.
.
.
Happy Reading
.
.
Jangan lupa votmen nya
.
.
Di sebuah bar yang terletak di pusat kota, suasananya remang dan penuh dengan aroma alkohol serta suara tawa bercampur musik. Seorang namja berkulit putih duduk sendirian di sudut bar. Ia meneguk minumannya dengan kasar, seolah ingin menelan semua amarah yang membara di dadanya.
Sunghoon.
Wajahnya dingin, tapi mata cokelat gelapnya menyimpan kegelisahan yang tak bisa disembunyikan. Tangannya mengepal erat di atas meja, sementara pikirannya masih dipenuhi suara wanita yang tak pernah bisa ia abaikan.
Wonyoung.
Wanita itu tahu caranya membuat ia frustasi, ia sungguh tidak rela jika orang yang selama ini ia cintai malah terang terangan menginginkan pria lain dihadapan nya.
Ia terus meneguk minuman itu, membuat ia sedikit mabuk, tak lama seseorang datang menghampiri nya dan duduk disebelah namja itu.
"Wah seperti kau sedang tidak baik baik saja, biar ku tebak pasti ini ada sangkut paut nya dengan wonyoung kan? " ucap orang itu dengan nada mengejek
"Diam lh kau, kau sama sekali tidak membantu ku" ucap Sunghoon sedikit linglung
Jay, pria dengan rahang tegas nya menatap sahabat nya itu dengan tampang mengejek.
"Apa lagi kali ini hah?, apa yang dilakukan wanita itu sehingga membuat kau seperti ini? "
"Kau tau wonyoung dijodohkan oleh orang tua nya dengan kim taehyung, tapi si kim itu menolak perjodohan itu karena dia sudah memiliki kekasih yaitu seorang namja yatim piatu, dan itu membuat wonyoung tidak Terima dan menyuruh ku untuk menyingkirkan namja itu" jelas Sunghoon
"Dan kau menurutinya? " ucap Jay dan dibalas anggukan oleh lawan bicara nya itu.
"Dasar bodoh" Jay memukul kepala Sunghoon
Jay menggeleng pelan, kesal sekaligus prihatin. Ia tahu betul bagaimana keras kepalanya Sunghoon kalau sudah menyangkut Wonyoung. Tapi menyuruhnya mencelakai seseorang hanya demi wanita yang bahkan tidak menoleh padanya? Itu gila.
“Sunghoon… sampai kapan kau akan jadi boneka untuk dia, hah?” Jay menatap tajam sahabatnya. “Dia bahkan gak sadar kalau kau mencintainya. Atau mungkin sadar, tapi dia gak peduli.”
Sunghoon mengalihkan pandangan, menatap gelas kosongnya. Dadanya sesak. Kata-kata Jay seperti tamparan keras, tapi juga kenyataan yang selama ini ia hindari.
“Aku tahu… Tapi aku gak bisa berhenti. Dia satu-satunya yang pernah membuatku merasa hidup,” ucap Sunghoon lirih, suara mabuknya mulai terdengar berat.
Jay menghela napas panjang. “Lalu kau mau apa sekarang? Bunuh si Jungkook itu? Hah? Kau pikir itu akan membuat Wonyoung datang padamu dan jatuh cinta?”
Sunghoon terdiam. Nama itu—Jungkook—berputar di kepalanya. Namja yang bahkan belum pernah ia temui secara langsung, tapi kini menjadi target kemarahannya hanya karena satu hal: mencintai Wonyoung dan dicintai oleh orang yang ia dambakan.
“Aku hanya… ingin dia pergi dari kehidupan Taehyung. Kalau dia pergi, mungkin… perjodohan itu bisa dilanjutkan. Mungkin Taehyung akan berubah pikiran…”
Jay menatapnya lama, lalu mengusap wajahnya dengan frustrasi.
“Kalau kau masih waras, lebih baik kau batalkan rencana bodohmu itu. Taehyung bukan orang biasa, Sunghoon. Dia… dia punya koneksi yang berbahaya. Dunia yang bahkan kau sendiri nggak ngerti.” Jay mendekat, menatap mata Sunghoon tajam. “Kau sentuh Jungkook, dan kau bisa saja mati.”
