16

648 95 46
                                        



Keesokan harinya, mereka bersikap seolah tidak terjadi apa pun semalam. Chakra tetap membangunkan Hazel lebih awal untuk mandi, menyiapkan air, dan tentunya membuatkan susu untuk si Anggora. Hazel pun masih sama—mengeluh ketika dibangunkan, lalu mengucapkan terima kasih untuk semua yang Chakra lakukan.

Percakapan semalam seperti angin lalu bagi keduanya, seakan tidak pernah terjadi. Chakra sendiri tidak heran dengan sikap Hazel. Saat ciuman kemarin, Hazel juga biasa saja; meskipun 'biasa aja'-nya Hazel dulu sempat dianggap sebagai bentuk suka oleh Chakra. Tapi setelah semalam, akhirnya Chakra sadar bahwa rasa suka Hazel ke dia tidak seperti yang ia bayangkan selama ini.

Di sisi lain, Hazel justru bingung dengan sikap Chakra yang tetap sama. Ia pikir Chakra akan menjauh atau setidaknya membatasi komunikasi dengannya. Well, Hazel tidak mau membuat kepalanya pusing memikirkan hal itu, jadi dia memilih untuk bersikap seperti biasa.

Sebelum ke lapangan untuk senam, Dion mengumpulkan mereka semua di ruang tengah Posko.

"Kalian semua udah hafal gerakan senamnya, kan?"

"UDAAH!" suara mereka serempak menjawab pertanyaan Dion.

Semalam, mereka sudah latihan beberapa kali untuk senam pagi ini. Dion bilang instruktur senamnya akan dipilih secara mendadak, jadi mereka latihan sampai hafal biar tidak malu-maluin kalau tiba-tiba ditunjuk.

"Okay, gue udah diskusi sama Dion. Yang jadi instruktur: Jevian, Hazel, Nadya, sama Jian," ujar Wahda santai.

Reaksi mereka pun beragam. Yang tidak ditunjuk jelas bersyukur. Jevian dan Hazel terlihat santai, sementara Jian menggerutu, dan Nadya langsung merengek minta tukar dengan orang lain.

"Eh! Gak boleh, gak boleh! Hazel gak boleh jadi instruktur!" suara Chakra tiba-tiba memotong.

"Lah? Lo kenapa, Chak? Gue aja gak ada masalah," Hazel menoleh dengan dahi berkerut.

"Tau nih si Chakra, obatnya habis kali," Malik menyenggol lengan Chakra dan berbisik dengan nada menggoda. "Chak, biarin aja kenapa sih? Sekali-kali berbagi."

Chakra menghela napas, lalu menatap Hazel dengan ekspresi datar. "Anggora, lo gak sadar pantat lo besar? Kalau lo jadi instruktur di depan, orang-orang bakalan salah fokus."

Hening sejenak.

"HAHAHAHA!" tawa meledak di antara mereka. Beberapa sampai menepuk paha saking kerasnya tertawa. Sementara itu, wajah Hazel langsung memerah.

Gak pikir panjang, ia meraih tumbler minumnya dan PLAK!—menhantamkannya ke kepala Chakra dengan nyaring.

"ANJING YA LO, CHAKRA!"

Setelah Hazel hantam kepala Chakra dengan tumblernya, cowok itu meringis sambil mengusap pelipisnya yang berdenyut. Tapi alih-alih marah, dia malah nyengir santai, "Demi kebaikan lo, Anggora," katanya dengan nada sok bijak.

"Demi kebaikan gue dari mananya, babi??!"

Chakra menggeleng, masih dengan senyum menyebalkan. "Gue serius. Lo jadi instruktur, orang-orang bukannya fokus senam malah fokus ke yang lain, apalagi babi-babi kayak Malik dan sejenisnya. Gue cuma nyelamatin lo dari jadi pusat perhatian nggak perlu."

Tawa teman-teman mereka kembali meledak. Jian menepuk-nepuk bahu Hazel dengan simpati, sementara Bagas dan Malik hampir kehabisan napas menahan tawa.

"CHAKRA, GUE HANTAM LAGI LO YA!" Hazel ngangkat tumblernya lagi, siap menyerang.

Chakra mundur selangkah dengan tangan terangkat. "Eh, eh! Gue kan cuma peduli sama lo, masa gitu aja marah?"


𝐊𝐊𝐍Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang