Apa jadinya kalau Langkir harus berurusan dengan Geng Bonjol (pengedar narkoba) yang di mana diketuai oleh Abangnya sendiri.
Langkir Dewa Sahaja, hidupnya sempurna bak tokoh fiksi di dalam sebuah novel. Seorang atlet voli, pintar dalam osn, ketua ge...
Bintang melingkari tangan Ayah Kim Cha dengan kuat, tidak ingin lepas. "Kejadian masa lalu yang kelam nyatanya bisa jadi candaan hangat di masa depan, Ayah."
Ayah Kim Cha tersadar lega. "Benar kata mu, Bintang. Ayah minta maaf, yah."
"Bintang sayang Ayah." peluk erat Bintang. "Ayah jangan lupa kalo Ayah nggak sendiri. Ayah punya Bintang, Bang Rizal, sama Nenek!"
"Makasih sudah mengingatkan, Nak."
Bintang menghampiri toko ayam yang terlaris di pasar itu. Bukanya dari jam enam pagi, biasanya jika sudah siang sedikit ayamnya habis.
"Pak, saya mau ayam ini." Bintang menunjuk satu ekor ayam yang tersisa bersama seseorang yang ada di samping kirinya. "Lo!"
Langkir menghadap Bintang. Dia bersama Mpok Imah. "Gue duluan yang nunjuk,"
Bintang mengerutkan dahinya. "Gue duluan yang nunjuk."
"Gue duluan, Bintang."
"Gue duluan!" kukuh Bintang. "Ayah lihat tadi, kan? Bintang duluan yang nunjuk."
"Bintang," tenang Ayah Kim Cha.
"Ayah tadi lihat, kan!"
"Tadi Langkir duluan yang nunjuk kan, Mpok?" tanya Langkir kepada Mpok Imah yang jadi saksi mata tadi.
"Maaf, Den!" Mpok Imah cengengesan. "Tadi Mpok Imah nggak terlalu ngeh kalo den yang duluan nunjuk."
"See!" Bintang merasa menang. "Lo nggak ada saksi yang akurat. Mending lo serahin ayam ini."
"Emang tadi bokap lo bilang lo duluan? Dia sama aja kayak Mpok Imah!"
"Eh," penjual ayam menengahi. "Kok, malah jadi bertengkar gini."
"Saya duluan kan, Pak?" tanya Bintang.
"Saya dulu, Pak." ujar Langkir.
"Tadi yang nunjuk duluan kalian berdua secara bersamaan."