29. Curiga

113 2 1
                                        

Seorang gadis tengah duduk bersama seorang pria paruh baya. Dengan meminum secangkir kopi.

Gadis itu menghela nafas kasar. Merasa keberatan dengan pembicaraannya dengan pria di hadapannya yang merupakan sang ayah.

"Pa, aku keberatan kalo sampe gitu. Aku nggak tega sama mereka, Pa!" bantah gadis itu.

Papanya mengusap rambut putrinya lembut. "Papa juga tidak mau ini terjadi. Kamu tau bukan Papa dan orang tua mereka berteman baik. Jika bukan karena tekanan Mr. L juga Papa tidak akan begini," jawab Papanya panjang lebar.

Mata gadis itu berkaca-kaca. Ia sungguh lelah menghadapi semua ini. Ia ingin memberontak namun takut.

"Sabarlah, Papa akan cari solusinya," ucap Papanya seraya memeluk putri kesayangannya.

"Aku harap kita segera menemukan solusinya, Pa. Aku nggak bisa kalo terus gituin mereka," balas gadis itu dengan air mata yang menetes.

Dering ponsel membuat mereka terkesiap. Sang Papa mengeluarkan ponselnya yang berdering kemudian terdiam.

"Lagi, Pa?" tanya gadis itu lemas.

Papanya mengangguk pasrah. "Mau tidak mau, nak."

***

Masih sepagi ini di hari Minggu, Xiella sudah membuka matanya. Padahal waktu masih menunjukkan pukul enam pagi, sedangkan biasanya di hari Minggu Xiella akan bangun pukul sepuluh.

Hal ini lantaran Arsen yang datang ke rumahnya, memaksa gadis itu untuk berlari pagi di sekitar komplek.

Saat ini mereka tengah berjalan menuju taman komplek, tempat biasa orang-orang berlari.

"Kenapa sih lo ajak gue, biasanya juga sama Elang!" protes Xiella yang tak terima waktu tidurnya diganggu.

"Biar produktif hari lo. Jangan tidur mulu," jawab Arsen.

Xiella berdecak dengan menghentakkan kakinya kesal. Arsen yang melihat itu pun terkekeh gemas.

"Udah ayo pemanasan dulu," ajak Arsen.

"Yayayaya," jawab Xiella seraya melakulan pemanasan dengan malas.

"Yang bener, cidera ntar lo!" tegur Arsen saat melihat Xiella melakukan pemanasan dengan malas.

Mendapat teguran dari Arsen, Xiella pun cemberut. Namun tak urung ia melakukan pemanasan dengan sungguh-sungguh.

Setelah melakukan pemanasan, mereka pun berlari mengelilingi taman komplek. Sudah lima putaran, Xiella berhenti karena merasa lelah.

"Berhenti dulu, Acen. Gue capek," pinta Xiella.

Arsen mengangguk. Ia mengajak Xiella untuk duduk di salah satu kursi taman. Ia memberikan minum pada gadis itu.

Xiella tersenyum menerima minum dari Arsen. "Makasih," ucapnya.

Arsen mengangguk singkat. Cowok itu mengusap keringat yang menetes di wajah Xiella. Meski dalam keadaan berkeringat, Xiella masih saja begitu cantik.

"Cantik banget," pujinya pada Xiella.

Sedangkan yang dipuji tersenyum malu. "Apaan sih, pagi pagi udah gombal!" balasnya dengan salah tingkah.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 09 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

My Naughty ExCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang