Hola, lama tidak bersua. 🫶
Nyoh, extra chapter pendek. Settingnya pas mereka baru-baru pacaran yaaa.
~
Sudah hampir jam tiga pagi ketika Sabrina menemukan si cowok: setengah tertidur tapi tetap duduk tegak di sofa, dengan TV yang masih memutar film yang sekali lirik saja terlalu berat untuk ditonton dini hari begini.
Sabrina tidak repot-repot meminta maaf kali ini. Dia hanya berdiri di ujung koridor, tangan terlipat di dada, kaus kebesaran milik Zane menjuntai longgar di panggul.
Sesaat, tidak ada yang bicara. Seperti saling menunggu siapa yang akan menyerah duluan.
"Nggak mau pindah ke kamar?" Tentu saja Sabrina yang kalah—karena dalam hati dia merasa bersalah. Selain itu, ini kan apartemen Zane! Masa iya, tamu ongkang-ongkang di kamar, sedangkan tuan rumah malah terusir ke ruang tamu??
Zane mendengus pelan, kayak anak kecil. "You kicked me out."
"Mana ada aku ngusir? Aku kan cuma—" Sabrina memotong kalimatnya sendiri, memutar bola mata, lantas mendesah. "Kan Abang pergi duluan sebelum aku kelar ngomong."
"Oh, tadi itu ngomong, ya? Bukan ngomel?"
Sabrina berdecak. Mencebikkan bibir.
Sadar keributan ini nggak akan ada habisnya, dia pun melangkah mendekat dan berhenti di belakang sofa. Sambil menekan ego dalam-dalam, dia membungkuk, merangkul bahu ayang dari belakang. Erat-erat—biar sekalian kecekek dikit.
Zane tidak menepisnya, tapi juga tidak menoleh. Masih pasang wajah kaku.
Sabrina sebenarnya ilfil dengan sisi Zane yang ini: kabur kalau merajuk. Bukannya diselesaikan dengan komunikasi yang baik, selayaknya orang dewasa. Well, ehem, she's not exactly the adult in the house, tapi kaaan ... dia nggak sedrama Zane.
"Bang ...."
"No." Bantahan Zane diucapkan dengan muka datar, tapi terdengar menusuk. "Don't Bang me."
Entah kenapa Sabrina yang tadinya agak kesal, sekarang jadi cengengesan sendiri. Kumat isengnya, dia mempererat pelukan dan mencari ceruk leher Zane, berbisik di sana, sampai si cowok kesusahan menahan geli, "Aku udah ngantuk, nih. Tapi nggak mau bobo sendirian. Wangi reed diffuser-nya serem ...."
"You are an idiot." Zane mendorong muka Sabrina jauh-jauh saat dia tertawa.
Sabrina menjauh, tapi bukannya benar-benar menyingkir, dia malah cuma memutari sofa dan dengan pedenya menjatuhkan diri di pangkuan si cowok—yang sebenarnya masih setengah ngambek.
"I'm not gonna say sorry for something I didn't mean to mess up," ujar Sabrina sok imut. Jemarinya merayap ke kerah piyama Zane, menyentuh lehernya. Agak kesal sedikit, kenapa ni cowok pakai bajunya proper abis malam ini?? Biasanya juga telanjang dada dan pake boxer brief doang, even nggak sedang otw ke tempat tidur.
He would wander around the apartment like that. Bikin perut Sabrina anget-anget gimana gitu.
"But I will say sorry for being an asshole about it," lanjutnya, sambil mesem secantik mungkin.
Zane mendengus pelan—reaksi yang paling mendekati ketawa, kalau sedang jaim. Tapi, tangannya tau-tau bergerak begitu saja ke kedua sisi pinggang Sabrina. Ibu jarinya mengelus lembut permukaan kaos yang halus.
"Fine," gumamnya, dengan tampang masih sok jual mahal. "Accepted."
Kontan Sabrina meringis kesenengan.
Dengan mudahnya, dia mencondongkan tubuh ke depan dan mengecup singkat sebelah pipi cowok di hadapannya.
Zane memutar bola mata.
"Dih." Sabrina sengaja menghina, karena tahu betul apa maksud dari ekspresi itu. "Gendong dulu, balik ke kamar. Siapa suruh bikin aku capek-capek nyusul ke sini?"
"Capek, emang berapa langkah?"
"A lot. I am fragile, you know? Ni kaki udah mengabdi ke Relevent seharian tadi. Nggak selayaknya disuruh jalan-jalan lagi jam segini."
Zane geleng-geleng kepala. Menghela napas panjang. Kedua tangan naik ke pipi cewek menyebalkan di pangkuannya itu, menekannya seperti squishy, lalu mengecup bibirnya dengan gemas.
"Ayo ke kamar," rengek Sabrina.
"Iya." Zane mengangguk.
"Sekarang."
Tapi Zane tidak langsung bergerak, karena tangan Sabrina yang tadi berada di balik lehernya, kini telah merambat ke belakang kepala. Menenggelamkan jari-jari ke sela-sela rambutnya.
Zane tidak melawan. Tidak juga pura-pura menolak.
"Abang tuh kayak anak kecil banget kalo lagi ngambek," desis si cewek.
Zane tersenyum miring. "Nggak salah? Siapa yang minta dipangku? Minta digendong?" Suaranya agak capek, tapi nada ketusnya mencair begitu bibir Sabrina menyentuh rahangnya.
"Ya, berarti kita sama-sama kayak anak kecil."
Zane mendengus kecil. Saat ciuman Sabrina menemukan miliknya, mereka sama sekali tidak terburu-buru. Zane bisa merasakan permintaan maaf yang terlalu gengsi untuk diucapkan, yang sebenarnya tidak sungguh-sungguh dia minta.
Sebagai balasan, dia menarik Sabrina lebih dekat dan memperdalam pagutan mereka.
[]
KAMU SEDANG MEMBACA
Warning: Physical Distancing! [COMPLETED]
Humor[CHAPTER MASIH LENGKAP, EXTRA CHAPTER TERSEDIA DI KARYAKARSA] Sembari menunggu jadwal wisuda, Sabrina memutuskan menerima tawaran bekerja sementara di Event Planner startup milik seniornya di kampus. Tentu saja, dia nggak berharap banyak. Berurusan...
![Warning: Physical Distancing! [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/214683785-64-k946237.jpg)