"jarak yang terasa aneh"

801 45 1
                                        

୨୧ ──── ✦ 𝒘𝒆𝒍𝒄𝒐𝒎𝒆 ✦ ──── ୨୧

hii dear reader ♡
makasih sudah mampir di cerita ini…
a place where feelings are louder than words ✧

di sini, mungkin kamu akan menemukan
hangat yang sederhana…
atau luka yang diam-diam terasa

꒰ ⚠️ warning ⚠️ ꒱
cerita ini mengandung:
↳ boy love (BL)
↳ system & transmigrasi ke dunia novel
↳ unsur harem
↳ konflik emosional & angst
↳ hubungan fiksi yang tidak selalu sempurna

• sedikit jokes yang garing…
  jadi kalau kamu nggak ketawa, itu normal kok 😔✋

• kalau nemu typo, feel free to kasih tau yaa 😭

please read at your own comfort ♡
kalau terasa berat, it’s okay to skip

୨୧ ──── ✦ 𝒆𝒏𝒋𝒐𝒚 ✦ ──── ୨୧

this isn’t just a story about love…
but about choices, fate, and everything in between

maybe he’ll find his place…
or maybe he’ll get lost in the story

but for now, stay a little longer
and feel it with them ♡

with love,
— author ♡

୨୧ ──── ✦ ──── ✦ ──── ୨୧

angin sore bertiup pelan di belakang sekolah.
tempat itu sepi, cuma ada suara daun dan langkah kaki murid yang sesekali lewat.

Felix masih duduk di bangku taman, kepalanya bersandar di bahu Nio.
matanya terpejam, napasnya tenang, seolah dunia di sekitarnya sudah tidak penting.

Nio mengelus rambut Felix pelan.
gerakannya hati-hati, takut kalau Felix tiba-tiba bangun dan kembali ke sikap dinginnya.

“Abang kenapa sih…” gumam Nio kecil.

Felix tidak menjawab.
tangannya malah melingkar di pinggang Nio, sedikit lebih erat dari sebelumnya.

saat itu—

(Tuan.)

suara Sumbul terdengar lagi di kepala Nio.
nada suaranya berbeda.
tidak seceria biasanya.

‘kenapa, Mbul?’ batin Nio.

(anda… terlalu dekat dengannya.)

Nio berhenti mengusap rambut Felix.

‘terlalu dekat gimana maksudmu?’

(seperti itu tidak baik.)

Nio mengernyit.

‘loh? biasanya kamu cuek’

‘kenapa sekarang malah ngomel?’

hening sebentar.

Felix bergerak sedikit, wajahnya makin menempel di leher Nio.
napas hangat itu bikin Nio refleks menahan napas.

(Tuan…)
(kalau anda terus begini…)

‘terus kenapa?’ potong Nio dalam hati.

jawaban Sumbul terlambat.

(aku cuma khawatir.)

jawaban itu…
aneh.

Sumbul jarang bilang “khawatir”.

‘kamu kenapa sih?’
‘dari tadi bahasamu beda.’

(maaf.)

satu kata itu bikin Nio makin bingung.

‘kenapa minta maaf?’

(tidak apa-apa. lupakan saja.)

Nio terdiam.
dadanya terasa tidak enak, seperti ada yang ganjel.

Felix akhirnya membuka mata.
tatapannya turun ke wajah Nio.

“kamu melamun lagi” ucapnya pelan, bukan tanya.

“sedikit” jawab Nio jujur.

Felix menghela napas, lalu mengusap punggung Nio.

“jangan dengerin omongan siapa pun” katanya rendah.

“selama sama abang, kamu aman.”

kata itu bikin Nio terdiam.

aman…

kenapa justru bikin tidak nyaman?

beberapa menit kemudian, Felix berdiri dan menarik tangan Nio.

“ayo balik” ucapnya singkat.

Nio mengangguk dan mengikuti.

di dalam kepalanya, Sumbul terdiam lama.

terlalu lama.

‘Mbul?’ panggil Nio pelan dalam hati.

tidak ada jawaban.

langkah Nio melambat.

‘kamu marah?’

akhirnya—

(aku cuma takut.)

suaranya terdengar lirih.
tidak seperti biasanya.

‘takut kenapa?’

(jika anda terlalu nyaman dengan mereka…)

kalimat itu terhenti.

Sumbul seperti ragu melanjutkan.

(aku takut anda tidak butuh aku lagi.)

langkah Nio berhenti sepenuhnya.

dadanya terasa sesak.

‘kamu kan cuma sistem…’

‘kenapa ngomong kaya gitu?’batin nio bertanya

hening.

tidak ada jawaban.

Felix menoleh.

“kenapa berhenti?” tanyanya.

“gapapa” jawab Nio cepat, lalu berjalan lagi.

tapi di dalam kepalanya, pikiran Nio berantakan.

untuk pertama kalinya—

ia merasa Sumbul tidak cuma sekadar penunjuk jalan.

dan perasaan itu…
membuatnya takut.

Our Cute Boy [BL]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang