Chapter 110🌺

377 19 4
                                        





Asap tipis mengepul, berpilin malas di udara. Desahan puas seorang pria besar terdengar, kasar dan tanpa beban, "Puahh! Merokok memang yang paling nikmat!"

Pria itu kemudian bersandar di dinding batu, "Faxian Sanzo, biasanya kau juga merokok mengapa tidak bersantai sejenak?"

Tatapan Faxian Sanzo langsung menyayat. Ia melirik tajam ke arah biksu penuh otot itu, dingin dan penuh penolakan. Jelas menunjukkan bahwa kesabarannya sudah berada di batas paling tipis.

"Huineng Sanzo," ucapnya datar namun sarat tekanan, "Apa kau tak tahu malu?"

Pria besar itu adalah Sanzo penjaga Kitab Maten dari Kuil Agung 木 (Mù), Huineng Sanzo.

Asap cerutu terhenti sesaat, "Kau jelas-jelas datang sangat terlambat," Nada itu bukan sekadar teguran. Itu vonis. Di samping Fa Hien, seorang biksu berperingkat kecil yang tampak masih sangat muda tengah membalut lengan kanannya. Huineng Sanzo menghirup cerutunya, matanya kemudian melirik. Menatap sosok yang kini terbaring tak sadarkan diri di atas tempat tidur.

Tubuh itu terbaring sunyi. Wajahnya pucat, napasnya nyaris tak terlihat jika bukan karena naik-turunnya dada yang amat lemah. Aura spiritualnya kacau, seperti api yang hampir padam. Tersisa sedikit bara yang berjuang untuk tetap hidup. Itu adalah Xuan Zang Sanzo. Ia memiliki perban yang membebat lehernya, menutupi bekas cekikan Nalan You.

"Faxian Sanzo, aku tahu kau kesal karena Kitab Seiten hampir saja direnggut. Akan tetapi, jangan limpahkan seluruh kesalahan pada orang tua ini. Bagaimanapun juga transmisi darurat yang dikirimkan Kuil Agung (tǔ) 土 datang terlambat dan jarak Kuil kami sangat jauh, kau tahu hal itu bukan?" Fa Hien menggertakkan giginya, suaranya kemudian terdengar penuh dengan sinisan.

"Jarak jauh? Aku sudah memberikan alat teleportasi spiritual terbaru pada semua Kuil Agung Sanzo! Selama apapun itu, seharusnya tidak cukup lama hingga pertarungan ku selesai!" dengan kasar Fa Hien menyentakkan lengan kanannya dari tangan biksu kecil disampingnya. Tentu saja, biksu kecil yang sudah ketakutan karena tekanan luar biasa mencekam di ruangan itu segera melepaskan lengan Fa Hien dengan gemetar.

Fa Hien beranjak dari duduknya dan berjalan dengan langkah penuh amarah kearah Huineng Sanzo. Tanpa basa basi, begitu ia sampai di depan Huineng Sanzo, Fa Hien dengan kasar menarik kerah baju Huineng Sanzo dan berteriak di depan wajahnya.

"Aku memang tau jika hubungan antar Kuil Agung Sanzo tidak sebaik itu, tapi persetan! Kau tidak membantu apapun!" biksu kecil yang sebelumnya ketakutan itu kini memberanikan diri untuk melerai mereka berdua, "Fa..Faxian Sanzo, bagaimana jika anda menenangkan diri terlebih dahulu? Bagaimanapun juga tidak baik jika anda marah-marah seperti ini..."

Fa Hien menoleh dengan ganas, "Sialan, diam kau!" otak biksu kecil itu bahkan berhenti bekerja begitu dibentak oleh Fa Hien.

Huineng Sanzo memperhatikan Fa Hien yang langsung meledak dengan emosi dalam diam. Bibirnya menggigit cerutu dan membiarkan asapnya menguar dengan sembrono. Melihat sorot tatapan Huineng Sanzo, Fa Hien semakin naik pitam.

"KAU-agh!" Fa Hien hendak memaki lagi ketika akhirnya ia mengeluarkan suara tertahan. Tangan kiri Huineng Sanzo terulur mencengkeram bahunya kemudian sebuah tinju tangan kanan dilayangkan ke perutnya.

Tubuh Fa Hien tersentak sedikit ke atas, mundur beberapa langkah kemudian dengan kaku berlutut dilantai.

"Astaga, Faxian Sanzo!" seruan biksu kecil yang ketakutan itu terdengar dan ia berlari untuk membantu Fa Hien bangkit.

"Bocah, apa kau sudah tenang sedikit?" Huineng Sanzo dengan acuh membuang cerutu ke atas lantai dan menginjak baranya, "Aku hanya mencoba memecahkan suasana hatimu agar kau tidak terlalu stress. Tapi ternyata, kau lebih memilih untuk melakukan olahraga ya?" Dengan kuat Huineng Sanzo menghantamkan kepalan tangannya di depan dada.

[SLOW UPDATE] THE GENERAL'S HATED OMEGA WIFECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang