Aku menatap bayangan diriku dibalik cermin besar. Tampak luka lebam di leher, lengan, kaki, dan hampir di seluruh tubuhku. Semua luka lebam ini kalah sakit bila dibandingkan luka batin yang kuterima. Aku memang seorang istri yang bodoh. Tidak memberikan perlawanan saat suami yang kucintai melakukan berbagai tindakan kekerasan kepadaku. Mungkin segala umpatan dan caci maki kurang cukup baginya untuk menyiksaku.
Aku tertawa,
menertawakan kemalangan diriku sendiri. Namun kulihat cermin didepanku memantulkan bayangan diriku yang mengeluarkan air mata.
"Aku pulang, dimana kau?
Cepat siapkan kopi panas untukku, pemalas!" Teriak suamiku dari lantai bawah.
Suara teriakannya memecahkan lamunanku. Segera kugulung kembali lengan panjang bajuku, menutupi luka-luka lebam. Lalu turun menghampiri suamiku.
Aku melayani suamiku sebagaimana istri yang setia menjalankan kewajibannya.
Tercium bau alkohol menyeruak dari arah suamiku. Ia berjalan sempoyongan sambil mengejap-ngejapkan matanya yang tak fokus.
"Duduklah disini." Ujarku sambil menggiringnya untuk duduk di sofa.
"mengapa kau pulang lembur dengan keadaan setengah sadar seperti ini?" Tanyaku sambil melepaskan sepatu dan kaus kaki yang melekat dikakinya.
Ia tidak menjawab pertanyaanku. Kepalanya tertunduk dan terdengar suara sungutan.
"Mengapa dulu aku bisa terjerat dengan perempuan payah sepertimu. Istri mandul yang tidak akan pernah bisa memberikanku keturunan."
Kata-kata tajamnya tembus menusuk hatiku.
Aku tidak mandul.
Aku keguguran, 4 kali. Kata dokter rahimku lemah.
Tanpa kusadari, air mataku menetes. Ia berdiri dihadapanku, menatap geram setelah melihat air mataku megalir. Tangannya melayang menampar pipiku. Aku kembali menangis. Kali ini dengan tatapan jijik, ia mencengram lenganku kuat lalu berteriak,
"Berhenti menangis! Aku muak melihat air mata buayamu!"
Ia memberiku beberapa pukulan keras lainnya. Lalu dengan kasar ia menarik tanganku, naik menuju kamar. Aku memberontak, namun tenagaku jelas kalah jauh darinya. Ia mendorongku masuk lalu mengunci pintu dari luar.
Kali ini sudah keterlaluan, ia memperlakukanku seperti binatang. Aku menjerit, memukul-mukul pintu memohon dibebaskan. Tak lama kemudian, ia masuk kembali ke kamar, membawa sesuatu barang yang tak pernah kulihat sebelumnya.
Ia mendorong tubuhku jatuh ke ranjang. menindih badanku sehingga aku terkunci dibawahnya. Aku panik, dengan sekuat tenaga ku dorong badannya memberi perlawanan. Mencoba memukul-mukul tubuhnya, namun segala usahaku sia-sia. Ia mengambil benda itu lalu memasangkannya pada kedua tanganku.
Sekarang aku ingat, itu adalah alat pasung. pernah ku melihatnya saat menonton film jaman perbudakan. Namun, tak kusangka suamiku sendiri memiliki benda mengerikan itu, dan sekarang kedua tanganku terikat dalam pasungannya.
Aku terus menjerit dan menangis, menguncang-nguncangkan pasungan yang mengikat kedua tanganku. Ia menatapku datar tanpa rasa iba sedikitpun.
Tenagaku terkuras, aku duduk terkulai lemas diranjang dengan jantung yang berdegup kencang. Melihatku mulai tenang, ia pergi keluar kamar meninggalkanku.
****
Sudah hampir sebulan ia mengikat kedua tanganku dengan alat pasung ini, terlihat jelas lebam dan lecet di sekitar pergelangan tanganku. Aku tidak memiliki semangat hidup. Wajahku menjadi semakin tirus dengan kantung mata besar di bawah kedua mataku. Bibirku pucat dan kering. Lengkap sudah penampilanku sebagai mayat hidup.
Sosok suami yang selama ini ku sayangi, berubah menjadi iblis jahat yang paling kubenci. Tak ada hentinya aku memberi segala perlawanan dan berontak. Tubuhku kurus kering akibat jarang menyentuh makanan yang disediakannya. Puncaknya, saat aku memejamkan mata, berpura-pura tidur, kudengar suara dua langkah kaki memasuki kamarku.
"Apa kau tidak terlalu kejam kepadanya?" Tanya seseorang wanita yang suaranya asing ditelingaku.
"Aku tidak memiliki pilihan.." jawab suamiku.
Sekarang aku sadar, alasan ia memasungku dikamar. Suami iblisku tidak ingin istri mandulnya mengetahui perselingkuhannya dengan wanita lain.
Tak lama kemudian, mereka keluar dari kamarku, mungkin takut aku bangun dan menangkap basah mereka berselingkuh. Hatiku sebagai seorang wanita sangat terlukai. Aku menangis dalam diam, meratapi keadaanku.
Lalu kuputuskan untuk memberi balasan kepadanya. Aku tak pernah lagi memberontak karena dipasung, aku selalu makan apa yang ia sediakan untukku. Aku bersikap tenang layaknya tak terjadi apapun diantara kita.
Seminggu kemudian, usahaku berhasil. Suamiku melepas pasungan yang ada ditanganku. Ia membiarkanku bebas berkeliaran dirumah.
Suatu hari, ketika suamiku baru pulang kerja, aku telah menunggu lama kepulangannya. Aku menyuguhkan kopi panas yang menjadi faforitnya selama ini. Setelah ia menikmati kopi itu, ku layangkan pisau besar yang sudah kusiapkan sedaritadi tembus tepat mengenai jantungnya. darah segar mengalir dari arah dadanya.
Kucabut pisau besar yang tertancap di dadanya. Lihat, sekarang ia pasti merasakan sakit hati yang kurasakan. Aku akan mengirim kami berdua ke neraka, tempat dimana iblis selayaknya tinggal. Biarlah aku juga masuk neraka karena membunuhnya, karena ia juga akan berada di neraka, merasakan sakit, berdua.
Kulayangkan pisau besar itu kearah dadaku, menusuk jantungku sama seperti yang kulakukan tadi, hingga perlahan kesadaranku menghilang selamanya.
*****
"Dokter Reni, bagaimana akhir kasus pasienmu yang membunuh suami dan dirinya itu?" Tanya rekan kerjaku.
"Kasus sudah ditutup pihak polisi, tidak ada yang bisa disalahkan, pelaku menderita gangguan jiwa dan ia juga sudah bunuh diri." Jawabku.
Aku menatap nanar kedua peti mati tempat tidur terakhir pasienku dan suaminya. Tak kusangka ia akan berbuat seperti ini. Pasienku adalah penderita skizofrenia. Sejak kegugurannya yang keempat kali, ia sangat depresi dan sering memukul-mukuli dirinya sendiri. Namun anehnya ia selalu merasa suaminya lah yang menyakitinya. Sampai suatu hari ia menjerit-jerit histeris, mencekik, dan terus menyiksa dirinya. Suaminya tidak bisa menghentikan perbuatannya memutuskan untuk memasung tangannya dikamar agar ia berhenti menyiksa dirinya. Aku sempat mengunjunginya saat ia sedang tertidur. Keadaannya sangat mengenaskan.
Belakangan kudengar keadaannya semakin membaik, suaminya jadi bisa melepaskan pasungannya. Namun tak kusangka ia nekat membunuh suami dan dirinya.
Kuharap, disurga sana mereka berdua bisa hidup bahagia.
---end---
Pas lagi iseng buka2 discover, Gak nyangka 3S - Sad Short Story bisa masuk urutan ke-9 di #sad. :"")
Makasih banyak buat kalian yg mau baca cerita-cerita absurdku yaa. Vote dan feedbacknya sangat ditunggu lohhh hehe.
KAMU SEDANG MEMBACA
3S- Sad Short Story
Short StoryKumpulan cerita pendek one shoot dengan bertemakan sedih. Bad ending area. Rank 6 #Sad - 6 Maret 2016 #Indonesiamembaca
