32

554 97 38
                                        


Hari ini kegiatan mereka tuh ada dua; bantuin Pak Heri panen cabe dan gantiin guru ngajar di SMP. Dion gak bagi kelompoknya, dia minta masing-masing anggota buat pilih kegiatan mana yang mau mereka ikutin selama jumlahnya seimbang.

Chakra tanpa ba-bi-bu langsung milih ngajar, soalnya dia udah janji sama bocil-bocil yang sering setor muka di posko. Lagian, dia juga yakin kalau Hazel bakalan milih ngajar. Ga mungkin kan seorang Hazel mau capek-capek panen cabe?

Bantu panen cabe : Dion, Khalif, Malik, Silvia, Jian

Ngajar di SMP : Chakra, Wahda, Gina, Nadya, Jevian

Yang terakhir milih tuh Bagas sama Hazel. Bagas udah jelas pengen ngikut Dion, tapi dia biarin Hazel yang milih lebih dulu. Seperti yang lain, Bagas juga yakin kalau Hazel bakalan milih ngajar.

Hazel sendiri masih bingung, dia males ikut manen cabe tapi dia juga gamau pisah dari Dion. Otaknya lagi sibuk kalkulasi untung-rugi kalau milih ikut Dion.

"Anggora, gausah sok kebanyakan mikir. Ayo, jam istrahat bentar lagi selesai." Chakra narik tangan Hazel biar berdiri disampingnya, di kubu orang milih ngajar di SMP.

"Betul, Zel. Lo langsung aja ikut si Chakra, paling cobaannya cuma anak Pakades doang" Bagas bantuin Chakra buat pengaruhin Hazel, "Kalau panen cabe entar tangan lo lecet, panas lagi."

Malik diam doang, mereka terpaksa ikut bantu panen cabe soalnya semalam jadi beban pas main ML. Padahal dia males panas-panasan di kebun, udah gitu gaada pemandangan segar kayak Hazel nantinya.

"Gue mau ikut Dion aja, mau bantu panen cabe."

"Lah? Gabisa gitu dong, Anggora" Chakra protes, "Lo kalau susah disana gimana? Gak ada gue."

"Najis, Cak. Gaada lo emang kenapa? Lo pikir gue gabisa hidup kalau lo gaada?"

"Bukan gitu, Anggora. Maksudnya —"

"Udah, udah. Stop debatnya" Dion tarik nafas panjang, sebenarnya dia juga gamau Hazel milih panen cabe karena tau bakalan repot banget, tapi dia pilih buat ikutin aja apa kemauan sepupu nakalnya ini "Jadi, Hazel ikut panen cabe dan Bagas ngajar sama yang lain. Jelas?"

"Jelas!!" Jawab mereka serempak, kecuali Chakra.

"Dion, ini gapapa kalau kita gak bareng?" Bagas jalan ngehampirin Dion, mukanya murung karena gabisa bareng Dion.

"Gapapa, Gas. Emang kenapa?"

Muka Bagas makin murung, suaranya pelan dan lemah, "Gue ngerasa bakalan kenapa-kenapa..."

"Tolong berobat."

Dion pergi sambil geleng-geleng, sementara Bagas megang dadanya dramatis sambil ngeliat ke Chakra yang mukanya udah kusut, "Cak, jalan pikiran pujaan hati gue benar-benar indah. Dia gak masalah kalau kita pisah asal kegiatan KKN tetap jalan..."

"Bacot, anjing."



~




Waduh

Waduh

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
𝐊𝐊𝐍Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang