Bab Sebelas

5.6K 547 15
                                        

Amel terpaku mendengar pengakuan dari Yoshi. Seperti ada setitik kemarahan di hatinya hingga membuatnya tak mampu berkata-kata lagi.

"Tapi aku sudah memaafkannya. Tadi pagi dia minta maaf padaku sambil nangis-nangis. Aku pikir dia sudah sangat menyesal dengan perbuatannya," ujar Yoshi.

Amel memandang Yoshi dengan ragu.

"Terus kamu balikan sama dia?" tanya Amel.

"Tidak. Aku sudah bilang sama dia kalau aku tidak bisa balikan lagi sama Kak Raino," jawab Yoshi. Seketika, Amel menghembuskan napas dengan lega.

"Aku pikir kamu balikan sama dia. Syukur deh kalau begitu. Kalau bisa tidak usah bicara lagi sama manusia jahat seperti itu!" ujar Amel sedikit marah, tapi ia tahan.

"Sudahlah. Aku sedih kalau mengingat-ingatnya lagi," balas Yoshi. Amel hanya memandang Yoshi dengan tatapan kasihan sambil mengelus-elus pundak Yoshi.

"Lalu nanti malam kamu datang sendiri? Atau kalau tidak kita datang sama-sama saja," usul Amel.

"Iya deh. Nanti aku ke rumahmu," balas Yoshi.

***

Jam dinding kamar sudah menunjukkan pukul 06.30 malam. Yoshi sudah berpakaian rapi. Ia mengusap-usapkan minyak rambut ke seluruh helai rambutnya.

Beberapa saat kemudian, terdengar pintu kamarnya diketuk dari luar. Yoshi berjalan ke arah pintu kamar dan membukanya.

"Yos, aku bawakan kamu...... lho? Kamu mau kemana?" tanya Zen sambil menenteng sebuah kantong plastik hitam. Dan sepertinya itu untuk Yoshi.

"Aku mau pergi ke acara pesta ulang tahun temanku," jawab Yoshi.

"Pantas saja kamu keliatan sangat rapi," balas Zen sambil menyandarkan pundak kirinya di sisi ambang pintu.

"Hm.. kamu bawa apa tuh?"

Zen menatap kantong plastik di tangannya lalu tersenyum.

"Ini es krim buat kamu. Tapi sepertinya kamu mau pergi. Jadi nanti saja aku berikan. Aku taruh saja di dalam kulkas. Kamu kesana naik apa?" tanya Zen lagi.

"Aku naik kendaraan umum," jawab Yoshi sambil mengunci pintu kamarnya.

"Biar aku antar kamu saja," tawar Zen. Mendengar hal itu, Yoshi langsung menegakkan tubuhnya.

"Apa? Oh... tidak perlu. Aku bisa ke sana sendiri kok," tolak Yoshi.

"Sudahlah. Aku yang akan mengantarmu ke sana. Kamu tunggu saja sebentar di ruang tamu. Aku ganti baju dulu," kata Zen tiba-tiba lalu langsung masuk ke dalam kamarnya sendiri tanpa memberi Yoshi celah untuk menolaknya.

Yoshi berjalan ke ruang tamu sambil merenung. Sepertinya tidak masalah jika ia pergi bersama Zen. Paling tidak, ia ada tambahan teman untuk mengobrol di sana nanti.

Tak apalah...

***

Jam tangan Yoshi sudah menunjukkan pukul 07.10 malam waktu setempat ketika ia, Zen dan Amel tiba di pesta ulang tahun di hall salah satu hotel terkenal di Kota Malang.

Acaranya sungguh elegan. Terlalu elegan malah. Banyak orang yang memakai jas dan berpakaian formal. Berbeda dengan Yoshi dan Zen yang berpakaian yang santai namun rapi.

Sedangkan Amel memakai pakaian yang memang fleksibel, gaun ringan yang terlihat menyatu dengan para tamu-tamu kalangan atas ini.

Yoshi menatap Zen sambil tersenyum meringis. Lalu ia berpaling pada Amel.

Strawberry (boyslove)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang