Siang itu Hinata baru selesai dari latihan di dojo keluarga Hyuga. Sesuai niat dan rencananya dia akan mengantarkan laporan misinya pada Godaime Hokage usai latihan.
Pikirannya sangat fokus untuk segera sampai ke kantor Hokage. Hingga dia tak melihat ada orang yang dikenalnya baru keluar dari tempat yang akan dituju.
Ketika namanya di panggil. Ia pun menoleh mencari sumber suara. Yang dilihatnya adalah pemuda blonde dengan mata safir yang sedang tersenyum kearahnya. Pemuda yang dia hindari.
Memutuskan untuk membuang hati mu. Keputusan yang gampang diucapkan tapi sulit dilakukan. Dia tau kelemahan dari keputusannya adalah pemuda di depannya ini.
Hatinya. Hatinya yang hampir seluruhnya diisi oleh calon Rokudaime dihadapannya ini. Dia sudah memupuk perasaannya hampir dari separuh umurnya.
Membuangnya begitu saja adalah misi yang tersulit. Namun dia tau dengan memutus paksa indra penglihatan dan pendengarannya atas keberadaan orang dihadapannya ini maka dia juga pasti bisa membuang secara paksa hati dan perasaan yang membuatnya lemah.
"Berjanjilah.." Hinata teringat dengan suara Naruto.
Sekarang dia telah selesai melaporkan misi. Dan mendapatkan misi baru. Ingin langsung pulang dan mempersiapkan peralatan untuk melakukan misi solo dari Hokage.
Tapi suara tadi memasuki pikirannya.
"Hah~ " menghela nafas panjang.
Akhirnya Hinata memutuskan untuk mencari Naruto dan memberi tau jika dia tidak bisa datang ke undangan Yakiniku.
Ia bisa melihat Naruto diarea latihan tim 7. Segera melangkahkan kakinya mendekati.
"Hinata.."
"Eh?" Hinata sontak berhenti didekat pohon besar. Tadi bukan suara seseorang menyapanya. Tapi namanya yang disebut dalam perbincangan dua arah. Setelah matanya melihat lebih teliti, ternyata disana ada Kiba juga.
"Berhentilah memikirkan Sakura. Kau bisa mencoba memikirkan gadis lain.. hm.." Kiba agak ragu mengucapkannya.
"Hinata misalnya..."akhirnya Kiba melanjutkan ucapannya. Dan naas nya di dengar si pemilik nama.
Hinata mengeratkan genggaman tangannya. Hingga tak terasa darah segar mengalir karna cengkraman kukunya terlalu kuat.
Dia mengurungkan niatnya untuk memberi tahu Naruto jika ia ada misi dan tak bisa datang. Melangkah pergi.
#dari sisi Naruto#
Setelah curhat dengan guru Iruka dan ternyata menjawab lima elemen pertanyaan tadi tidak lah mudah. Dia memutuskan untuk latihan saja sambil menghabiskan waktu dan berharap akan membuat otaknya fresh.
Selesai latihan dia beranjak menuju pohon rindang dan ternya disana sudah ada Kiba yang menunggunya.
"Yo Kiba!" Sapa Naruto.
"Yo Naruto!" balas Kiba.
Dan usai sapa menyapa dan saling menanyakan kabar masuklah kedalam perbincangan yang mulai serius. Karna mulai dari awal tujuan Kiba kemari adalah membicarakan hal ini.
"Menurut mu bagaimana dengan Hinata?" Tanya Kiba.
"Eh.. Hinata ya? Hm.. dia teman yang baik." Jawab Naruto singkat.
Sebetulnya banyak yang ingin dia ucapkan tapi bingung dari mana dan mulai mana jika sudah menyangkut Hinata.
'Dia masih menganggapnya teman rupanya' simpul Kiba dalam hati.
"Kau tau akhir-akhir ini Hinata berubah." Ucap Kiba. Naruto hanya mendengarkan dan tak merespon, dia ingin mendengar lebih.
