31

533 85 45
                                        


Sebagai manusia paling rajin beribadah di posko, Khalif biasanya selalu bangun sebelum jam 4 pagi. Kadang, Malik sama Bagas juga ikutan tapi, hampir setiap waktu Khalif pergi sendirian.

Hari ini ada yang beda, baru aja Khalif mau buka pintu dia tiba-tiba sadar sama sosok yang duduk di kursi ruang tamu. Khalif diam dan ngucek matanya berkali-kali, pastiin kalau dia gak salah liat soalnya apa yang dilihatnya ini lebih serem daripada setan.

"H-hazel?"

Sosok yang Khalif bialng lebih serem dari setan itu adalah Hazel. Kenapa serem? Soalnya lebih masuk akal ngeliat setan yang duduk sendirian di pagi buta kayak gini dibanding seekor Hazel.

Khalif sampai balik lagi ke kamar buat mastiin kalau Hazel gak ada diranjang bareng Chakra tapi malah duduk sendirian di ruang tamu.

Khalif nyalain lampu biar bisa liat Hazel lebih jelas lagi. Matanya keliatan lelah, tanda kalau dia belum tidur sama sekali. Mukanya datar tanpa ekspresi tapi Khalif bisa rasakan aura hitam menguar dari seluruh tubuh Hazel —badmood.

"Lo gak tidur?"


"Gak bisa tidur."


"Wah, kurang ajar si Chakra!" Khalif berseru marah. Tangannya lipet sajadahnya biar tebel, siap buat mukulin Chakra, "Lo tenang aja, Zel. Biar gue yang urus."


"Bukan Chakra, kok."


"Siapa yang berani gangguin lo selain Chakra? Sebut nama, Zel, biar gue yang sabet."


Hazel tertawa kecil, "Makasih ya, Alip. Tapi lo gak perlu repot-repot, soalnya kali ini otak gue sendiri yang gangguin gue."


Khalif ngangguk-ngangguk, kalau udah seperti ini berarti dia udah gak punya andil buat ikut campur. Baru aja Khalif mau jalan pergi, tangannya ditahan Hazel.

"Gue mau nanya dong. Boleh?"


"Boleh. Tapi tangannya dilepas atuh, Zel, udah wudhu gue."

Hazel lepasin tangannya, tapi mukanya bingung natap Khalif. Khalif diam sebentar sebelum nepuk jidatnya sendiri. "Sejenis ternyata, lupa gue. Pegang lagi aja, Zel."

"Gue mau nanya, tapi lo gaboleh bilang siapa-siapa kalau gue nanyain ini."

"Waduh, jadi takut" Khalif meluk diri sendiri buat nunjukin kalau dia merinding, tapi hanya dapat tatapan datar dari Hazel. "Hehe, tanya aja. Gue gak ember kayak Malik atau Bagas."


"Lo kan deket banget sama si Chakra. Gue penasaran, Chakra punya riwayat selingkuh gak?"

"Hmmmmmm..... Bentar Zel, gue mikir dulu." Khalif masang wajah berpikir, "Kalau riwayat bisul, panu, sama kutu air sih ada ya... tapi kalau selingkuh kayaknya gak ada."


"Serius?"


"Dua rius. Dia emang gatal, genit, gatau diri banget. Tapi sejauh ini kalau dia udah bosen sama satu selir, dia bakalan langsung putus terus beralih ke selir lain, gada namanya selingkuh-selingkuhan." Khalif pasang ekspresi muka yang paling meyakinkan. Dia gak biasa ditanyain perkara begini, jadi dia gatau ekspresi kayak apa yang harus dia pasang biar orang bisa percaya kalau dia tuh ngomong jujur.


"Menjijikan sih.. tapi lebih memang lebih baik jujur daripada bohong dan selingkuh dibelakang."


"Pengalaman ya, Zel?"

Hazel tersenyum kecut, "Ya begitulah."





~

Aura

𝐊𝐊𝐍Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang