Rahasia Dalam Kereta

1K 14 1
                                        

Rahasia di Dalam Kereta

Kereta api Argo Parahyangan melaju dengan stabil meninggalkan stasiun Gambir, membawa penumpang-penumpangnya menuju Bandung di malam hari. Di dalam gerbong eksekutif, suasana tenang. Sebagian penumpang sudah terlelap, ditemani gemuruh roda kereta yang berirama.

Noel duduk di kursi dekat jendela, nomor 17A. Tubuhnya dibalut jaket hoodie abu-abu besar dan celana training hitam longgar. Di pangkuannya ada sebuah tas ransel yang ia peluk erat, sebagai tameng untuk perutnya yang sudah membulat sempurna di usia kehamilan sembilan bulan.

Dia menyembunyikan kehamilannya dari orangtuanya di Bandung.

Rencananya sederhana: tiba di rumah besok pagi, mengeluh sakit perut hebat, dan ‘dilarikan’ ke rumah sakit sahabatnya, Rian, seorang perawat yang sudah ia bocori rahasianya dan bersedia membantu mengarang cerita tentang ‘adopsi mendadak’. Sebuah rencana yang nekat dan penuh lubang, tapi satu-satunya yang ia punya.

Pukul 21.17. Kereta sudah meluncur sekitar empat puluh menit. Sensasi pertama menyergapnya. Sebuah kencang yang mendalam di perut bagian bawah. Ia menahan napas. Kontraksi.

Ini cuma Braxton Hicks, bisiknya pada diri sendiri. Masih dua minggu lagi. Ini cuma karena lelah.

Dia menarik napas dalam-dalam. Kontraksi itu mereda setelah sekitar tiga puluh detik.

Pukul 21.45. Kontraksi kedua datang. Lebih kuat. Dimulai dari punggung bawahnya, merambat seperti cincin besi panas yang mengencangkan perutnya. Jari-jarinya mencengkeram lengan kursi. Bibirnya terkatup rapat.

Pukul 22.20. Kontraksi ketiga menghantam dengan kejam yang tak terduga. Rasa sakitnya begitu intens hingga ia nyaris melengkungkan badan. Desakan untuk mengedan, untuk mendorong, terasa seperti dorongan alamiah yang hampir tak tertahankan. Sebuah tekanan dahsyat di panggulnya.

Tidak. Tidak sekarang. Bukan di sini, pikirnya panik. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

Pukul 22.45. Kontraksi keempat. Lebih cepat. Gelombang rasa sakitnya membuat matanya berkaca-kaca. Ia harus mengejan. Tapi ia harus menahannya. Di kereta yang penuh orang ini, ia tak bisa bersuara.

Pukul 23.05. Air ketubannya pecah.

Itu terjadi tepat saat kereta melintasi rel yang agak bergoyang. Sensasi hangat yang tiba-tiba mengucur deras, membanjiri celana trainingnya, merembes cepat dan membasahi kursi kain yang ia duduki. Noel membeku, nafas tercekat. Panik yang membelit. Dia tidak bergerak, berharap kegelapan dan jaketnya yang panjang menyembunyikan segalanya.

Tenang. Kamu harus ke toilet, perintah sebuah suara di kepalanya.

Dengan gemetar luar biasa, ia berdiri. Begitu berat badan bertumpu, tekanan di panggulnya berlipat ganda. Ia merasa seperti duduk di atas bola bowling. Ia harus berjalan. Toilet ada di ujung gerbong.

---

Lanjutanya ada di karyakarsa ya! Link on my bio.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 29 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

mpreg tuiwTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang