Hujan turun begitu deras di malam itu, namun tidak ada satupun orang yang berhenti berlalu-lalang di jalan yang tergenang itu.
"Kabar hari ini, setelah 7 bulan melakukan penyelidikan, akhirnya kasus pembunuhan berantai yang menewaskan 6 anak SMP xxx di tangkap"suara presenter wanita terdengar dari arah Billboard yang terpasang di pertengahan jalan.
Ketika kebanyakan orang disana terus berlalu-lalang tanpa mendengarkan, tampak seseorang pria berambut hitam pekat yang berdiri di tengah-tengah mereka berhenti.
Ia menggenggam gagang payung hitam itu dengan tangan kanannya, wajahnya terangkat dan menatap keara Billboard.
kulitnya tampak putih pucat dengan mata lebar dengan pupil bulat, dia memiliki bibir tipis yang hampir seleras dengan kulitnya.
Bulu matanya tampak lebat dan sehitam rambut ikalnya.
Pria itu mengenakan kemeja putih dengan celana pendek berwarna merah, terdapat nama di dada kiri kemejanya yang bertuliskan 'Vino'.
"Pelaku berinisial M berusia 29 tahun yang tak lain merupakan guru dari sekolah tsb"ucap presenter sembari menunjukan vidio seorang pria yang sedang di giring oleh polisi berpakaian coklat.
Pria itu hanya menunduk dengan tangan terborgol.
Lalu
"Apa motif dari pembunuhan berantai anda ini, tuan Mint. Apa ada niat terselubung seperti balas dendam yang di pendam selama ini?"tiba tiba seorang wartawan melontarkan pertanyaan.
"Aku tidak membunuh orang"ucap pria dengan wajah yang masih tertunduk. Suaranya terdengar begitu tipis sampai tak bisa menyentuh telinga para wartawan.
"Jika anda benar-benar bukan pelakunya, bagaimana bisa dna anda ditemukan di tubuh korban?"
"Apakah anda melakukan aksi pembunuhan sendirian atau memiliki teman?"
Pertanyaan demi pertanyaan mulai di lontarkan para wartawan, para wartawan terus mencoba mengais informasi dari pria yang bahkan tak mampu membuka mulutnya.
Brak
Tiba tiba botol berisi air menghantam kepala pria berambut coklat tua itu.
Di sisi lainnya terdapat seorang pria yang dibanjiri air mata.
"Adikku,kembalikan adikku, brengsek "teriak pria itu keras.
Mata para wartawan seketika bercahaya merah, seolah-olah telah menemukan udang di air yang keruh.
"Setelah mendapatkan melakukan kekerasan seperti ini, apa anda akan membalas dendam setelah keluar dari penjara?"
"Tuan mint tolong beri kami tanggapan. Bagaimana anda melakukan pembunuhan tsb?"
"Tuan mint!"
"Tuan mint"
"Tidak aku tidak membunuh siapapun, aku sama sekali tidak membunuh satu orang pun"ucap pria itu yang terus di giring polisi melewati kerumunan yang memandangnya seperti mangsa Tsb.
Setelah cuplikan itu, layar kembali tertuju kepada presenter di ruang berita.
"Selanjutnya adalah berita cuaca!"ucap presenter itu.
" menurut pakar cuaca hari ini. Langit Chiang mai akan penuhi oleh awan hitam disertai hujan deras dan petir dalam waktu yang cukup panjang. Di himbau kepada para masyarakat yang akan berpergian untung berhati-hati dalam berkendara "ucap presenter itu bicara kembali.
Setelah terdiam cukup lama, pria itu kembali menggambil langkah dan melangkah menaiki trotoar.
Suara klakson mobil dan motor terdengar bersahutan di tengah derasnya hujan.
Selain orang-orang tampak ada benda lain yang memenuhi trotoar
Lembaran lembaran brosur yang tampak di penuhi jejak sepatu.
Tampak gambar seorang pria tertempel di brosur tersebut bersamaan dengan beberapa kata menghiasi atas foto.
"Beri keadilan untuk anak saya"suara terdengar dari sudut trotoar.
Tampak seorang wanita parubaya berumur 50 tahunan sedang meneriakan isi dari brosur yang sedang ia bagikan.
"Tolong beri keadilan untuk anak saya. Anak saya bukanlah pembunuh!"
"Anak saya di jebak, anak siapa tidak perna membunuh orang!"
Wanita itu terus berteriak keras tanpa mengendur, bahkan ketika suaranya tersamarkan oleh hujan yang turun.
Bahkan ketika brosur yang ia bagikan berakhir jatuh dan hanya di injak-injak. Wanita parubaya itu tetap berdiri disana sembari meneriakan keinginannya agar pemerintah memberikan keadilan untuk anaknya yang sedang di siarkan di berita yang kemudian di kenal masyarakat sebagai pelaku pembunuhan berantai.
Dengan payung yang tampak bengkok, wanita parubaya itu terus membagikan brosur yang ia genggam dengan erat.
Bahkan ketika tubuhnya sudah tak mampu berdiri, wanita itu tetap bangkit sembari meneriakan kata kata yang sama.
"Anakku bukanlah pembunuh!"
"Tolong beri keadilan untuk anakku!"
"Anakku bukanlah pembunuh!"
Air mata yang awalnya ia tahan kini jatuh membasahi pipinya yang keriput.
"Tolong siapapun, tolong beri keadilan untuk anakku!" Ratapnya parau sembari bersimpuh di atas trotoar. Menanti secercah harapan dari tangan yang Sudi mengulurkan bantuan padanya.
Tetesan hujan terus jatuh dan membasahi tubuh kurus nan ringkih itu.
Vino terus melangkah mendekat keara wanita yang masih mencium trotoar tsb.
Ketika dia tepat berada di hadapan wanita parubaya itu, air yang membasahi punggung ringkih nya telah berhenti digantikan dengan suara air yang di halau oleh permukaan payung.
"Apa kau ingin aku membunuh pelakunya!"ucap vino berjongkok dihadapan wanita tua tsb.
Suara vino terdengar begitu jernih tanpa terhalang oleh suara hujan.
Wanita itu langsung mengangkat wajahnya dan mendapati seorang pria muda sedang berjongkok tepat di hadapannya.
Wanita itu menatap vino dengan lekat. Menimang-nimang umur anak yang berada di hadapannya.
Namun hanya sepersekian detik digantikan dengan raut wajah yang membeku.
Wanita tua itu seketika menyadari suara riak air yang menghantam trotoar , suara derap pejalan kaki serta suara klakson yang saling bersautan seketika menghilang bersamaan dengan gerak-gerik manusia yang tampak membeku seketika.
"Apa kau ingin aku membunuh pelakunya?"tanya Vini tanpa ekspresi.
Matanya yang hitam menatap lekat wanita tua tsb.
"A-aku!"ucap wanita itu terbata.
Vino terus menatap wanita itu dengan ekpresi datar seolah sedang menunggu jawab dari wanita parubaya tsb.
'apa aku benar-benar ingin membunuh pelakunya?!' wanita itu kini terdiam dengan banyak pertanyaan yang memenuhi kepalanya.
'jika pelaku sebenarnya mati, apa anakku akan terbebas dari cap pembunuhan?'
Pikirannya seolah-olah berkecamuk, di lain sisi dia ingin membunuh pelaku yang menjebak anaknya, tapi di sisi lain apakah dengan membunuh orang itu dia bisa membuktikan kalau anaknya bukanlah pelaku sebenarnya?.
Perlahan wanita itu menatap vino, tangannya menggenggam tangan kanan vino yang terasa dingin.
setelah berkelahi cukup lama dengan pikirannya sendiri, wanita aitu akhirnya mengambil keputusan.
"Aku tidak ingin dia mati begitu saja, aku ingin dia mendapat ganjaran yang pantas"ucap wanita itu dengan air mata yang membasahi wajahnya.
"Baiklah"ucap vino mengangkat tangan kirinya.
Lalu
Ctik, dia menjentikkan jarinya.
Dan seketika suara hujan, derap langkah kaki dan suara klakson bersahutan yang semula berhenti kembali langit.
Pria yang tadi berjongkok dihadapannya telah menghilang hanya menyusahkan payung hitam yang menutupi tubuh wanita tua tsb.
....
Tap
Tap
Tap
"Hmmmm~🎶"
seorang pria berjalan sembari menggenggam payung hitam sembari bersenandung di tengah rintik hujan.
Sebagian wajahnya tertutup oleh payung dan hanya menyusahkan senyuman tipis menghiasi wajahnya.
seiring melewati lampu jalan yang cukup terang, bentuk bayangan itu tampak begitu pekat nan gelap.
Kemudian bertahap bayangan itu menyusut dan terus menyusut menjadi lebih kecil dari sebelumnya.
Bersamaan dengan tingginya yang kini kian menyusut.
....
SMP Xxx
"Swaddi khap, perkenalkan namaku Vino. Salam kenal semuanya!"ucap seorang remaja laki laki berambut hitam berdiri di depan kelas sembari menyatukan kedua tangannya.
Disclaimer: tinggi vino ketika menjadi siswa SMA adalah 165 cm, dan sedangkan tunggu vino siswa SMA adalah 145 cm
KAMU SEDANG MEMBACA
From Another (BL)
Mystery / Thrillerkau tahu apa yang paling mengerikan di dunia ini?. tidak mereka bukanlah iblis melainkan manusia sendiri. mereka rela melakukan apapun demi tujuannya tercapai entah itu harus menjatuhkan orang lain dengan cara mereka sendiri. para manusia yang terti...
