangan pergi dariku, baby,” suara itu, untuk pertama kalinya, terdengar nyaris seperti permohonan.
Jungkook tidak menjawab. Ia hanya diam dalam pelukan itu, membiarkan angin sore menyapu mereka berdua, membiarkan pikirannya berperang antara rasa takut… dan rasa yang tidak bisa dia tolak dari awal.
......
Malam mulai turun, menggantikan langit sore yang tadi memerah. Lampu-lampu gantung bergaya klasik menyala di sepanjang koridor mansion, menyoroti dinding marmer yang berkilau seperti museum pribadi milik seorang pria yang terlalu mapan—dan terlalu tertutup.
Jungkook duduk di salah satu ruang baca yang sepi, tangannya menggenggam secangkir teh hangat yang mulai mendingin. Namun pikirannya jauh dari tenang.
Langkah kaki terdengar mendekat.
“Sayang?” suara berat itu terdengar lembut kali ini, tapi tetap membuat bulu kuduk Jungkook meremang.
Taehyung muncul di ambang pintu dengan kemeja hitamnya yang digulung hingga siku. Rambutnya sedikit basah, menandakan dia baru mandi. Aroma sabun mahal bercampur aroma khas tubuhnya menyusup ke udara.
