Ujian Ganda

1K 13 0
                                        

Enzo menatap soal integral di kertas ujiannya, tetapi garis-garisnya bergoyang, meliuk seperti asap. Konsentrasinya hancur berkeping-keping oleh rasa sakit tumpul yang baru saja menggigit pinggangnya. Yang kesekian kalinya, pikirnya dengan putus asa. Ia menyembunyikan tangan yang gemetar di bawah meja, mencoba menekan perutnya yang sesungguhnya tak rata di balik jaket hoodie abu-abunya.

Tidak sekarang. Tidak di sini.

Tapi tubuhnya adalah pengkhianat. Kontraksi itu datang bukan sebagai peringatan, tapi sebagai perampasan. Sakitnya merayap dari tulang ekor, merambat ke depan, lalu meremas seluruh bagian bawah perutnya dengan tangan baja. Ia menahan napas, berusaha tetap diam, tapi otot-ototnya menegang sendiri. Kursi plastik berderit pelan di bawahnya.

"Enzo? Masalah?" Suara Pak Hendri, sang pengawas, seperti sirine dari jauh.

Enzo menggeleng cepat, matanya memicing menahan sakit. "Tidak, Pak," desisnya, suara serak. Ia memaksakan dirinya untuk menulis sesuatu—apa pun—di kertas. Pulpennya menari-nari tak karuan, meninggalkan coretan seperti cacing.

Gelombang itu perlahan surut, meninggalkan napas tersengal dan ketakutan yang lebih dalam. Ini berbeda. Kontraksi sebelumnya, yang ia sebut-sebut sebagai "sakit perut biasa", tidak pernah se-teratur ini. Jaraknya? Ia tidak berani melihat jam tangan, tapi nalurinya berteriak. Terlalu dekat.

Kepanikan mulai menggelegak di dadanya, rasanya seperti ingin teriak atau lari. Tapi ia terpenjara. Terpenjara di kursi ini, di ruangan sunyi ini, di antara tiga puluh sembilan pasang mata yang tak tahu apa-apa. Pikirannya berputar liar: Apa yang harus dilakukan? Harus ke mana? Bagaimana cara berhenti ini? Tidak ada jawaban. Hanya ada perut yang semakin kencang dan keinginan purba untuk mengejan yang mulai menggeliat, meski ia paksa untuk tetap diam.

Soal nomor dua coba ia jawab. Integral parsial. u dan dv...

“Ugghhh..” Sakit itu kembali datang. Lebih cepat. Lebih ganas.

Ia menunduk lebih dalam, rambut menutupi wajahnya yang sudah pasti pucat. Tangannya mencengkeram tepi meja, buku jari putih seperti marmer. Jangan bersuara. Jangan bergerak. Ia menggigit bagian dalam pipinya sampai berdarah, mengalihkan rasa sakit yang satu ke rasa sakit yang lain. Rasa logam di lidahnya nyata, lebih nyata daripada persamaan di depannya.

Dari sudut mata, ia melihat Rina melirik. Tatapan penuh tanya. Enzo membuang muka, jantungnya berdebar kencang. Jangan perhatikan aku. Tolong, jangan.

Kontraksi itu mencapai puncak, memeras isi perutnya seolah ingin mengeluarkan semuanya. Sebuah desakan ke bawah, kuat dan tak terbantahkan, membuat matanya berkaca-kaca. Tidak. Itu bukan... itu bukan ingin BAB. Itu sesuatu yang lain. Sesuatu yang berarti pintu keluar sudah membuka. Ia merasakan kelembaban, sedikit tapi signifikan, di celana dalamnya. Bukan air ketuban pecah, tapi sesuatu yang merembes. Tubuhnya memberi sinyal SOS.

Pikiran paniknya berhamburan:

Harus pergi. SEKARANG.

Tapi ujian…

Nilai? Sekarang?

Mereka akan lihat. Mereka akan TAHU.

Rasa malu yang panas membakar wajahnya, lebih menyiksa daripada kontraksi mana pun. Bayangkan: Enzo, laki-laki, berdiri dengan basah di tengah kelas. Bisikan. Tatapan. Tertahan. Eksploitasi berita. Keluarga... Oh, Tuhan, keluarganya.

Tapi rasa sakit berikutnya datang, tanpa ampun. Hanya berselang sekitar enam menit. Enzo nyaris melengkungkan punggung. Sebuah dengusan pendek, tajam, keluar dari hidungnya. Beberapa kepala menoleh.

"Enzo?" suara Pak Hendri lebih dekat sekarang. “Kamu yakin tidak perlu ke UKS?”

"Tidak!" jawabnya terlalu cepat, terlalu keras. "Saya... saya bisa." Kalimat itu untuk meyakinkan dirinya sendiri, tapi gagal total. Suaranya pecah.

Ia mencoba lagi. Menulis angka. Menggerakkan pulpen. Tapi dunia sudah menyempit menjadi siklus mengerikan: antisipasi, puncak sakit yang melumpuhkan, kelegaan sesaat yang penuh teror menunggu giliran berikutnya. Ia tidak bisa berpikir. Tidak bisa bernapas dengan benar. Semua teknik pernapasan yang pernah ia baca lenyap. Yang ada hanya naluri bertahan: diam, jangan ketahuan.

Waktunya habis. Kontraksi berikutnya datang, dan kali ini, di puncak rasanya yang menyiksa, sebuah sentakan kejut dari dalam—tendangan atau gerakan kepala bayi yang turun?—membuatnya nyaris menjerit. Ia menekan mulutnya ke lengan jaket. Air matanya akhirnya tumpah, membasahi kertas ujian, merusak tinta jawaban soal nomor tiga.

---

Untuk lanjutannyabada di karyakarsa yaa

mpreg tuiwTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang