Undangan Masa Laluu

6 1 0
                                        

Alana menarik napas panjang, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang. Dengan tangan sedikit gemetar, ia menyodorkan ponselnya ke hadapan Rayhan.

"Baca ini, Mas," ucap Alana lirih.

Rayhan mengerutkan dahi, lalu mengambil ponsel tersebut. Matanya menyipit saat membaca baris demi baris pesan dari Siska. Seketika, rahang Rayhan mengeras dan urat di tangannya menegang hingga ponsel itu tergenggam kuat.

"Berani-beraninya dia..." geram Rayhan dengan suara rendah yang mengintimidasi.

Rayhan langsung menatap istrinya. Ia melihat ketakutan sekaligus luka di mata Alana. Tanpa berkata-kata, Rayhan bangkit dari kursi, berlutut di samping kursi Alana, dan menggenggam kedua tangan istrinya erat-erat.

"Dengar, Alana. Kamu lihat mata aku," tegas Rayhan. Alana menunduk, namun Rayhan dengan lembut mengarahkan dagu istrinya agar menatapnya. "Siska itu masa lalu yang sudah mati buat aku. Dia nggak punya hak apa-apa atas aku, apalagi atas keluarga kita."

"Tapi Mama, Mas... Mama pasti bakal lebih bela dia nanti malam," suara Alana pecah, setetes air mata jatuh ke pipinya.

Rayhan menghapus air mata itu dengan ibu jarinya. "Aku nggak peduli. Kalau dia pikir dia bisa datang dan merusak kebahagiaan kita, dia salah besar. Kita tetap akan datang ke rumah Mama nanti malam."

"Kenapa? Aku takut, Mas..."

"Kita datang bukan untuk jadi pajangan, tapi untuk menegaskan posisi kamu sebagai istri sah aku dan ibu dari anakku," jawab Rayhan dengan nada yang sangat protektif. "Aku yang akan kasih tahu dia dan Mama, bahwa nggak ada satu orang pun yang boleh menyentuh atau menyakiti kamu. Mas nggak akan biarkan dia bicara satu kata kasar pun sama kamu."

Rayhan kemudian mengambil ponselnya sendiri dan langsung menelepon seseorang.

"Halo, siapkan mobil dan pastikan jadwal saya kosong sore ini. Saya harus menemani istri saya ke butik terbaik sekarang juga," ucap Rayhan tegas di telepon.

Ia kembali menatap Alana dengan senyum tipis yang penuh tekad. "Kita akan datang ke sana dengan penampilan yang paling cantik, Sayang. Biar dia sadar, dia sama sekali bukan tandingan kamu." 

Di balik wajahnya yang lembut,

Alana bukanlah wanita lemah yang bisa diintimidasi begitu saja. Saat Rayhan sedang sibuk di ruang kerja menyiapkan berkas kantor, Alana duduk di depan meja riasnya dengan tatapan tajam yang tak pernah dilihat Rayhan sebelumnya.

Ia teringat sesuatu. Sebelum menikah dengan Rayhan, Alana yang bekerja di firma hukum pernah menangani sebuah kasus audit rahasia milik perusahaan keluarga Siska. Dengan tangan cekatan, ia membuka laptop lama yang tersimpan di laci terdalam dan menghubungi rekan lamanya di firma hukum tersebut.

"Halo, Doni? Bisa kirimkan berkas internal audit PT. Mahesa tiga tahun lalu? Ya, yang sempat tertunda karena mereka menyuap oknum. Aku butuh itu dalam satu jam," bisik Alana tegas.

Malam harinya, mereka tiba di rumah mewah orang tua Rayhan. Siska sudah di sana, duduk dengan anggun di samping Mama Rayhan. Ia mengenakan gaun merah menyala yang sangat kontras dengan Alana yang tampil elegan dengan dress hamil berwarna nude yang mahal.

"Oh, ini Alana? Wah, kamu terlihat... sangat subur ya, Al," sindir Siska dengan senyum meremehkan, matanya melirik perut Alana.

Mama Rayhan hanya diam, seolah memberi panggung bagi Siska. Rayhan hendak membuka suara untuk membela istrinya, namun Alana menahan lengan Rayhan. Ia tersenyum sangat manis—senyum yang membuat Rayhan pun merinding.

"Terima kasih, Siska. Menjadi ibu adalah anugerah yang mungkin belum tentu semua wanita seberuntung aku," jawab Alana tenang. Ia kemudian mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari tasnya.

"Ngomong-ngomong soal keberuntungan, aku punya 'hadiah selamat datang' buat kamu, Siska. Aku tahu kamu baru kembali dari luar negeri untuk mengurus investasi keluarga kalian yang sempat bermasalah di Singapura, kan?"

Wajah Siska seketika berubah pucat. Ia mencoba tetap tenang. "Apa maksud kamu?"

Alana meletakkan amplop itu di atas meja makan, tepat di depan Mama Rayhan dan Siska. "Isinya menarik. Dokumen tentang pengalihan aset ilegal yang melibatkan nama kamu sebagai direktur utama. Kalau ini sampai ke tangan media atau pihak berwajib besok pagi, aku rasa rencana 'mengambil milik orang lain' yang kamu tulis di pesan tadi pagi akan jadi rencana terakhir dalam hidupmu."

Suasana ruang makan menjadi sunyi senyap. Rayhan tertegun melihat keberanian istrinya, sementara Mama Rayhan mulai terlihat panik karena tidak ingin keluarganya terseret skandal.

"Kamu... kamu mengancam aku?" suara Siska bergetar.

Alana mendekatkan wajahnya ke arah Siska, berbisik namun cukup keras untuk didengar semua orang. "Ini bukan ancaman, ini peringatan. Jangan sekali-kali menyentuh keluargaku, atau aku pastikan kamu kembali ke luar negeri bukan sebagai sosialita, tapi sebagai pelarian."

Rayhan langsung merangkul pinggang Alana dengan bangga. "Sepertinya selera makanku hilang melihat orang yang tidak tahu diri di sini. Ayo sayang, kita pulang. Anak kita butuh ketenangan." 

ALANACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang