Some Help

2.5K 219 7
                                        

"Aku tidak tau apa yang terjadi! Semuanya terjadi begitu saja dan.. Dan... Joseph..."

"Tenanglah Fyo, kami tau hal ini sangat menekanmu.. Itu hanya kecelakaan.. Joseph selalu ada bersamamu.." Christopher mengusap bahu Fyo yang masih menangis tersedu - sedu menggandeng erat tangan Trissta.

Tidak lama kemudian, Rox datang dan berlari kencang ke arah anak satu - satunya itu. Tangannya yang dingin mulai mendekap erat anaknya mendekat ke tubuhnya.

"Trissta! Oh syukurlah tidak ada yang terjadi padamu.. Dimana Joseph? Apa dia.."

"Rox, Joseph tidak selamat. Ia hangus dan apa kau tau? Jarinya terpotong 2 dan ada bawang berceceran dimana mana.. well, bawang gosong yang baru saja terpotong setengah.."

"Mungkin mata Joseph terkena bawang.. Dan.. Ia ceroboh.. Ugh aku tidak mengerti, Chris. Ia sangat handal sebelumnya. Ia bahkan dapat memasak dengan berbagai trik yang mungkin berbahaya. Aku hanya tidak mengerti."

"Semua orang pasti pernah lalai. Jangan terlalu dipikirkan.." Christopher mulai memeluk Rox juga anaknya yang memandang polos kedua orangtuanya itu, khawatir bagaimana jika anaknya ikut terbakar bersama Joseph.

"Syukurlah kamu ada di kamarmu pada saat itu. Jika tidak, papa dan mama tidak akan memaafkan diri kami."

-------||------

Senin, 2 November 1953  10:30

Beberapa polisi mulai datang ke rumah kami bersama 2 orang detektif. Mereka masih kurang yakin jika ini adalah kejadian kecelakaan biasa, mengingat Joseph adalah seorang juru masak yang sangat handal.

"Tidak mungkin ia membiarkan minyak menumpahi dirinya sendiri juga membiarkan kompor menyala begitu saja. Seperti apa yang Anda bilang, ia tidak pernah ceroboh sebelumnya kan?"

"Benar sekali Mr. Gedone. Itulah mengapa kami sedikit bingung. Anak kamipun terpaksa melihat orang yang dekat dengannya meninggal seperti itu."

"Sementara itu, jangan biarkan anak Anda mengetahui tentang kecurigaan Anda terhadap kejadian ini.. Itu akan berdampak sangat buruk terhadap pikirannya."

"Terimakasih Mr. Gedone, kami benar benar membutuhkan bantuan Anda juga bantuan rekan Anda." Christopher dan Rox berdiri dari kursi ruang kerjanya dan menjabat tangan sang detektif, Edward Gedone juga Felicia Catherine.

Gedone dan Catherine mulai mendatangi tempat kejadian dan mempertanyakan semua orang yang ada di rumah, kecuali Trissta karena ia masih kecil juga tidak ingin membuatnya trauma karena kejadian mengenaskan itu.

Mereka terus mengulik informasi hingga beberapa jam mereka habiskan, tetapi ia tidak dapat menemukan motif apapun untuk suatu pembunuhan. Tetapi hal itu pun tidak memperkuat dugaan bahwa hal itu adalah suatu kecelakaan biasa.

Hingga beberapa jam kemudian, Gedone dan Catherine mulai mengumpulkan kesimpulan bahwa itu bukan hanya kecelakaan biasa dan terlihatnya, tidak ada satupun orang dewasa di rumah tersebut yang menyumpan dendap kepada Joseph, bahkan Fyo sekalipun.

Catherine yang sedang memperhatikan lantai dapur mulai merasa seseorang mengawasinya dan dengan sigap menoleh ke belakang yang dapat ia temui Trissta yang sedang berdiri disana, menatap lurus ke arah wajah Catherine.

"Hi there.. Jangan takut dengan semua ini okay? Semuanya baik baik saja.."

Catherine mulai mengusap kepala Trissta, membuatnya sedikit menggeram kecil yang mungkin tidak dapat terdengar oleh Catherine sekalipun.

"Kamu tidak banyak berbicara ya.. Yaudah, kembalilah ke mamamu.. Kejadian tadi siang tidak perlu kamu pikirkan, sweetie.. Semua ini tidak ada hubungannya denganmu.."

Catherine menggenggam tangan Trissta dan membawanya menjauh dari dapur rumah atau dapat dibilang, tempat kejadian peristiwa 'kecelakaan' itu.

Trissta mulai berjalan mengikuti detektif wanita tersebut ke arah ruang tamu. Catherine benar benar tidak ingin meninggalkan nightmare untuk anak semuda dan semanis Trissta. Lagipula, pemikiran tentang kematian bagi anak kecil adalah hal yang akan melekat selama mungkin didalam pikirannya, dan Catherine tidak ingin mengambil resiko tersebut.

"Okay, kita tunggu disini aja gimana? Mr. Gedone memang suka meneliti sangat sangat dalam. Jadi.. Kamu tidak keberatan kan bila kami disini sejenak?"

Trissta menggelengkan kepalanya perlahan dan duduk di sofa empuk ruang tamu miliknya. Disana sudah ada Christopher dan Rox yang sedang menenangkan Fyo yang kelihatannya masih tidak bisa merelakan kepergian Joseph.

Catherine dengan sopan mulai duduk di hadapan Christopher juga Rox. Tidak lupa juga untuk menceritakan pengamatannya.

Trissta yang awalnya disuruh untuk bermain dulu dikamarnya, malah mendengarkan juga mengintip dari balik pintu dari ruang tamu ke koridor.

"Jadi.. Semua ini aksi pembunuhan..?"

"Benar, Mrs. Everett. Menurut pengamatan kami, adanya minyak pada badan korban bukan kecelakaan, melainkan ada orang yang benar benar menuangkannya ke badan korban. Juga potongan jari korban sedikit aneh.. Jika korban memyadari tangannya yang terkena pisau, mungkin hanya akan muncul sayatan yang sedikit dalam, tetapi tidak memotong seluruh jari."

"Benar.. Juga.."

"Tolong jangan khawatir, Mrs. Everett. Beri kami 1 minggu untuk menemukan pelaku. Jika kami tidak menemukannya, kami dapat mengumpulkan kembali segala buktinya untuk memastikan semua itu hanya kecelakaan."

"Terimakasih, Ms. Catherine.. Juga untuk rekanmu, Mr. Gedone. Kami berharap Anda dapat membantu kami."

"Sama sama Mr. Everett.."

Trissta mulai menutup kembali pintu di hadapannya perlahan dan berjalan santai ke arah kamarnya, mengetahui tidak akan ada yang menyalahkannya atas segala ini karena ia baru saja 6 tahun, nyaris menginjak 7.

Tidak ada orang yang berpikir akan menuduh anak berumur 6 tahun, bukan?

TRISSTATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang