Pagi itu, rumah keluarga Jung terasa jauh lebih tenang dari biasanya. Terlalu tenang, pikir Taeyong, saat ia melangkah keluar dari kamarnya. Biasanya, di jam segini, suara Mark yang nyaring sudah memenuhi setiap sudut, entah sedang berlarian rebutan remote TV dengan Jeno, atau melompat-lompat di sofa sambil meniru gerakan superhero favoritnya. Hari ini, hanya desiran AC yang terdengar, ditambah dengkuran halus dari si bungsu, Sion, yang masih pulas di boks bayinya.
Taeyong melirik jam dinding. Pukul sembilan. Jeno seharusnya sudah sibuk menyiapkan sarapan cereal-nya sendiri, sementara Beomgyu dan Sungchan mungkin sudah terlibat argumen sengit tentang siapa yang paling cepat menghabiskan camilan kemarin malam. Namun, suasana hening yang janggal ini membuat naluri keibuannya berbisik: Ada sesuatu yang tidak beres.
Ia berjalan menuju dapur, menemukan Jeno duduk termenung di meja makan, mangkuk cereal-nya masih kosong. “Kenapa, sayang?” tanya Taeyong lembut, mengusap rambut cokelat Jeno.
Jeno mendongak, matanya sedikit sayu. “Abang belum bangun, Bubu. Biasanya dia yang bangunin kakak buat sarapan.” Suara Jeno terdengar lebih pelan dari biasanya, kehilangan keceriaan khas anak sepuluh tahun yang tak pernah kehabisan energi.
Taeyong mengernyit. Mark adalah anak sulung mereka, si sulung yang selalu paling bersemangat dan paling awal bangun. Ia segera menuju kamar Mark, hati kecilnya mulai dipenuhi kekhawatiran. Ketika membuka pintu perlahan, ia langsung disambut oleh pemandangan yang mengonfirmasi firasat buruknya.
Mark meringkuk di bawah selimut tebal, hanya kepalanya yang menyembul. Beberapa tisu berserakan di sekitar kasur, menandakan perjuangan semalam yang tak terlihat. Wajahnya memerah, napasnya terdengar berat dan sedikit tersengal. Matanya tampak sedikit berair, bukan karena menangis—tapi karena demam yang cukup tinggi, Taeyong bisa melihatnya dari kerutan di dahinya yang berkeringat.
“Markie… kenapa kamu nggak bilang dari semalam?” Taeyong duduk di pinggir kasur, tangannya terulur untuk menyentuh dahi anaknya dengan lembut. Sentuhan itu mengonfirmasi dugaannya: tubuh Mark terasa panas, lebih panas dari yang ia bayangkan.
Mark menggigit ujung selimutnya, lalu menjawab dengan suara lemah yang nyaris tak terdengar, “Soalnya… kalau abang bilang, nanti Bubu nggak bisa tidur nyenyak…” Matanya yang biasanya penuh binar kini tampak sayu, mencerminkan kejujuran yang polos.
Hati Taeyong mencelos. Ia tahu Mark adalah anak yang sangat perhatian dan peka, selalu berusaha menjaga perasaan orang di sekitarnya. Namun, melihatnya menyembunyikan rasa sakit demi dirinya membuat Taeyong merasakan perpaduan antara kehangatan dan kesedihan. Ada lelah di matanya, tentu saja—seperti semua orang tua dengan lima anak kecil—tapi juga penuh kasih yang tak terhingga. Ia mengusap poni Mark yang basah oleh keringat.
“Sayang… Bubu lebih tenang kalau abang cerita, daripada begini. Kalau abang sakit, Bubu harus tahu supaya bisa bantu, ya?” Taeyong mencoba menahan suaranya agar tetap lembut, meski dalam hatinya ia sudah merencanakan serangkaian tindakan: mengukur suhu, menyiapkan kompres, dan menghubungi dokter.
Belum sempat Mark menjawab, pintu kamar tiba-tiba terbuka dengan sedikit berdebam. Jeno muncul di ambang pintu, membawa sekotak es krim ukuran keluarga di tangannya. Wajahnya cemberut, seolah merasa bersalah karena tidak bisa menghibur abangnya dengan cara yang benar.
“Abang, lagi sakit ya? Nih, mau es krim?” tanya Jeno dengan suara berbisik yang terlalu keras, seolah takut mengganggu tapi pada saat yang sama sangat ingin Mark tahu tentang hadiah istimewanya. Ia mengangkat kotak es krim itu tinggi-tinggi, berharap bisa memancing senyum di wajah kakaknya.
“JENO!” seru Taeyong refleks, membuat Jeno terkejut hingga sedikit melompat mundur. Suara Taeyong, meskipun tidak dimaksudkan untuk memarahi, tetap membuat anak itu menciut. “Orang demam jangan dikasih es krim, sayang! Nanti malah tambah parah.” Taeyong berbisik, namun nadanya tegas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet Memories.
Teen FictionTentang keluarga yang memiliki berbagai momen yang menyenangkan untuk dikenang bersama.