"Tiga minggu yang lalu. Hinata ada misi solo yang diperintahkan ayahnya. Aku dan Shino bersikeras untuk ikut dalam misi itu dan kami mendapatkan izin dari Godaime. Dan misi sukses." Ucap kiba menghela nafas.
"Syukurlah. Bukan kah itu berita bagus? " balas Naruto.
" 80% misi dituntaskan oleh Hinata dan 20% sisanya aku dan Shino. Hinata mengalahkan hampir semua ninja bayaran itu." Jelas Kiba lagi.
"Hinata itu memang kuat Kiba. Jadi jangan bersedih hanya karna dia mengalahkan lawan lebih banyak dari mu." Ucap Naruto.
"Dia membunuh lawan tanpa ampun." Ucapan Kiba yang ini mampu membuat Naruto kaku.
"Hinata memiliki akurasi byakugan yang tepat. Tapi dia akan sengaja menggesernya sedikit dari titik terlemah lawan." Ujar Kiba lagi.
"Dia pernah berkata pada kami 'beri dia kesempatan, bukan kah manusia memiliki hak untuk hidup dan berubah menjadi baik' " Kiba melirik Naruto. Pandangannya sulit diartikan. Tapi ia yakin Naruto masih mendengarkan.
"Dan akhirnya misi kami selama ini terkadang berakhir dengan status gagal."
"Dia selalu meminta maap pada kami jika usai misi. Tapi sesungguhnya aku dan Shino tak merasa keberatan dengan hal itu. Kami malah nyaman."
"Seperti melempar satu batu dua burung kena. Membantu klien kita dan membantu musuh agar memiliki jalan hidup yang baik."
"Hah~ " Kiba menghela nafas berat. Dia ragu apa keputusannya menceritakan ini pada Naruto benar.
"Kiba.. aku..." Naruto bingung harus bicara apa.
"Bisakah kau mengembalikan hatinya dan dirinya yang dulu?" Ujar Kiba lantang.
Selama ini dia berfikir perubahan Hinata adalah karna cinta Hinata yang bertepuk sebelah tangan. Akibat teman di depannya yang selalu memuja gadis berambut pink itu.
"Berhentilah memikirkan Sakura. Kau bisa mencoba memikirkan gadis lain.. hm.. Hinata misalnya..." ucap Kiba tanpa disadari ada yang mendengar ucapannya.
Hening cukup lama.
"Naruto.. maap.. maksud ku.." Kiba bingung mau berbicara apa. Dia merasa sangat bersalah. Dia sudah melewati batas seorang teman.
"Kau tau.. selama ini yang ku pikirkan memang Hinata." Ucap Naruto tegas.
"Eh?"
"Terimakasih Kiba! Kau membantu ku!" Ucapnya lantang.
Kiba masih diam ditempatnya memikirkan apa yang diucapkan Naruto.
'Bukankah yang minta bantuan dia, kenapa Naruto yang terbantu?' Gumamnya dalam hati.
Lamunan Kiba terputus mendengar teriakan Naruto "Jangan lupa datang ke Yakiniku jam 9 malam nanti ya! Ajak Shino juga!" Sambil melambaikan tangan.
Naruto melompati pohon-pohon dari area latihan tim 7 menuju pusat kota Konoha berniat mencari Hinata.
'Yosh! Akhirnya aku menemukan jawaban satu dari lima elemen pertanyaan. 'Siapa' Hinata adalah jawabannya.' Ucapnya dalam hati penuh semangat. Menemukan titik cerah.
Masih ada empat elemen pertanyaan yang belum kau jawab Naruto!!
-.-"
KAMU SEDANG MEMBACA
End Of War, Start For Everything
FanfictionPerang dunia ke empat telah usai. Semua kembali ke desa masing-masing. Kegaulaun Naruto tentang perasaan yang tak ia mengerti. Di balik sikap Hinata yang menjauhi Naruto. PILIH ENDING VERSI MU SENDIRI temukan tiga panel ending dengan versi yang ber...
