Pernah aku bertanya
Wahai hati apakah kau akan luluh lagi?
Apa aku akan merasakannya lagi?
Apa aku berani jatuh lagi?
Apa aku siap untuk menanggung semua resiko itu?
Hahaha
Hati, aku bodoh ya kan?
Tapi kurasa semua orang berhati juga kadang bodoh sepertiku
Hey, hati
Kurasa kau tak perlu menjawab tanyaku
Aku tahu jawabannya
Aku tahu ...
Aku mengerti sekarang
Jadi, biar aku jawab
Entah tentang ini
Hatiku mungkin sekarang sudah mulai mengeras seperti es, tapi, yang aku tahu tentang es adalah
Es bisa mencair ketika dihangatkan
Walau benteng itu tebal
Ia hanyalah sebuah dinding biasa yang diberi nama benteng
Ia bisa ditembus bahkan hancur
Karena jatuh itu ke bawah, artinya aku harus mau mencium tanah
Untungnya bukan ke atas, karena aku takut ketinggian
Tapi, aku akan mencoba menanggungnya
Menahannya
Karena aku bukan yang waktu itu
I grow stronger
Hey, kamu!
Tembuslah bentengku kalau kau berani!
Lelehkan es beku ini kalau kau mampu!
Buatlah aku jadi milikmu,
Kalau kau mampu
Pasti kutunggu
Hey semesta!
Jadilah saksi
Dan kau burung, beritahu dia jangan main main
Aku tidak mau dipermainkan
Hatiku bukan mainan
Dan kau hujan, kepunglah dia dalam kebingungan
Agar aku tahu tujuannya yang sebenarnya
Dan debu, butakanlah ia
Supaya dia tahu cinta itu buta tapi hatiku tidak
Dan Kamu!
Majulah selangkah demi selangkah
Perlahan saja, karena kau takan bisa mundur
Jangan jadikan kesempatan yang kuberi sia sia
Aku tidak mau menyiram tanaman di bawah hujan deras
Terima kasih, itu saja
Yaa, itu saja
Kurasa...
KAMU SEDANG MEMBACA
Interval
PoesíaKita ada karena jarak. Itu ada antara aku dan kau. Interval itu selang, berada di tengah tengah. Jauh atau dekat, sejengkal atau ribuan mil, jarak tetaplah jarak. Perasaan ini tetap milikku dan untukmu, tapi bagaimana kalau berubah? Bagaimana kalau...
