Rayhan tersentak, wajahnya kembali pucat. "Loh, kan bayinya sudah lahir, Sayang? Bu Bidan, kenapa istri saya kesakitan lagi?"
Bidan tua itu dengan sigap meletakkan bayi pertama ke dalam inkubator darurat dan segera kembali ke posisi untuk memeriksa Alana. Matanya membelalak kaget setelah melakukan perabaan pada perut Alana yang masih tampak besar dan keras.lalu bidan tersebut mengecek kedalam vagina alana ,alana tersentak saat tangan bidan tersebut masuk
aaarg sakit bu bidan ,keluh alana
"Ya Tuhan... Pak Rayhan, tarik napas dalam-dalam. Ibu Alana, ternyata masih ada satu lagi! Ini bayi kembar!" seru Bidan itu dengan nada mendesak.
"Kembar?!" Rayhan dan Alana berteriak hampir bersamaan di tengah rasa sakit. Selama pemeriksaan kehamilan, posisi bayi kedua rupanya selalu bersembunyi di balik kakaknya, membuat dokter maupun mereka tidak menyadarinya.
Namun, kondisi menjadi kritis. "Pak, bayi kedua ini sungsang! Posisinya tidak normal dan Ibu Alana sudah sangat lemas," ujar Bidan dengan nada khawatir. sayaa akan mencoba menarik kedua kakinya perlahan,ibu alana atur nafas jika saya suruh mengejan ,ibu mnegejan ya bu jika saya tidak suruh jangan mengejan titah bu bidan,Listrik di klinik itu mendadak mati total akibat sambaran petir di luar. Ruangan menjadi gelap gulita.
"Mas... aku nggak bisa... aku capek banget," isak Alana, napasnya tersengal-sengal. Tenaganya seolah sudah habis terkuras untuk bayi pertama.
ayok bu bisa kasian anaknya di dalam ,saya akan bantu sebisa saya ,da ibu juga berjuang ya bu ,bu bidan memberi semangat kepada alana
Rayhan tidak membiarkan kepanikan menguasainya. Ia segera menyalakan lampu flashlight dari ponselnya, menggigit ponsel itu di mulutnya agar tangannya bisa bebas memegang kedua tangan Alana.
aaargh sakit bu ,,,aw sakit mas ,huhuhu alana mengerang saat tangan bu bidan menarik perlahan kaki mungil menuju jalan lahir,alana sedikit mengangkat badannya karna efek sakitnya ,aaargh alana mengerang kembali
"Sayang, lihat aku! Anak kita yang satu lagi sedang berjuang di dalam. Dia mau ketemu kakaknya, dia mau ketemu kita! Kamu nggak boleh menyerah sekarang, Alana!" teriak Rayhan memberikan kekuatan.
Rayhan mengarahkan cahaya ponselnya agar Bidan bisa melihat dengan jelas. Di tengah badai yang masih mengamuk di luar, Alana mengumpulkan sisa-sisa nyawanya. Ia mengejan dengan seluruh kekuatan yang tersisa di tubuhnya.
"Ayo Bu, sedikit lagi! Kaki dan badannya sudah keluar, tinggal kepalanya! Satu dorongan besar lagi!" perintah Bidan.
"AAAAAAHHHHHH!!!"AAARGGHHH alana lagi - lagi berteriak kencang
Bersamaan dengan suara petir yang menggelegar, tangisan bayi kedua pecah—lebih kencang dari yang pertama.
Ruangan yang tadinya tegang seketika menjadi penuh dengan isak tangis bahagia. Bidan segera menangani bayi kedua yang ternyata adalah seorang bayi perempuan.
"Selamat, Pak, Bu... sepasang pengantin. Laki-laki dan perempuan," ucap Bidan sembari tersenyum lega sambil menyeka keringat di dahinya.
Rayhan terduduk lemas di lantai samping tempat tidur Alana, air matanya mengalir deras. Ia mencium tangan Alana berkali-kali. Alana, meski sangat pucat dan lelah, menatap kedua bayinya yang kini diletakkan di sisi kiri dan kanannya.
"Dua, Mas... kita punya dua," bisik Alana haru.
"Iya, Sayang. Dua titipan Tuhan yang luar biasa," jawab Rayhan. Ia merasa semua drama kemacetan, sabotase Siska, hingga badai malam ini terbayar lunas dengan kehadiran dua malaikat kecil ini.
Tepat saat itu, bantuan medis dari rumah sakit pusat akhirnya tiba setelah polisi berhasil menyingkirkan pohon tumbang. Rayhan melihat petugas medis masuk, tapi ia juga melihat dari jendela klinik, Siska digiring masuk ke dalam mobil polisi di ujung jalan dengan tangan terborgol.
Semua pengacau telah pergi. Yang tersisa hanyalah Rayhan, Alana, dan dua cinta baru mereka.
pikiran Alana melayang ke beberapa bulan lalu, saat ia dan Rayhan duduk berdua di ruang praktik dokter yang tenang.
Flashback: Ruang USG
"Gimana, Dok? Sudah kelihatan belum?" tanya Rayhan antusias, matanya tidak lepas dari layar monitor yang menampilkan bayangan abu-abu samar.
Dokter kandungan mereka tersenyum sembari menggerakkan alat pemindai (transducer) di atas perut Alana yang diolesi gel dingin. "Nah, ini dia. Lihat ini ya, Pak, Bu... ada 'monas' kecil di sini. Jelas sekali, bayinya laki-laki," jelas Dokter menunjukkan tonjolan kecil yang menjadi ciri khas bayi laki-laki pada layar .
Rayhan langsung mengepalkan tangan ke udara. "Yes! Jagoan, Sayang! Kita bakal punya teman main bola nanti."
Alana tertawa bahagia, meski sempat merasa perutnya terasa lebih besar dari usia kehamilan seharusnya. "Dok, kok perut saya rasanya kencang banget ya? Apa bayinya memang besar?"
Dokter kembali memutar alatnya, namun pandangannya hanya tertuju pada satu area. "Wajar, Bu. Air ketubannya cukup dan posisi bayinya sedang aktif-aktifnya menutupi seluruh area rahim. Jadi yang terlihat dominan memang satu jagoan ini," jawab Dokter tanpa menyadari adanya kembaran tersembunyi (hidden twin) yang sedang "bersembunyi" tepat di belakang kakaknya .
Rayhan mencium kening Alana dengan penuh rasa syukur. "Satu saja sudah anugerah luar biasa buat aku, Al."
Kembali ke Masa Sekarang
Alana tersenyum kecil mengingat betapa "polosnya" mereka saat itu. Ternyata, alam punya kejutan yang jauh lebih besar.
"Mas," panggil Alana lirih, "Ternyata putri kita ini pintar banget ya sembunyi di belakang kakaknya pas USG dulu. Dia mau kasih kejutan buat Papanya."
Rayhan menggendong bayi laki-lakinya di lengan kanan dan bayi perempuannya di lengan kiri, menatap keduanya bergantian dengan tatapan tak percaya. "Benar, Sayang. Si jagoan buat nemenin aku main bola, dan si cantik ini buat jadi putri kesayangan kita. Tuhan benar-benar baik."
Di luar, badai telah reda, menyisakan pelangi fajar yang mulai muncul, menyambut kehadiran dua nyawa baru di keluarga kecil mereka yang kini sudah lengkap
SELESAI
TERIMAKASIH BUAT YANG UDAH BACA
KAMU SEDANG MEMBACA
ALANA
Short StoryPerhatian Alana kepada Bagas menjadi malapetaka untuk hubungan Alana dan rayhan
