Chapter 105🪔 : Untukmu Terkasih, Duniaku.

1.9K 55 38
                                        




Feng Yongshen mendecakkan lidahnya, dia mencengkeram liontin di lehernya dan berseru, "Liu Kangjian! Mari kita selesaikan sekarang dan selamanya!"

Cahaya terang berwarna hijau lumut menyala dengan terang, melahap medan di seluruh hutan bambu. Liu Kangjian dengan cepat merentangkan tangan kanannya, memanggil kembali Jīng xuě bái ke tangannya.

Ketika cahaya tersebut padam, dunia seolah berada dalam kesunyian yang mencekam. Namun dalam hitungan detik, keheningan itu dipecah oleh raungan mengerikan yang mengguncang langit dan membelah tanah. Seekor serigala raksasa bermata enam muncul di hadapan Liu Kangjian.

Makhluk itu menengadahkan kepalanya ke langit. Udara di sekelilingnya bergetar. Energi spiritual yang beterbangan milik langit, bumi, dan makhluk hidup terhisap, menggumpal dalam pusaran cahaya gelap di atas mulutnya.

Dan ia melahapnya, seolah menelan kehendak alam itu sendiri.

Liu Kangjian menatap makhluk itu tanpa gentar. Tubuhnya memutar sedikit, dan matanya menoleh ke belakang, menatap gerbang alam iblis. Ia memutuskan untuk menahan serangan apapun yang akan dilontarkan Feng Yongshen.

Ia tahu niat lawannya. Feng Yongshen tidak mengejar kemenangan pribadi. Ia ingin menghancurkan gerbang itu. Gerbang alam iblis sekarang telah berada di ujung tanduk, menerima serangan lain lebih jauh lagi sudah pasti akan menghancurkannya.

Jīng xuě bái digenggam semakin erat, tak goyah sedikitpun. Aura beku dari Qinglóng masih mengalir dalam urat nadinya, menyatu dengan kekuatan jiwanya yang tak bisa surut atau digertak.

Serigala raksasa itu seketika membanting kepalanya ke depan, matanya bersinar seiring mulutnya terbuka lebar-lebar. Serangan penuh energi spiritual berwarna hitam kebiruan menggulung cepat ke arah Liu Kangjian seperti tsunami dari neraka.

Mata Liu Kangjian berkilat, ia bergerak.

Tubuhnya berputar, gerakannya elegan namun tegas. Ia mengangkat Jīng Xuě Bái di hadapannya, bilahnya bergetar, lalu menyala dengan aura biru es yang tajam dan tak terukur.

Energi spiritual dari serigala itu menghantam bilah pedangnya!

Ledakan tak terlukiskan terjadi. Batu-batu terlempar. Udara terbelah. Namun tubuh Liu Kangjian tak bergeming, meski tanah di bawahnya retak dan darah kembali mengalir dari mulutnya. Di tengah badai penghancur itu, satu sosok masih berdiri tegak— mata menyala, tangan terangkat, dan Jīng xuě bái bersinar melawan gelap.

Ledakan energi dari serigala raksasa terus menghantam, menggerus perlahan perisai spiritual Liu Kangjian. Jīng Xuě Bái sudah mulai bergetar liar di tangannya. Bukan karena kelemahan, tapi karena tekanan tak manusiawi yang terus menumpuk di bilahnya. Retakan kecil mulai menjalar di sepanjang pedang itu, seperti retak-retak es di danau beku sebelum pecah.

Liu Kangjian masih berdiri. Namun lututnya mulai goyah. Tubuhnya digempur habis-habisan dari depan, dan dari belakang, Gerbang Alam Iblis yang rapuh mulai berderak. Seolah menjerit pelan, memohon perlindungan. Walau Liu Kangjian memasang badan untuk menjadi perisai, aura yang menguar dari serangan serigala raksasa itu tetap mampu memberikan efek pada gerbang alam iblis yang sudah melemah.

'Kekuatan yang diberikan Qīnglóng akan segera habis...Aku harus bertahan! Sebentar lagi...Hanya sebentar saja!'

"HAAAAARGHH!!" Liu Kangjian meraung dengan keras, mengerahkan seluruh energi spiritual di dalam inti spiritual kedalam bilah Jīng Xuě Bái. Memperkuat dan memperbesar perisai spiritual yang ia bangun.

Serigala bermata enam itu meraung kembali, dan gelombang energi kedua ditembakkan, bahkan lebih kuat dari yang pertama. Tanah yang ia pijak hancur. Bayangan kematian menyelimuti sekitarnya dalam sekejap. Liu Kangjian menggertakkan giginya, darah menetes dari hidung dan sudut matanya. Tangannya menggenggam pedang yang mulai retak sepenuhnya.

[SLOW UPDATE] THE GENERAL'S HATED OMEGA WIFECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang