EXTRA: SOMETHING THAT I LOST

16 2 2
                                        

Malam itu aku menemukan seseorang—

Tidak.

Lebih tepatnya makhluk setengah manusia dengan sisik di kulitnya. Sosok itu berdiri di balkon kamarku.

Seorang pria berambut cokelat dan iris matanya yang berwarna keemasan. Dia berdiri dengan tubuh terluka, kondisinya sangat mengkhawatirkan. Aku berniat menolongnya tetapi dia menghindariku.

Sorot matanya ketika melihatku seolah aku merupakan orang yang sudah menyakitinya begitu dalam.

Malam itu hujan begitu deras.

Seharusnya aku sudah berbaring di ranjang dan terlelap, tapi disinilah aku, berdiri menghadap sosok yang terasa asing namun sangatlah familiar bagiku.

Dia tetap berdiri, melihatku dan berharap sesuatu.

"Kali ini kamu tidak mengingatku lagi." Begitulah katanya, ada nada getir pada suaranya.

Apa maksudnya?

Pria tinggi itu menghampiriku, ia merangkum wajahku pada telapak tangannya yang besar.

Perasaanku campur aduk. Mataku terasa memanas. Dadaku terasa sesak.

Aku tidak mengenalnya, aku tidak tahu siapa dia, tapi kenapa aku sangat mendambakan sentuhannya?

"Kau...."

"Tidak apa-apa." Lelaki itu menggelengkan kepalanya sambil mengusap pipiku. "Aku sanggup menanggung resikonya."

Aku tak tahu harus mengatakan apa, tapi aku membalas genggamannya. "Kau tak pandai berbohong."

Bodoh.

Itu kalimat yang bahkan tidak bisa disebut basa-basi. Kenapa aku bilang seperti itu pada sosok yang bahkan tak kukenali?

Setelah aku mengatakan itu padanya, ia refleks meneteskan airmatanya. Perlahan bibirnya melengkung membuat senyuman tipis.

"Kamu memang tidak berubah dari dulu."

Setelah itu, aku tidak ingat apapun lagi. Aku terbangun diatas ranjangku dengan sinar mentari pagi menyinari kamarku. Aku termenung.

Apakah aku sedang bermimpi?

"Nona."

Pelayanku masuk setelah mengetuk pintu kamarku, ada pelayan lain mengikutinya dari belakang.

Benar.

Hari ini merupakan hari pernikahanku.

Selagi mereka membantuku menyiapkan diri dan mendandani diriku, tak urung mataku terpaku pada pemandangan jendela kamarku.

Aku merasa janggal.

Aku merasa telah melupakan sesuatu.

"Nona sudah siap."

Aku menoleh, memandangi pantulan diriku di cermin. Terlihat seorang gadis dengan gaun pengantin berdiri memakai riasan yang cantik. Gadis itu tak lain adalah aku.

"Tuan Travis sudah menunggu."

Muncul kakakku dengan jasnya yang membalut tubuh gagahnya berdiri menyambutku. Tangannya terulur menungguku.

Ketika aku menerima uluran tangannya, aku mulai merasakan emosi tercampur aduk seperti semalam. Aku termangu, mematung dan membuat semua orang terkejut. Para pelayan sibuk menyeka sesuatu yang mengalir di pipiku, kakakku yang bertanya ada apa denganku, tapi aku tidak mendengarnya.

Aku baru saja menyadari kalau aku telah kehilangan sesuatu yang berharga bagiku.

=End=

Haloo, ada yang masih nunggu ini cerita? Ini sengaja kubikin biar aku bisa megang plotnya lagi.

Kalian pasti bingung ak kemana

Tanpa basa basi, aku akan menjawab. Selama menghilang aku banyak banget ripiu manhwa2 gitu dan merasa males lanjutin karna plot yg kubikin hampir sama ceritanya.

Apalagi di era AI yang bahkan bisa bikin plot cerita gtu. Aku sudah sebal dan tidak mood buka wp lagi 🗿

Cuman yah waktu aku ditanya suami soal hobi, aku tanpa ragu jawab kalo aku suka nulis.

Ingyah, ges. Ak sudah menikah, married ges.

Tapi yang memancing aku kembali ke dunia pernulisan dan berniat main ML lagi adalah suami akoh. Jadi stelah aku resign, kemungkinan aku akan menulis lagi.

Butuh waktu lagi keknya buat megang plot cerita yg pernah kutulis.

Kalian gapapa kan nunggu lagi? 🗿



10 April 2026

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 3 days ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

FatedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang