12 ; [Perasaan Yang Sebenarnya]

37 7 0
                                        

Jake tidak tahu harus menjelaskan dengan kata dan kalimat apa lagi agar Jay mengerti. Jake tidak suka dipaksa, ia bukan tipe laki-laki yang seenaknya tapi ia juga bukan tipe laki-laki yang berandalan. Si lelaki yang lebih tinggi darinya, mengatakan sebuah paksaan. Mengatakan bahwa, mau tidak mau, Jake harus mengatakan persetujuan.

Tapi bagaimana jalan menolak? Jake bingung, Jake tidak tahu harus dengan apa.

"Jay, aku nggak mau pacaran sama kamu."

"Bukan nggak mau Jake, cuma 'belum' aja sayang," ujar Jay kemudian mengusap pipi kanan si manis.

Jake segera menepis tangan itu. Ia tinggalkan Jay yang menatapnya menjauh. Dengan tangan yang siap menghubungi seseorang.

"Jay menerima perjodohan itu, asal Jake, anak om Chanyeol dan tante Baekhyun, calon untuk Jay."

Lalu ia berkata kembali, "Jake atau tidak sama sekali."

***

Waktu menunjukkan jam pulang. Pria dengan luka diwajahnya menunggu bersandar pada dinding. Ia mendekati si manis yang keluar masih menggunakan kacamata hitam.

Jay berujar, "Pulang yuk. Sama gue ya?"

"Nggak per-"

Suara deringan handphone si manis membuyarkan percakapan mereka. Begitu suara terdengar maka Jake tidak sanggup melawan.

"Maaf Jake sayang, mama nggak bisa jemput kamu for today. Kamu bareng sama Jay gapapa 'kan?"

"Jake naik taksi aja-"

Tapi Jay menyerobot masuk dalam percakapan, "Iya tante nanti Jay antar."

"Nah tuh ada Jay, daripada kamu menghamburkan uang loh sayang. Nanti mama masakkin sup jagung sama sup abalon juga buat kalian makan ya? Hati-hati di jalan sayang."

"Ta- aish."

Jay menggengam tangan Jake, keduanya berjalan bersama menuju kelas Jake lebih dahulu baru kelas Jay. Sepanjang jalan hanya berisi genggaman tangan yang sunyi. Sedikit gumaman lucu dari Jay yang membuat Jake tertarik lebih dalam.

"Jay."

Yang dipanggil menoleh cepat, ia tidak menghentikan langkahnya, "Kenapa cantik?"

"Kamu emang suka ya memaksakan kehendak kamu ke orang lain? Even he's say no for you?"

"Apa yang gue mau harus jadi punya gue."

Jay bawa wajahnya mendekati wajah si manis, "Termasuk lu. Lu harus jadi punya gue, apapun dan gimanapun caranya. Cinta? Buat apa?"

Jake tahu.

Ia mungkin tidak akan bisa kabur.

***

Motor yang sempat Jay kendarai sendirian kini menjadi lebih hidup saat Jake ada di belakangnya. Badan mereka tidak bersentuhan, baik dada atau punggung seperti orang lain. Sepanjang jalan hanya desir mesin, umpatan karena ada seseorang yang ngawur di jalan juga sedikit pinta Jake untuk menepi.

Jake turun dari motor begitu mereka berhenti di depan gerobak cireng isi ayam suwir. Langganan Jake.

"Lu bisa makan pedes begitu? Yakin Jake?"

Jake menghiraukan perkataan Jay untuk sementara, sampai ketika membayar, Jake terkejut dengan sebuah tangan yang menyodorkan uang ke penjual. Tentu Jay pelakunya. Jake akan mengganti uang itu nanti. Perjalanan 10 menit sudah dicapai hingga Jake turun dari motor. Jay tanpa undangan sudah menganggap rumah Jake juga rumahnya jadi untuk apa menunggu tuan rumah sebenarnya masuk.

Tatanan ruang tamu rumah Jake adalah yang terbaik. Mulai dari sofa, lantai, atap bahkan meja juga memiliki nuansa cream yang menyatu. Kedua orang tua Jake pasti ahli dalam menyusun. Sofa putih susu diduduki oleh Jay dan Ibu dari Jake mengajak mereka makan sebelum Jay merayu laki-laki kesukaannya.

"Bagaimana sekolah kalian? Apakah Jay sudah menentukan universitas?"

Jay dengan senyuman menjawabnya, "Sudah tante tapi masih ada ragu."

"Itu wajar, dulu waktu tante mau masuk ke Oxford juga ragu. Sampai akhirnya papanya tante yang menjelaskan semua teori dari jurusan yang tante ambil. Ternyata tante tidak salah pilih," ujar Ibu dari Jake setelah mengambilkan makan siang untuk Jay.

Jake seperti angin lalu saja. Ia mengambil makan sendiri, minum juga, mengambil alat makan secara mandiri. Sebenarnya yang mana anaknya ibunya?

***

"Ahh.. Lega banget," ujar Jake merebahkan dirinya di kasur.

Ia baru saja selesai mandi dengan seluruh pemikirannya. Mulai dari sekolah, belajar, universitas, keluarganya, juga seseorang yang hinggap di pikirannya beberapa waktu lalu. Ia menggeleng, menepis segala pikiran tentang pria berandalan yang naasnya menjadi teman paling akrab dengan ibunya.

"Jake, lu-"

"AAAA! JAY!"

Tatapan amarah yang Jay rasakan sepertinya tidak begitu baik, "Eh iya ntik, kenapa?"

"Kenapa masuk kamar aku sih? Sana keluar, hush hush~"

Jake berdiri dari berbaring. Ia mendorong punggung Jay hingga setengahnya keluar dari pintu. Saat hendak berbalik, Jay menarik Jake untuk memojokkannya. Jake terperangkap di depan Jay yang mengurungnya dengan kedua tangan di antara lengannya.

Sebuah kecupan singkat diberikan saat si cantik hendak berbicara. Belum dikatakan tapi kalimat itu hilang entah kemana. Masih dalam jarak 10 cm, Jake dapat melihat kedua netra Jay dengan lekat. Jay bukanlah seseorang yang jahat, hanya saja Jay perlu diperlu lebih didukung sebagai anak laki-laki. Netra Jake mengunci Jay di sana, kecantikan yang dimilik Jake membuat Jay nekad dalam segala hal.

"Jake, kalo suatu saat nanti lu jatuh cinta ke gue, gue berani jamin lu akan jadi orang paling bahagia di dunia ini."

"Dan kamu Jay, kamu akan menderita karena memaksaku mencintai seseorang yang bahkan tidak pernah aku bayangkan menjadi suamiku."

Senyum simpul di ujung bibir Jay membuat Jay mengerutkan keningnya, "Jika begitu mulailah membayangkan. Bukankah seru waktu apa yang kita bayangkan menjadi sebuah kenyataan?"

"Jake, gue emang mencintai lu sedalam palung mariana, setinggi langit ketujuh, setajam pisau yang diasah, dan tugas lu cuma perlu percaya. Itu kebenaran. Gue sayang sama lu, mencintai lu, gue juga punya materi, punya kekuasaan. Apa yang buat gue ditolak?"

Saat Jake hendak menjawab, suara ibunya mengagetkan saja. Jay dan Jake segera mengambil jarak. Jay yang masih menatap Jake yang memerah, keduanya sama-sama bereaksi terhadap kata 'cinta'. Dengan kesadaran yang masih waras, Jake menyuruh Jay pulang meski ibunya menggoda untuk Jay tidur bersama Jake saja.

"Iyakan Jay?"

"Kalo boleh, Jay gas aja sih tan."

Jake memukul dada Jay, "Diem. Sana pulang."

Dengan melihat langit yang sudah malam, Jake menghantar Jay dari balkon. Ia melihat motor kesayangan Jay dengan plat yang mengarah kepadanya. Jake tidak menyangka Jay akan mencintaimu seaneh ini. Diantara beberapa laki-laki dominan yamg menyatakan cinta, Jake rasa Jay adalah yang terakhir dan tetap mencintainya meski ditolak.

"Harusnya kamu jangan sama aku, yang benar aja Jay. Yuna tuh suka sama kamu, sana sama Yuna aja."

Tunggu... Kenapa Jake seperti cemburu?

"YOU'RE STUPID JAKE!"

Tapi suara yang lain juga terdengar, "Bahasanya dijaga Jake Sim."

- tbc.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 16 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

OBSESSION Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang