Sabtu, 7 November 1953. 11:26
Masalah kematian itu sudah direlakan oleh keluarga Trissta begitupun staff staff dirumahnya. Mereka telah menganggap kematian Joseph adalah kebetulan juga kecelakaan, bukan karena dibunuh ataupun disengaja.
Seperti Sabtu siang biasanya, tukang kebun langganan Rox selalu datang untuk memotong rumput di halaman belakang rumah Trissta juga menata kembali rumput rumput disana. Tak lama pula Trissta menyimpulkan bahwa tukang rumput tersebut akan menjadi korban berikutnya.
"Oh, Peter. Anda sudah datang."
"Benar sekali, Mrs. Everett. Jadi, dimana Saya memulai memotong rumput Anda?"
"Di halaman belakang, seperti biasanya. Juga di belakang ada mesin pemotong rumput, tetapi sepertinya agak macet jadi Saya siapkan pula gunting pemotong rumput."
"Ah terimakasih banyak, Mrs. Everett. Bisa saya mulai?"
"Tentu saja" Rox mulai tersenyum pada Peter, sang pemotong rumput dan meninggalkannya di halaman rumah. Tanpa bertanya dua kali, Peter mulai menerjakan pekerjaannya itu.
Peter mulai membuka gudang kecil di halaman belakang rumah dan mencoba untuk menyalakan mesin pemotong rumput itu. Tetapi tidak beruntung. Pemotong rumput tersebut tidak menyala juga. Dengan rasa terpaksa, Peter mulai meraih gunting rumput yang lumayan besar dari sampingnya dan mulai memotong rumput halaman belakang.
Trissta yang mengintip dari jendela kamarnya mulai berlari ke halaman belakang rumahnya dan memasuki gudang kecil halaman. Ia terus mencoba menyalakan alat pemotong rumput itu dengan segala cara. Dan tak disangka, ia dapat membuat alat pemotong rumput tersebut menyala dan membuat bunyi bising yang mengundang perhatian Peter.
Dengan sigap, Trissta berlari melompat dari jendela belakang gudang kecil dan mengintip Peter yang memasuki ruangan dan membawa alat tersebut keluar gudang. Melihat itu, Trissta perlahan kembali memasuki gudang lewat jendela dan mulai mencabut kabel alat pemotong rumput itu.
Peter menggeram kesal karena alat tersebut mati kembali. Dengan langkah geram, ia kembali kedalam gudang dan mencolokkan kembali kabel tersebut. Tetapi sebelum itu, Trissta dapat menyelinap keluar gudang dan menyempilkan bebatuan ke antara besi pemotong.
Karena tidak menyalanya alat tersebut, Peter mencabut kabelnya dan kembali ke tempat dimana ia menyimpan alat pemotong rumput tersebut. Saat tangannya berusaha mengambil batu dari besi pemotong, Trissta mulai mencolokkan kembali kabel dari alat tersebut yang menyebabkan tangan Peter terpotong oleh besi pemotong itu. Pekikkan kesakitan Peter cukup membuat Trissta makin kesal.
Dan tidak tanggung tanggung, Trissta mulai menggunakan sarung tangan plastik dari gudang berlari ke arahnya dan mendorong kepala Peter ke arah besi pemotong. Dan... Kalian pasti tau apa yang terjadi.
Trissta melepaskan sarung tangannya dan menatap bajunya yang sekarang penuh dengan darah. Dengan cepat, ia berlari kembali ke kamarnya, memastikan tidak ada yang melihatnya berlumuran darah.
Sesampainya ia dikamar, ia mengganti bajunya dengan baju pijama tidurnya dan membuang bajunya ke mesin pembakaran sampah dibelakang rumahnya. Tak ia sangka ia dapat membunuh dan menyembunyikan semua bukti dengan mudah.
Tanpa berpikir panjang akan apa yang akan terjadi jika mayat ditemukan, Trissta kembali ke kamarnya dan memejamkan matanya.
Dia pasti bangga.
---------||---------
Sabtu, 7 November 1953. 14:29
"Apa apaan ini?! Ini sudah pasti pembunuhan, bukan kecelakaan!"
"Alat pemotong rumput Anda masih menyala saat korban meninggal. Tetapi dengan luka yang ada di kepalanya, dapat dipastikan 70% bahwa ini adalah pembunuhan."
"Lalu apa tindakan Anda? Sudah ada 2 korban di rumah ini dan Saya punya anak perempuan. Ini bisa membuatnya trauma!"
"Saya mengerti, Mr. Everett. Saya juga akan berusaha semampu Saya mencari orang dibalik semua ini. Maafkan Saya dan rekan Saya yang mungkin kurang cepat menangani semua ini"
"Tolong tangkap orang dibalik semua ini. Saya mohon. Jangan sampai ada korban lagi di rumah ini."
"Akan Saya usahakan."
Gedone dan Catherine menundukkan wajahnya pada Christopher dan kembali memeriksa tempat kejadian itu.
Merasa seseorang sedang memperhatikannya, Catherine menoleh ke arah jendela kamar Trissta. Dapat ia lihat Trissta yang berdiri tegak menatapnya di balik jendela tanpa bergerak sedikitpun. Catherine merasa bulu kuduknya mulai berdiri melihat anak perempuan itu yang terus menatap tajam ke matanya.
Mencoba untuk positif, Catherine kembali menganalisa tempat kejadian itu bersama Gedone. Pikirannya terus tertuju pada Trissta yang menurutnya mungkin ia trauma atas semua ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
TRISSTA
HororTrissta Everett, seorang anak perempuan dari orangtua yang sangat mapan pada waktunya itu adalah anak yang sangat periang hingga umurnya menginjak 6. Entah apa yang sedang dia alami hingga ia berubah dan membuat orangtuanya khawatir. Ternyata, ia se...
