Pagi itu, suara Bunda terdengar lantang dari arah dapur.
"Rakha, Mala berangkat bareng kamu ya!"
Rakha yang tengah duduk di ruang tengah, memainkan ponselnya langsung melirik malas ke arah sumber suara.
"Loh , kan dia bisa bawa motor sendiri Bun" protesnya setengah ogah-ogahan.
Dari dalam kamar, Mala yang baru selesai mengikat rambutnya ikutan nimbrung.
"Iya Bun ,aku bawa motor sendiri aja"
Tapi Bunda tak kehabisan alasan.
"Motornya mau dibawa Ayah ke bengkel, kemaren kata Mala ban nya bocor jadi biar nanti Ayah yang bawa aja ke bengkel"
Mala spontan berkerut kening, heran.
"Loh, Ayah udah pulang bun?"
"Udah tadi malem nak" jawab Bunda, santai sambil tetep ngaduk sup di dapur.
Mala cuma bisa manyun. Rakha di sisi lain mendengus, menghela napas panjang, tapi di sudut bibirnya tersungging senyum tipis. Entah kenapa, kata "bareng" yang dilontarkan Bunda tadi semacam bikin sesuatu bergetar pelan di dadanya.
"Yaudah yaudah, siap bu Boss" balasnya sambil bangkit dari duduk.
Tak lama, Mala keluar dari kamar. Tas ransel kecil tersampir di punggungnya, jaket oversize abu-abu membalut tubuhnya, dipadukan celana jeans dan sneakers putih. Rambutnya diikat kuda. Gaya santai yang entah kenapa selalu berhasil kelihatan manis di mata Rakha meski tentu saja gengsi mencegahnya buat bilang.
Entahlah, Sejak kejadian beberapa waktu lalu saat Mala kepergok tengah menangis di kamarnya dan saat adegan canggung namun romantis itu terjadi ,ada rasa ingin melindungi Mala yang semakin kuat di hatinya. Bukan sekadar karena dijodohkan, bukan karena formalitas, dan bukan karena rasa bersalah tapi karena tanpa sadar, Mala sudah jadi seseorang yang ingin selalu dia jaga.
Mala buru-buru menuju pintu, sambil setengah berbisik ke dirinya sendiri.
"Gue naik ojek ajadeh"
Tapi baru sempat pegang gagang pintu, Bunda muncul sambil bawa kotak bekal.
"eh eh bareng Rakha aja nak, kan Campingnya juga barengan"
Tatapan Bunda yang penuh kode maut itu mampu membuat Mala langsung terdiam. Mau protes, tapi percuma. Akhirnya dia hanya mendesah pelan, lalu berjalan malas-malasan ke arah motor Rakha yang terparkir di depan rumah
"Rakha cepetan nakk" katanya ketus, tanpa menoleh.
Rakha nyengir, langsung naik duluan ke motor. Begitu Mala ingin naik, Rakha iseng menggoyang-goyangkan motor pelan.
"Woi jangan goyang goyang dong bego!" teriak Mala, panik sambil otomatis megang bahu Rakha.
Rakha langsung tertawa, senang melihat reaksi Mala yang spontan.
"eh belum jalan aja udah pegang pegang. Gimana nih?" godanya.
“Biarin lo jatoh juga nih, Bangke!” geram Mala, pura-pura ingin mencubit tapi akhirnya hanya mengelus dadanya sendiri.
" Kita berangkat ya Bun" pamit Mala tanpa lupa mencium punggung tangan Bunda walaupun sudah duduk di atas motor, Rakha mengikutinya
"Iya hati-hati bawanya Rakha ,Calon mantu Bunda jangan sampe lecet harus selamat sampai tujuan" peringat bunda
"iya iyaa si paling anak kesayangan Bunda, Rakha mah apa atuh" dengus Rakha sedikit kesal
Motor pun akhirnya melaju di jalanan yang masih agak lengang. Angin pagi terasa lumayan dingin, menusuk kulit. Di tengah perjalanan, tiba-tiba tangan Mala tanpa sadar menyentuh lengan jaket Rakha dari belakang. Refleks, seperti cari pegangan.
Rakha yang peka langsung menyadarinya, tapi tetap fokus ke jalan, senyum tipis mengembang.
“Kedinginan ya?” tanyanya pelan tanpa menoleh.
“Enggak,” jawab Mala cepat, lalu buru-buru menarik tangannya. “Kaget tadi… anginnya kenceng.”
KAMU SEDANG MEMBACA
-RKHD-
Teen FictionMala Aurora, gadis tomboy yang di pertemukan dengan seorang Rakha Danishwara yang notebane nya adalah kakak kelasnya di sekolah. Lelaki berandalan dengan segala tingkah nakalnya, rambut acak-acakan, dasi yang di ikat di lengan tangan kanannya, dan j...
