halo! udah lama banget nggak sih.
maaf ya baru bisa menepati janji aku setelah... 4 tahun.
jadi aku baru sempat ngerangkum sisa keseluruhan cerita ini sampai tamat, dibantu dengan polesan dan koreksi dari AI juga.
sebenarnya kisah mereka itu masih panjang banget, kalau aku terusin nulis kayak kemarin mungkin bisa nyentuh 70 part. dan semuanya ga memungkian lagi, aku juga takut mengelaborasi ceritanya mengingat dan mengingat isu fiksi kerajaan ini agak sensitif ya. tapi kalian sebagai pembaca juga berhak tau gimana ending veritanya, jadi, inilah bagaimana ceritanya berlangsung hingga tamat.
enjoy!
♔♔♔♔♔♔
Setelah malam pembakaran itu, setelah Hong Gang Doo menariknya keluar dari gubuk yang nyaris jadi kuburannya, Bo Ryung terbangun di Gibang dengan tubuh penuh luka bakar ringan dan hati yang lebih hancur dari raganya. Ia tak menangis histeris seperti dulu. Ia hanya diam, menatap langit-langit kamar Malhee, menghitung berapa kali langit sudah mencoba membunuhnya.
Dua kali, pikirnya. Dua kali aku hampir menyusul Ayah dan Ibu.
Ketika Malhee akhirnya pulang dan mendapati adiknya duduk di sudut kamar dengan mata kosong, ia tak bertanya dulu. Ia hanya memeluknya, membiarkan Bo Ryung menumpahkan semua yang selama ini ia telan sendirian — tentang gudang, tentang ramuan yang dipaksakan ke mulutnya, tentang raja yang menyelamatkannya lalu menghilang begitu saja dari kehidupannya. Malhee mendengarkan sampai lilin di kamar itu meleleh separuh, lalu berkata pelan namun mantap, "Aku akan membalaskan semuanya, Ga Ryung-ah. Untuk kita berdua."
Bo Ryung bekerja sebagai pelayan pribadi kakaknya di Gibang untuk sementara — mencuci pakaian penari, menyisir rambut, hal-hal yang sudah biasa ia lakukan sejak kecil di kediaman keluarga Kim. Ada semacam kedamaian aneh dalam kehidupan barunya yang sederhana ini, jauh dari tatapan menusuk Ibu Suri Agung Baek, jauh dari intrik yang selalu mengintai di setiap sudut istana.
Namun takdir, seperti biasa, punya rencana lain.
Seminggu kemudian, kabar tersiar bahwa Raja Seojeong akan berburu di hutan dekat kota. Gang Doo — yang diam-diam sudah mulai goyah kesetiaannya pada Menteri Min setelah menyaksikan sendiri kekejaman yang ditujukan pada gadis yang ia selamatkan — membawa kabar ini ke Malhee. Dan Malhee, dengan segala kelicikan seorang gisaeng yang terbiasa membaca peluang, merancang sebuah pertemuan yang tampak seperti kebetulan.
Malam itu, di pinggiran hutan berburu, Raja Seojeong yang menyelinap sendirian dari rombongannya untuk sekadar menikmati udara malam, kembali berhadapan dengan wajah yang tak pernah benar-benar bisa ia lupakan.
"Kenapa kau di sini?" Suaranya nyaris tak percaya.
Bo Ryung menunduk, menahan getar di suaranya. "Saya... juga tidak tahu, Jeonha. Yang saya ingat terakhir, saya di istana, lalu tiba-tiba saya disekap di rumah yang terbakar. Setelah itu saya sadar di Gibang."
Ada jeda panjang. Raja Seojeong menatapnya — luka-luka kecil di tangannya, bekas asap yang masih membayang di ujung rambutnya — dan sesuatu di dadanya remuk.
"Maukah kau kembali ke istana? Menemani ibuku?"
Bo Ryung menggeleng. Bukan karena ia tak merindukan istana, tapi karena istana sudah dua kali mencoba merenggut nyawanya. "Saya rasa, istana tidak menerima saya, Jeonha. Sudah dua kali saya nyaris mati sejak menginjakkan kaki di sana."
Kalimat itu menghantam raja lebih keras dari yang ia kira. Ia, pemimpin negeri yang katanya mengayomi seluruh rakyatnya, bahkan tak bisa memberi rasa aman untuk satu gadis yang tulus hatinya. Rasa bersalah dan rasa sayang yang selama ini ia tekan bercampur jadi satu, dan tanpa berpikir panjang, ia memeluknya di tengah gelapnya hutan malam itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
[Discontinued] Moon Dust
Historical FictionSiapakah Bulan yang benar-benar diinginkan oleh sang Mentari? Siapakah Bulan yang diharapkan para kaum bawah? Siapakah Bulan yang benar-benar mencintai Matahari? -*- Rank #30 Historical Fiction: 21 Agustus 2017
![[Discontinued] Moon Dust](https://img.wattpad.com/cover/112183602-64-k59575.jpg)