"Sayang, itu tadi... luar biasa!" seru Rayhan sembari sesekali melirik Alana dengan tatapan penuh kekaguman. Ia meraih tangan Alana dan mengecup punggung tangannya berkali-kali.
"Mas benar-benar nggak nyangka istri Mas yang lembut ini bisa jadi 'singa betina' kalau keluarganya diganggu. Dari mana kamu dapat dokumen itu, Al?" tanya Rayhan penasaran.
Alana menyandarkan kepalanya di bahu Rayhan dengan letih namun puas. "Aku cuma pakai sisa-sisa koneksiku di firma hukum dulu, Mas. Aku nggak akan biarkan siapapun merusak kebahagiaan kita, apalagi mengancam anak kita."
Rayhan mempererat genggamannya. "Mas merasa jadi pria paling beruntung. Mas janji, setelah ini Mama nggak akan berani lagi bawa Siska ke depan kita. Kamu sudah menunjukkan siapa 'ratu' yang sebenarnya di hidup Mas."
Di Rumah Mama Rayhan: Kekacauan yang Tertinggal
Sementara itu, suasana di ruang makan yang mewah itu mendadak mencekam. Siska duduk mematung dengan wajah pucat pasi, tangannya gemetar saat mencoba membuka amplop cokelat yang ditinggalkan Alana.
"Siska! Apa benar yang dibilang Alana tadi?" suara Mama Rayhan meninggi, penuh tuntutan. Beliau yang semula mendukung Siska, kini merasa terancam karena nama baik keluarganya bisa ikut hancur jika skandal itu meledak.
"Tante... itu... itu cuma salah paham, aku bisa jelaskan," gagap Siska.
"Penjelasan apa lagi?! Kamu hampir menyeret keluarga saya ke dalam lubang kehancuran!" bentak Mama Rayhan sembari berdiri. "Ternyata saya salah menilai orang. Alana yang saya anggap lemah ternyata jauh lebih cerdas dan berani melindungiku daripada kamu yang hanya membawa masalah!"
Mama Rayhan langsung memanggil asisten rumah tangganya. "Bi, tolong antarkan tamu ini keluar. Dan jangan biarkan dia masuk ke rumah ini lagi tanpa izin saya!"
Siska diusir dengan tidak hormat malam itu juga. Mama Rayhan terduduk lesu di kursinya, menatap nasi yang mulai mendingin. Ia menyadari satu hal: ia baru saja hampir kehilangan putra dan menantu yang luar biasa demi wanita yang penuh tipu daya.
Keesokan paginya, sebuah buket bunga mawar putih besar tiba di rumah Rayhan dan Alana. Ada kartu ucapan di dalamnya:
"Maafkan Mama, Alana. Mama baru sadar siapa yang benar-benar tulus menjaga putra Mama. Jaga kesehatanmu dan calon cucu Mama ya. Mama akan mampir membawa sup buatan Mama sore ini."
Alana tersenyum membacanya. Ia berhasil bukan hanya mengusir pengganggu, tapi juga memenangkan hati mertuanya dengan caranya sendiri.
"Gimana, Sayang? Mau dimaafin atau kita 'kerjain' dikit Mamanya?" goda Rayhan sembari memeluk Alana dari belakang.
Alana melipat kartu ucapan itu dengan rapi, lalu menatap
Rayhan dengan kilat jenaka di matanya. "Memaafkan itu pasti, Mas. Tapi kalau terlalu cepat, nanti Mama pikir aku gampang banget diluluhkan cuma pakai sup."
Rayhan tertawa kecil, ia tahu "mode jahil" istrinya sedang aktif. "Oke, jadi apa rencana 'pelajaran kecil' buat Mama?"
Sore harinya, Mama Rayhan datang dengan rantang berisi sup ayam favorit Rayhan. Beliau tampak sedikit canggung saat melangkah masuk ke ruang tamu. Namun, pemandangan yang ia lihat justru membuatnya terkejut.
Di ruang tamu, Alana sedang duduk bersandar sembari dipijat kakinya oleh Rayhan. Alana terlihat sangat lemas, wajahnya dibuat sedikit pucat dengan bantuan sedikit bedak tipis.
"Eh, Mama sudah datang?" ucap Rayhan dengan nada yang dibuat seolah-olah lelah.
"Alana kenapa, Ray? Kok wajahnya pucat begitu?" tanya Mama panik, langsung meletakkan rantangnya dan mendekat.
"Anu, Ma... gara-gara kejadian semalam, Alana jadi kepikiran terus. Tadi malam dia nggak bisa tidur, perutnya juga sempat kencang karena stres. Dokter bilang Alana harus benar-benar tenang, nggak boleh ketemu orang yang bikin dia tertekan dulu," jawab Rayhan sesuai skenario yang disusun Alana.
Wajah Mama Rayhan seketika dipenuhi rasa bersalah. Beliau duduk di pinggir sofa dan memegang tangan Alana. "Aduh Sayang, maafin Mama ya. Mama benar-benar khilaf semalam. Mama nggak tahu kalau Siska punya niat seburuk itu."
Alana menghela napas panjang, suaranya dibuat lirih. "Iya, Ma. Alana kaget banget. Alana kira Mama udah nggak sayang lagi sama Alana dan calon cucu Mama ini..."
"Nggak, nggak! Jangan bicara begitu!" potong Mama cepat. "Mulai sekarang, Mama yang akan jagain kamu. Kalau ada orang kayak Siska lagi, Mama yang bakal usir duluan pakai sapu!"
Melihat mertuanya yang sangat menyesal, Alana memberikan kode kedipan mata pada Rayhan.
"Oh iya Ma," sela Alana tiba-tiba. "Kata dokter, biar pikiran Alana segar lagi, Alana nggak boleh makan makanan yang hambar. Alana lagi pengen banget... Rujak Cingur yang ada di ujung kota, tapi harus yang jualan nenek-nenek pakai cobek batu, Ma. Mas Rayhan lagi banyak kerjaan, jadi nggak bisa nemenin..."
Mama Rayhan langsung berdiri tegak. "Biar Mama yang cari! Kamu mau Rujak Cingur? Mama cari sampai dapat sekarang juga! Ray, kamu jagain istri kamu, jangan sampai dia turun dari kasur!"
Begitu Mama Rayhan keluar rumah dengan terburu-buru demi mencari rujak pesanan Alana, tawa Rayhan dan Alana pecah seketika.
"Sayang, kamu tega banget! Ujung kota itu macetnya luar biasa jam segini," ujar Rayhan sembari tertawa geli.
"Itu namanya olahraga sore buat Mama, Mas. Biar Mama ingat, kalau mau sayang sama menantu itu harus ada perjuangannya," jawab Alana sembari mulai membuka rantang sup pemberian mertuanya. "Hmm, bau supnya enak. Habis ini kita makan rujaknya bareng-bareng ya!"
Keluarga kecil itu pun kembali ceria, dan Mama Rayhan kini benar-benar menjadi "benteng" terdepan yang akan melindungi Alana dari siapapun.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALANA
Krótkie OpowiadaniaPerhatian Alana kepada Bagas menjadi malapetaka untuk hubungan Alana dan rayhan
