Chapter 112🌺

411 31 0
                                        




Liu Wenhua menatap tungku perapian di hadapannya, sedikit demi sedikit ia memasukkan kertas arwah (jīnzhǐ (金纸)) ke dalam bara api. Sorot matanya kosong menatap bara api yang membawa abu kertas. Ada jejak air mata yang jelas di kedua pipinya. Bahkan bekas kemerahan dapat terlihat jelas di kedua ujung mata persiknya. Ketika kertas tersebut telah berubah menjadi abu, Liu Wenhua memasukkan segenggam kertas arwah lainnya. Omega dengan perut membuncit itu melakukan kegiatannya dalam diam.

Aula utama Kediaman Bangsawan Liu telah diubah menjadi ruang duka sejak kabar kematian Liu Kangjian datang 3 hari yang lalu. Tirai sutra putih menggantung dari balok-balok kayu tua, menjuntai hingga hampir menyentuh lantai kayu yang dingin.

Di tengah ruangan, altar persembahan berdiri menghadap pintu utama. Di atasnya tersusun dupa yang terus menyala, cahayanya bergetar, memantulkan bayangan panjang di dinding. Sedangkan di belakangnya, sebuah peti kayu berat diletakkan. Membawa aura bisu yang menyedihkan. Terutama ketika semua orang mengetahui fakta bahwa didalamnya tidak terbaring tubuh seseorang. Melainkan sebuah pedang rusak* yang telah kehilangan pemiliknya. Di hadapan peti mati tersebut, sebuah tablet roh (灵位 (língwèi)/ papan arwah) memantulkan lembut cahaya lilin yang berpendar.

*以物代身 (yǐ wù dài shēn) "menggantikan tubuh dengan benda" - Dalam kepercayaan lama, selama benda itu pernah menyatu dengan hidup dan niat seseorang, roh dianggap akan mengenalinya sebagai jangkar.

Bau kayu cendana bercampur dengan abu kertas arwah yang hangus, menciptakan aroma pahit yang menempel di dada. Lentera-lentera putih digantung rendah, cahayanya redup dan kekuningan, seolah sengaja dibuat tak mampu menerangi sepenuhnya. Lantai aula bersih namun kosong, hanya tikar jerami tipis tempat keluarga duduk berjaga. Tidak ada hiasan berlebih, tidak ada warna cerah.

Karena tabu khusus terhadap orang hamil dalam mengikuti upacara pemakaman, Liu Wenhua hanya bisa duduk dengan patuh di luar aula utama. Berdiam diri tepat disamping pintu. Tubuh kecil berpakaian serba putih dengan perut membuncit itu terlihat sangat menyedihkan.

"Fūrén, Anda sudah lama berlutut disini. Bagaimana jika Anda beristirahat?" Lan Jiao datang membawa nampan berisi kudapan ringan di tangannya. Ia duduk bersimpuh di samping Liu Wenhua dan berkata membujuk. Wajah gadis itu juga tidak lebih baik dari Liu Wenhua, hanya saja tidak sekuyu ekspresi Liu Wenhua. Liu Wenhua dengan lesu menggelengkan kepalanya.

Mendapat reaksi yang sudah diperkirakan dari tuannya, Lan Jiao berkata dengan suara gemetar, "Fūrén, ingatlah Anda sedang mengandung. Jika Anda memaksakan diri seperti ini hanya akan membuat Lónglǐ-jun sedih disana..." Liu Wenhua akhirnya menoleh dan menggenggam tangan Lan Jiao.

"Jiao-er, tenang saja. Aku tahu batasan tubuhku. Kau kembalilah melakukan tugasmu. Aku akan tetap disini. Lagipula, ayah juga masih berada disini. Aku tak ingin meninggalkannya sendirian."

Baik Liu Wenhua dan Lan Jiao menoleh secara bersamaan ke dalam aula utama. Disana, Liu Kong dengan pakaian putih dan punggung tegak terlihat menghadap peti tengah memasukkan kertas arwah secara perlahan ke tungku perapian. Lan Jiao dengan berat hati mengangguk dan mengikuti perintah Liu Wenhua. Meninggalkannya sendirian lagi di depan tungku perapian. Setelah Lan Jiao pergi, Liu Wenhua melanjutkan kegiatannya untuk membakar uang kertas. Secara diam-diam ia juga akan mengintip ke dalam aula untuk melihat ayahnya.

Selama 3 hari ini, yang Liu Wenhua ingat adalah tangisannya yang tak kunjung berhenti. Terlebih lagi setelah ia tahu cerita lengkap bagaimana Liu Kangjian gugur, ia menangis sampai pingsan berkali-kali. Baru hari ini, ketika ia sudah merasa bisa mengendalikan diri ia memutuskan untuk ikut berpartisipasi dalam pemakaman kakaknya.

Dalam kurun waktu ini, tak sekalipun Liu Wenhua melihat raut wajah sedih ayahnya. Hanya ekspresi datar yang membawa tekanan dingin. Daripada berduka, ayahnya itu justru terlihat memiliki amarah. Bahkan Liu Kong yang biasanya sangat memanjakan Liu Wenhua kini tidak memandang dirinya sama sekali. Membiarkan Liu Wenhua begitu saja bersama pelayan lainnya. Melihat bagaimana sikap ayahnya, hati Liu Wenhua yang sudah terpukul oleh kematian Liu Kangjian menjadi semakin hancur. Di satu sisi ia paham jika Kekaisaran Kou sedang berada dalam status siaga perang dimana dalam masa genting ini ayahnya tidak boleh goyah. Namun, di sisi lain Liu Wenhua juga ingin agar setidaknya sang ayah bisa berduka selayaknya seorang ayah yang kehilangan putranya. Ia ingin agar Liu Kong tetap menunjukkan kasih sayangnya kepada Liu Kangjian bahkan setelah Liu Kangjian meninggal.

[SLOW UPDATE] THE GENERAL'S HATED OMEGA WIFECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang