44

565 89 48
                                        

"Gue mau nanya pendapat lo tentang sesuatu boleh gak?"

Setelah berpikir semalam dan mengumpulkan niat untuk membicarakan ini dengan Hazel, Khalif akhirnya membuka suara. Memotong hening panjang mereka setelah Hazel selesai bercerita tentang kebenaran alasan alerginya.

"Boleh." Hazel ngangguk, natap Khalif dengan penuh penasaran, "Mau nanya apa? Tumben banget."

Hening sejenak. Khalif kembali bingung, gimana caranya dia membicarakan ini tanpa memberitahu kebenarannya.

"Menurut lo ya... Kalau misalnya nih.." Khalif berdehem, rasanya tenggorokannya tiba-tiba kering kerontang, "Misalnya nih ya... cuman misalnya doang nih, Zel..."

Haze berdecak, "Iya anjir, misalnya apa Lip?"

"Misalnya lo dideketin nih, terus yang deketin lo juga deket sama yang lain atau ngedeketin orang lain juga. Lo marah gak?" Melihat Hazel yang diam, Khalif segera menambahkan, "Tapi, setelah dia udah jauh sama lo, dia berhenti ngedeketin yang lain. Menurut lo gimana?"

"Tergantung situasinya sih. Selama gue sama dia gaada hubungan resmi, dia bebas ngedeketin siapa aja. Tapi, kalau dia punya niat pacaran sama gue, dia gaboleh deketin yang lain sampai gue tolak."

Khalif ngangguk-ngangguk. Hazel diam, tapi masih ngeliatin Khalif, muka Khalif tuh kayak ngasih tau kalau dia masih mau nanya lagi.

Dan tebakan Hazel benar, karena Khalif kembali buka suara untuk bertanya.

"Terus kalau misalnya... Misalnya lagi nih, Zel."

"Iya iya, misalnya apa??"

"Andai kata nih, yang deketin lo melakukan sesuatu yang tidak-tidak," Khalif ngangkat kedua tangannya, ngasih gerakan tanda kutip pas nyebut tidak-tidak, "lo marah gak?"

"Chakra ngapain emangnya?"

"LOH!" Khalif terlonjak kaget, tapi segera nutup mulutnya sendiri karena sadar dia udah teriak. Dia duduk dan segera geleng-geleng kepala, "Kok Chakra sih?? Gue gak nyebut Chakra, Zel. Ini tuh berandai-andai doang, karena gue pengen tau pendapat lo" jelasnya.

"Lip, gue ga bego."

"Hazel, serius. Gue gak lagi ngomongin Chakra."

"Lip, Lo mau ibadah masa bohong ke gue sih."

Khalif nyerah. Liat Hazel yang natap dia tanpa berkedip tangan Hazel yang genggam tangannya bikin dia jadi ga bisa nahan kebohongan lebih lama lagi.

"Yaudah, tapi jangan bilang siapapun kalau gue ngasih tau."

Hazel ngangguk. Kemudian mengalir lah cerita dan pengakuan itu dari bilah bibir Khalif. Semuanya, tentang Chakra dan Adri, Khalif ceritakan tanpa kurang satupun dan tanpa bumbu-bumbu tambahan.

Sebenarnya Khalif gamau bocorin ini, tapi hatinya gabisa tenang ketika dia mengetahui hal sebesar ini dan gak ngmong ke Hazel. Dia udah janji jadi temen curhat yang baik dan benar, hal kayak gini rasanya kurang etis saja kalau Khalif sembunyikan.



~



Mkn

Mkn

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
𝐊𝐊𝐍Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang