Chapter 93🌺

560 37 2
                                        



Sejak kapan? Sejak kapan dirinya bisa merasa santai dan nyaman seperti ini? Tang Weiheng menurunkan pandangannya, menatap tangan dengan zirah baja yang menggenggam erat tali kekang kuda. Di sekelilingnya, sorak sorai para penduduk ibu kota yang mengantar sang jenderal untuk pergi berperang terdengar sebagai dengung tak berarti di telinga Tang Weiheng.

Aneh rasanya ketika ia memikirkan dirinya yang berinisiatif untuk mengambil tindakan seperti itu pada Liu Wenhua. Bukankah istrinya itu pada awalnya tak ingin ia lihat? Mengapa sekarang ada perasaan berat tak mengenakkan yang memerangkap hatinya ketika melepas pelukannya pada Liu Wenhua?

Alis Tang Weiheng mengerut, ketika ia melihat gerbang ibu kota yang semakin dekat. Mengapa? Mengapa ia merasakan keengganan untuk melintasi gerbang yang sudah berulang kali ia lintasi untuk berperang itu? Apa ia tidak mau pergi? Apa ia ketakutan akan pertempuran? Apa ia...

Pupil mata kanan Tang Weiheng membulat begitu ia menyadari sesuatu. Ia...tidak ingin meninggalkan rumah. Bukankah itu hanya rumah tempat dimana ia tinggal untuk makan dan tidur? Selama bertahun-tahun ini, kehidupannya berada di medan perang. Mengapa...mengapa ia merasa muak? Apa yang membuatnya tak ingin pergi?

Seketika wajah Liu Wenhua yang melepas kepergiannya hari ini terlintas dalam pikiran Tang Weiheng.

Tang Weiheng ingat bagaimana para prajuritnya akan saling membicarakan anggota keluarganya yang menunggu dirumah ketika mereka berada di barak. Tentang bagaimana orang tua, istri, atau anak mereka sedang menunggu. Raut wajah mereka selalu terlihat bahagia ketika mereka membicarakan tentang apa yang disebut sebagai 'rumah'.

Saat itu, Tang Weiheng tak merasakan apa-apa. Namun kali ini, dadanya terasa sangat sesak. Pria itu mengangkat kepala dan menatap matahari di langit.

Tang Weiheng ingat bagaimana Liu Wenhua yang setia menunggunya pulang hingga larut malam di masa awal pernikahan mereka. Istrinya itu akan memiliki wajah yang penuh dengan senyuman ketika ia melihatnya pulang kerumah. Sosok Liu Wenhua yang senantiasa mengawasinya dari jauh ketika dirinya sedang berlatih pedang di pagi hari juga menelisik ke dalam ingatan. Omega itu akan dengan tenang meletakkan kebutuhannya yang sebelumnya disediakan oleh paman Yuan dan akan menunggu dengan tenang di pinggir hingga latihannya selesai. Mau seberapa lama itu.

Yang terakhir...ketika Liu Wenhua bersikeras datang ke Yangzhou dan bahkan membantu merawat para prajuritnya yang terluka. Jiang Shi dan tabib yang mengobatinya ketika terluka mengatakan bahwa Liu Wenhua tak meninggalkan sisinya ketika ia terbaring koma.

Hari-hari mereka setelah itupun...Tang Weiheng akhirnya merasakan seperti apa rasanya diperhatikan oleh orang lain. Perasaan itu tak bisa dijelaskan namun sangat menyenangkan. Terlebih ketika orang tersebut akan menanggapinya dengan penuh kasih. Ketika Tang Weiheng berbaring di pangkuan omega itu, tangan Liu Wenhua yang kecil dan lembut terasa membujuk dirinya untuk beristirahat. Seolah memberikan kepastian bahwa ia tidak akan meninggalkannya.

Ketika Tang Weiheng membuka matanya dipagi hari dan menatap wajah tertidur Liu Wenhua, ia merasakan kedamaian yang terbentang luas di dalam hatinya. Teringat sesuatu, Tang Weiheng menarik rumbai pedang yang telah disematkan di gagang pedangnya.

Liu Wenhua bilang kepadanya bahwa rumbai ini adalah simpul hati yang menghubungkannya dengan dirinya. Dimana ia seharusnya kembali pada Liu Wenhua ketika perang ini selesai. Benar...ia akan kembali pulang...

Tang Weiheng tersentak di atas kudanya. Sebuah kata muncul di dalam hatinya ketika ia menyimpulkan kegundahan di dalam hatinya ini. Rumah. Apakah Liu Wenhua telah menjadi rumah yang sama dengan yang dibicarakan para bawahannya? Tempat dimana ia akan kembali untuk beristirahat setelah semua hari yang melelahkan?

[SLOW UPDATE] THE GENERAL'S HATED OMEGA WIFECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang