Bab Delapan

5.9K 536 23
                                        

Dari sudut matanya, Yoshi tidak sengaja melihat Ekhie yang berdiri terpaku tidak jauh dari mereka, dengan raut wajah yang terlihat shock. Ekhie berbalik dan berjalan menjauh tanpa suara.

Astaga! Yoshi harus melakukan sesuatu sebelum semuanya terlambat!

Yoshi langsung mendorong dada Kak Raino hingga ciumannya terlepas.

"Kak! Apa yang kakak lakukan?" tanya Yoshi.

"Aku sedang memberi kecupan sayang padamu," jawab Kak Raino berusaha romantis.

"Kenapa kakak melakukannya?" tanya Yoshi lagi.

"Kakak cuman ingin kamu tahu, kalau kakak menyayangimu lebih dari sekedar adik," jawab Kak Raino yang langsung membuat Yoshi terguncang.

Bagaimana mungkin Kak Raino menyukainya? Bahkan ia sendiri tidak merasakan gelagat aneh dari Kak Raino. Ia merasa Kak Raino selalu berperilaku sangat normal selama ini.

"Sejak kapan, Kak?" tanya Yoshi dengan suara agak lirih, seperti ada sesuatu yang menahan pita suaranya.

Kak Raino memegang kedua pipi Yoshi.

"Aku juga tidak tahu. Mungkin sudah lama," jawab Kak Raino lalu mencoba untuk mencium Yoshi sekali lagi, tapi Yoshi menahan bibir Kak Raino dengan jari telunjuknya.

"Kenapa?" tanya Kak Raino.

Yoshi tidak menjawab. Hatinya masih dirundung dilema. Apalagi setelah melihat Ekhie yang tadi tampak seperti... seperti... entahalah. Yoshi tidak tahu. Mungkin Ekhie cemburu padanya.

Yoshi sudah merasa kalau Ekhie mungkin saja menyukai Kak Raino sejak lama. Ia bisa melihat binar-binar di mata Ekhie ketika memandang Kak Raino.

Tiba-tiba saja Yoshi jadi teringat akan Zen.

Tunggu dulu! Kenapa ia mengingat-ingat orang itu di saat-saat seperti ini? Ah! Sepertinya ada yang tidak beres dengan otaknya.

Karena tidak ada jawaban dari Yoshi, tanpa diduga, Kak Raino berlutut di depan Yoshi sambil memegang tangan kanan Yoshi.

"Yos! Apa kamu mau menerimaku?" tanya Kak Raino dengan sungguh-sungguh.

Astaga! Yoshi tidak sadar kalau dirinya baru saja menahan napas ketika Kak Raino mengatakan kalimat barusan. Apa yang harus ia katakan? Jawaban apa yang harus ia berikan pada Kak Raino?

Dalam hati, Yoshi sebenarnya sangat mengagumi sosok Kak Raino. Tapi di sisi lain, ia juga tidak enak dengan Ekhie.

Yoshi berpikir-pikir lagi. Mungkin saja perkiraannya salah. Mungkin saja Ekhie tidak seperti yang apa yang Yoshi kira.

Akhirnya setelah memantapkan dan meyakinkan hatinya, Yoshi menatap wajah tampan Kak Raino.

"Aku..... aku.....," lidah Yoshi terasa sangat kaku. Ia terlalu gugup, tapi bukan gugup yang menyenangkan. Yoshi menarik napas dalam.

"Mungkin kita bisa coba," jawab Yoshi. Terlihat wajah Kak Raino yang sumringah dan langsung berdiri untuk memeluk Yoshi.

"Terimakasih. Terimakasih sudah memberiku kesempatan," bisik Kak Raino lirih di telinga kanan Yoshi.

Namun dalam hati, Yoshi masih meragu dengan keputusan yang diambilnya ini.

"Tapi aku punya permintaan," kata Yoshi pada akhirnya yang membuat Kak Raino melepas rangkulannya.

"Apa itu?"

"Jangan pernah buat aku kecewa, Kak," jawab Yoshi.

"Tentu. Tentu saja," balas Kak Raino lalu mencium mesra kening Yoshi.

Strawberry (boyslove)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang