Deru angin berteriak di telinga
Jerit ombak membisik pada hati
Perlahan air datang membasuh jemari
Pasir halus tertinggal di punggung kaki
Jemari menggenggam imaji
Mulut diam terkunci
Senja turun menyentuh bumi
Lembayung mengurat mega
Laut merintih sedih
Awan menggemuruh marah
Semuanya pekerjaan angin
Titik itu air, merembes ke dalam pasir
Kukira hujan ternyata tangis
Kuat angin mendorongku dari belakang
Tubuh berguncang tak kutahan
Ombak menghantam betis
Hujan ternyata turun
Biarkan aku sendiri
Dengan imaji yang lepas dari genggam
Petrichor
Angin membuatku mengendus bau itu
Rindu menghujam hati
Memburu ingatan
Terpaan itu membuatku seakan disuruh beranjak tapi
Tertancap sudah kaki ini pada pasir halus
Rintik kecil turun masih
Lalu hinggap sebentar di pelupuk mata dan kemudian jatuh lagi ke laut
Bersatu dalam tetesan
Menguap ke langit dan menjadi awan
Berkumpul jadi besar
Lalu turun hujan
Siklus
Angin yang membawanya
Ia juga membawamu
Getar itu halus mengguncang anak rambut
Terbang ke belakang
Kuduk berdiri hati tergetar
Firasat buruk
Segurat senyum di wajahmu
Tak pernah kulihat sebelumnya
Aneh dalam pikirku
Kau mendekat aku tercekat
Desau itu membisik perlahan
Angin itu mengecupku mesra
Cepat dengan
Ia pergi terbang
Hilang lenyap
Musnah sirna
Pergi selamanya...
Angin berhembus lalu hilang, lagi
KAMU SEDANG MEMBACA
Interval
PoetryKita ada karena jarak. Itu ada antara aku dan kau. Interval itu selang, berada di tengah tengah. Jauh atau dekat, sejengkal atau ribuan mil, jarak tetaplah jarak. Perasaan ini tetap milikku dan untukmu, tapi bagaimana kalau berubah? Bagaimana kalau...
