34

681 95 63
                                        

Setelah makan, mereka semua ngumpul di ruang tengah buat rapat evaluasi kegiatan hari ini sekaligus bahas kegiatan buat besok. Kalau biasanya Chakra bakalan duduk disamping Hazel, malam ini beda.

Chakra, Malik, dan Khalif duduk di bagian paling pojok. Malik dari tadi udah meronta-ronta karena penasaran seperti apasih wajah makhluk yang berhasil jadi pacarnya Hazel tapi malah selingkuh. Mantannya Hazel itu pantas masuk top 5 manusia paling gak bersyukur di dunia.

Sebenarnya, Chakra gak bohong soal dia yang niat awalnya pure mau zoom meet doang. Tapi, pas zoom tuh mentor dia nge-share file yang harus Chakra akses lewat drive, alhasil Chakra numpang di GDrive Hazel.

Saat buka GDrive itulah mata Chakra salah fokus sama salah satu folder tanpa nama— hanya ada 3 emoji hati warna pink buat jadi penanda folder itu. Chakra pikir itu isinya foto-foto cakep Hazel, makanya dia berani ngeklik buat liat isinya.

Ternyata setelah dibuka—BOOM! Isinya folder itu penuh dengan foto seorang cowok dan foto Hazel bersama cowok itu. Chakra yakin cowok itu pasti mantannya Hazel, udah keliatan banget dari pose mereka yang deket dan cukup romantis.

Penemuan fenomenal itu bikin Chakra langsung out dari room zoom, izin kalau ada urusan mendadak. Sekarang dia fokus scroll buat liat foto-foto Hazel sama mantannya dengan hati dongkol, kepala panas, dan rasa iri yang mendalam.

Satu hal yang Chakra sadari, semakin dia perhatikan semakin dia ngerasa kalau mantan Hazel ini gak asing. Chakra ngerasa pernah liat cowok itu, entah hanya sebatas melihat atau mungkin berinteraksi.

"Mana, Cak? Cepetan gue penasaran!" Malik duduknya makin rapat ke Chakra, jarak mereka bertiga agak menjauh dari lingkaran diskusi.

"Ganteng gak, Cak?" Khalif bertanya, "Muka lo gak enak dilihat, berarti ganteng ya?"

"Ah, diam lu berdua!" Chakra ngeluarin hpnya buat nyari foto mantan Hazel yang dia simpan. Dia harus scrool beberapa kali soalnya dia juga ngambil foto-foto Hazel—yang pasti sendiri— buat diliatin.

"Nah, ini dia orangnya. Kayak ga asing—"

"LAH! MENTOR GUE, JING!" Malik berseru heboh, menunjuk layar hp Chakra yang nampilin foto seorang cowok yang kelihatan lebih dewasa, "LIP! MENTOR KITA LIP! MENTOR MAGANG KITA!"

"Malik, ada yang pengen dibagi dengan anggota lain? Kenapa teriak?" Dion menatap mereka dengan wajah datarnya. Mereka bertiga kini jadi perhatian seluruh anggota karena teriakan heboh Malik.

"Eh, sorry sorry. Chakra habis kena tipu beli apk premium, ternyata yang nipu mirip mentor magang gue sama Malik."

Pernyataan Khalif sontak buat orang-orang ketawa. Chakra pengen mukul Khalif, tapi karena pengalihan perhatian Khalif berhasil, jadilah dia ikutan ketawa sukarela bareng yang lain.

"Emang kalian dulu magangnya dimana? Gue lupa." Silvia bertanya. Dulu kelas mereka sempat heboh sama tempat magang Khalif sama Malik, tapi Silvia lupa nama tempatnya.

Denger-denger tempat mereka tuh paling susah buat jadi tempat magang. Masuknya gabisa pake ordal, harus menjalani rangkaian tes yang sulitnya minta ampun. Buat masuk passing grade aja rasanya empot-empotan, apalagi lulus dengan hasil bagus.

Selain karena jenjang karir yang menjanjikan, relasi yang luar biasa, magang ditempat itu bakalan ada gaji. Makanya, satu angkatan tuh heboh karena Malik bisa keterima. Kalau Khalif sih gak diragukan, dia pinter dan rajin jadi masuk akal kalau keterima.

"Gue, Chakra sama Khalif magang di satu tempat, tapi beda divisi aja.." Malik senyum sombong, tiap nyebut nama tempatnya magang, rasa bangga bertambah 10000x lipat soalnya dia masuk ke tempat itu dengan usaha keras sendiri. "CakNas. Gue magang di CakNas."

𝐊𝐊𝐍Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang