20

691 47 7
                                        

Malam harinya di lokasi camping.

Api unggun sudah lama padam. Hanya sisa bara merah redup di tengah lapangan, seperti detak jantung pelan di antara gulita hutan pinus. Udara dingin mulai menusuk, menusap kulit, menusuk tulang.

Rakha duduk sendirian di bangku kayu, jaketnya dikancing sampai leher, kedua tangan dimasukkan ke saku. Pandangannya kosong ke arah langit malam yang bertabur bintang, seolah mencari sesuatu yang tak bisa dia temukan di bumi.

Dari kejauhan, terdengar suara ritsleting tenda terbuka. Mala keluar pelan-pelan, membawa termos kecil yang masih mengepulkan uap tipis. Dia sempat ragu saat melihat Rakha duduk sendirian, tapi entah kenapa kakinya tetap maju.

“Ngapain, gak tidur?” tanyanya pelan, suaranya nyaris tertelan angin malam.

Rakha menoleh sebentar, senyum tipis. “Belom ngantuk.”

Mala diam sebentar sebelum akhirnya duduk di sebelahnya, jarak setengah meter. Canggung. Tapi tak seberapa dibanding apa yang udah mereka lewati belakangan ini.

“Gue bikinin teh anget,” katanya, menyodorkan cangkir. “Mau gak?”

Rakha ngelirik, lalu mengambil cangkir tanpa banyak omong. Diminum pelan. “Lumayan,” gumamnya.

Suasana kembali hening. Yang terdengar cuma suara jangkrik dan desir angin di sela-sela dedaunan. Udara dingin membuat napas mereka terlihat di udara.

Mala menatap api yang tinggal bara, lalu membuka suara.
“Rakha…”

“Hm?”

“Lo kenapa sih… belakangan kayak… berubah.”

Rakha tak langsung menjawab. Dia menunduk, jari-jarinya memutar mutar gagang cangkir.

“Gak kayak Rakha yang dulu selalu nantangin gue. Sekarang malah lo jadi sering godain gue, aneh tau nggak"
Mala menarik napas kasar. “Dan gue… gue jadi gak ngerti lo.”

Rakha tertawa pelan, suara beratnya terdengar tenang tapi dalam.
“Gue juga sebenernya males ribet sama beginian, Mal. Perjodohan lah, drama lah.Tapi setelah kejadian kemarin itu…”
Dia berhenti sebentar. Tatapannya turun ke tanah.

Mala ikut diam. Dia tahu kejadian mana yang dimaksud. Malam itu. Waktu dia hampir jadi korban orang asing yang sama sekali tak ia kenal. Kalau saja Rakha tak datang tepat waktu… Mala bahkan tak berani membayangkan. Kejadian itu berputar kembali di kepala Mala, bak kaset rusak yang terus berputar di kepalanya.

“Waktu lo hampir kejadian, gue ngerasa bego aja kalo cuma diem. Kayak, ya selama ini gue pikir gak ada urusan, bukan urusan gue lah, bodo amat lah. Tapi pas liat lo kayak gitu… gue sadar, ternyata ada hal yang gak bisa gue anggap sepele.”

Rakha menoleh ke arah Mala, matanya dalam,hangat, tapi kali ini ada sesuatu yang tak pernah Mala lihat sebelumnya. Luka Dan rasa bersalah.

“Gue cuma gak pengen lo ngerasa sendiri di hidup ini. Mau apapun status kita… lo tetep orang yang gue bakal jagain. Bukan karena perjodohan atau rasa bersalah, tapi karena gue pengen.”

Mala menahan napas. Hatinyanya bergetar.

“Kenapa baru ngomong sekarang?” suaranya nyaris bisik.

Rakha senyum kecil, matanya balik ke langit.
“Gue takut lo ilfeel.”

Mala tertawa pelan, matanya sedikit berkaca-kaca tapi dia tahan. “Ya udah keburu ilfeel sih… sama sikap ngeselin lo itu.”

Rakha mengangguk pelan. “Yaudah, ilfeel aja. Tapi tetep gue jagain.”

Mereka diam lagi. Tapi kali ini bukan canggung, namun nyaman.

Mala pelan-pelan menyandarkan dagunya di lutut, pandangannya ke arah bintang-bintang di atas sana. Angin dingin makin menusuk, tapi ada sesuatu di dadanya yang hangat

-RKHD-Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang