Satu jam kemudian, Mama Rayhan kembali dengan wajah sedikit berkeringat namun terlihat bangga, menjinjing sebungkus Rujak Cingur yang aromanya langsung menggoda selera.
"Ini dia pesanannya! Mama harus muter dua kali karena jalanan ditutup, tapi untung nenek penjualnya belum pulang," ucap Mama sembari meletakkan bungkusan itu di meja makan.
Rayhan segera membantu menyiapkan piring. Mereka bertiga duduk melingkar di meja makan, suasana kaku yang tadi pagi sempat terasa kini mencair sepenuhnya.
"Wah, ini beneran yang pakai cobek batu ya, Ma? Baunya sedap banget," puji Alana sembari mulai menyuap. Ekspresi bahagianya tidak dibuat-buat kali ini; rasa segar dan pedas rujak itu benar-benar mengembalikan mood-nya.
Mama Rayhan tersenyum lega melihat menantunya makan dengan lahap. Beliau kemudian meraih tangan Alana dan menggenggamnya dengan tulus. "Alana, Mama minta maaf sekali lagi ya. Mama janji, mulai sekarang nggak akan ada lagi 'Siska-Siska' lain atau siapapun yang bisa masuk ke keluarga kita kalau tujuannya buat ngerusak."
Rayhan merangkul pundak Mamanya dan istrinya secara bersamaan. "Nah, gitu dong. Kan enak kalau kita kompak begini. Oh iya, kalau nanti cucu Mama lahir, Mama harus siap ya jadi nenek siaga."
"Tentu saja! Mama sudah pesan kamar bayi yang paling bagus untuk di rumah Mama nanti kalau kalian menginap," jawab Mama antusias.
Malam itu ditutup dengan tawa hangat di ruang makan. Alana merasa kemenangannya hari ini bukan karena berhasil mengusir Siska, melainkan karena ia berhasil menyatukan kembali ikatan keluarga yang sempat renggang. Di bawah sinar lampu ruang makan yang temaram, mereka bertiga menikmati sisa rujak cingur itu—sebuah hidangan sederhana yang menjadi simbol perdamaian dan kebahagiaan baru keluarga mereka.
Rayhan berbisik pelan di telinga Alana, "Makasih ya, Sayang. Kamu hebat banget hari ini."
Alana hanya tersenyum manis, menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, merasa sangat dicintai dan dilindungi.
Sembilan bulan hampir genap. Perut
Alana sudah semakin besar dan ia mulai sering mengalami braxton hicks atau kontraksi palsu. Namun, semangatnya tidak surut untuk menyambut kehadiran buah hati mereka.
Pagi itu, kamar calon bayi mereka penuh dengan kaleng cat dan kuas. , Rayhan dan Alana memutuskan untuk mengecat sendiri kamar itu tanpa bantuan tukang.
"Mas, pelan-pelan! Itu warnanya jangan sampai kena pembatas putihnya," seru Alana sembari duduk di kursi kecil, memegang kuas kecil untuk bagian detail di sudut bawah.
Rayhan yang sedang berdiri di atas tangga kecil menoleh ke bawah. Ia memakai kaos putih polos yang sudah terkena bercak cat biru langit. "Tenang saja, Sayang. Mas ini kan ahli kalau soal presisi," candanya sambil mengedipkan mata.
Namun, bukan Rayhan namanya kalau tidak jahil. Saat Alana sedang fokus mewarnai gambar awan di dinding, Rayhan diam-diam mencelupkan ujung jarinya ke cat biru lalu memoleskannya ke hidung Alana.
"Mas Rayhan!" pekik Alana kaget. Ia menyentuh hidungnya dan melihat jarinya membiru.
"Hahaha, kamu lucu kalau hidungnya biru gitu, mirip tokoh kartun," tawa Rayhan pecah.
Alana tidak mau kalah. Ia mengambil kuasnya dan menyapukan garis panjang di pipi Rayhan. "Nih, rasain! Biar adil!"
Jadilah pagi itu penuh dengan aksi kejar-kejaran kecil yang diakhiri dengan tawa renyah. Di tengah tawa itu, Rayhan tiba-tiba menghentikan gerakannya. Ia mendekati Alana, berlutut di depannya, lalu menempelkan telinganya ke perut besar istrinya.
"Dek, lihat nih... Papa sama Mama lagi siapin istana buat kamu. Kamu yang tenang ya di dalam, jangan buru-buru keluar sampai catnya kering," bisik Rayhan lembut.
Tiba-tiba, Alana merasakan tendangan kuat dari dalam. "Aduh! Kayaknya dia setuju tuh, Mas. Dia langsung nendang kencang banget."
Rayhan tersenyum lebar, ia mencium perut Alana dengan penuh kasih sayang. Setelah sesi cat selesai, mereka mulai membongkar tumpukan kardus berisi perlengkapan bayi yang sudah mereka beli. Ada baju-baju mungil, kaos kaki yang ukurannya hanya sejempol orang dewasa, dan boks bayi yang baru saja dirakit.
"Mas, lihat deh... kecil banget ya," ucap Alana haru sembari memegang sepasang sepatu bayi mungil. "Nggak nyangka sebentar lagi kita jadi orang tua."
Rayhan merangkul Alana dari belakang, dagunya bertumpu di bahu istrinya. "Iya, Sayang. Makasih ya sudah sekuat ini. Mas janji akan selalu ada di samping kamu, mulai dari proses lahiran nanti sampai anak ini besar."
Di kamar yang baru saja mereka cat dengan cinta itu, mereka berdua duduk di lantai yang dialasi karpet bulu, dikelilingi barang-barang mungil yang menanti pemiliknya. Sebuah penantian indah yang tinggal menghitung hari.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALANA
Short StoryPerhatian Alana kepada Bagas menjadi malapetaka untuk hubungan Alana dan rayhan
