Sawah Bang Ian luasnya hampir tiga hektar, dan sekali panen, dia bisa dapet duit puluhan sampai ratusan juta. Selain sawah, dia juga punya beberapa perkebunan yang hasilnya nggak main-main. Bisa dibilang, Bang Ian salah satu orang paling tajir di desa ini.
Tapi walaupun duitnya banyak, dia nggak cuma duduk santai di rumah. Buat ngurus sawah dan kebun, dia lebih milih ngegaji warga desa. Sementara dia sendiri, kerja di kecamatan biar tetap sibuk.
Cuma, khusus hari ini, Bang Ian sengaja nggak pergi kerja. Katanya sih mau nemenin anak-anak KKN turun ke sawah. Tapi niat sebenarnya tuh mau sekalian show off di depan si kucing anggora.
Jam delapan pagi, mereka udah siap di sawah, ditemani beberapa anak karang taruna dan tentunya Bang Ian. Hampir semua anak KKN turun ke lumpur buat nanem padi, kecuali tiga orang: Gina, Nadya, dan Hazel.
Gina sibuk ngedokumentasiin momen, sementara Hazel sama Nadya punya sejuta alasan buat nggak turun—mulai dari takut cacing, geli, nggak suka bau lumpur, sampe alasan paling klise: "Nanti bajunya kotor." Akhirnya, mereka cuma bantuin Gina sambil jadi supporter, nyemangatin yang lain dari pinggir sawah.
Dua jam berlalu, mereka istirahat dan kumpul di bale bambu pinggir sawah, makan gorengan dan buah-buahan yang Bang Ian sediain.
Keringetan, kotor, tapi puas.
Tapi, Hazel milih menyendiri. Bukan karena nggak mau gabung, tapi karena alasan simpel: temen-temennya bau lumpur dan keringat. Daripada nanti dia manyun gara-gara sensitif sama bau, mending duduk di bawah pohon sendirian, makan apel yang tadi dikupasin Dion.
Baru juga nikmatin gigitan ketiga, suara familiar terdengar di sampingnya.
"Boleh gabung nggak, Hazel? Saya udah bersih kok."
Hazel menoleh. Bang Ian berdiri di sana, bawa pisang di tangannya dan wajah yang segar setelah cuci muka di pancuran sawah. Hazel meliriknya sebentar sebelum akhirnya mengangguk.
"Silakan, Bang."
Bang Ian duduk santai di samping Hazel, mulai mengupas pisangnya. Sementara itu, perhatian Hazel justru teralihkan ke tato-tato yang memenuhi lengan Bang Ian. Hari ini dia pakai kaus tanpa lengan, memperlihatkan tinta-tinta yang menghiasi kulitnya.
Hazel memiringkan kepala, penasaran. "Bang Ian kok bisa suka tato? Emang nggak sakit?"
Bang Ian menyeringai kecil. "Sakit sih. Tapi saya suka."
"Bang Ian buat tato di mana? Emang di sini ada tempatnya?" Hazel mengernyit, soalnya setahunya nggak mungkin ada studio tato di desa terpencil ini.
"Nggak ada. Saya buat tato-tato ini di Singapura, kebetulan saya punya langganan di sana."
Hazel mengangguk pelan. "Bang Ian pernah ke luar negeri?"
"Beberapa kali, kalau senggang dan lagi pengen aja."
Hazel semakin penasaran. "Uang Bang Ian banyak, kok masih milih tinggal di desa? Kenapa nggak pindah ke kota aja? Gue baru beberapa hari di sini udah nggak sanggup."
Bang Ian menatap Hazel, sudut bibirnya terangkat dalam senyum yang sulit ditebak. "Belum ada alasan buat menetap di kota," katanya tenang. Lalu, dia menambahkan dengan nada yang lebih pelan tapi penuh arti, "Tapi sepertinya segera ada."
Sebelum Hazel sempat mencerna maksud dari kata-kata Bang Ian, suara lain tiba-tiba memotong.
"Woi!"
