Chapter 5 - New Class

288 37 1
                                    

Sepanjang perjalanan menuju rumah barunya Tata memandangi keluar kaca jendela taksi. Ia takjub.

Oh jadi ini yang namanya Jakarta.

Banyak bangunan-bangunan menjulang tinggi. Jalan raya yang sangat ramai akan kendaraan yang berlalu lalang. Dan ia terjebak macet.

Baru kali ini ia terjebak macet. Padahal di kotanya, ada sih macet tapi gak separah ini!

Dua jam kemudian Tata sampai di rumah barunya. Rumah yang tidak terlalu besar dengan model yang sederhana. Tak apa, Tata tidak terlalu menyukai rumah yang besar. Soalnya kalau ayah dan ibunya pergi, Tata cuman sendirian di rumah dan parno sendiri. Maklumlah Tata kan anak tunggal.

"Udah nak jangan kebanyakan melamun ayo bantuin ayah ngangkatin barang-barang." Ujar ayahnya.

Tata baru sadar ternyata daritadi dia melamun. Tata membantu ayah dan ibunya mengangkat barang-barang mereka. Untungnya tidak terlalu banyak, karena mereka hanya membawa pakaian serta barang-barang berharga lainnya. Rumah lama sudah dijual beserta isinya. Tapi untung saja di rumah barunya sudah terisi barang-barang.

Niat banget ayah mau pindah, pikirnya.

***
Pagi ini ibu Tata membangunkan Tata pagi-pagi sekali. Karena Tata bersama ayahnya akan mendaftar di sekolah baru. Jarak antara sekolah dan rumahnya bisa dibilang cukup jauh, maka dari sekarang Tata harus bisa ngatur waktu gimana caranya supaya gak telat di sekolah barunya. Anak baru masa telat, malu dong.

Tata dan Ayahnya telah sampai di gerbang sekolah tersebut. Sekolah swasta. Sebenarnya Tata gak pengen nyusahin ayahnya, sekolah negeri dia oke oke aja. Tapi ayah Tata bersikukuh untuk menyekolahkan Tata disini, SMA Tunas Bangsa. Ayahnya Tata punya prinsip  walaupun bukan orang kaya, untuk urusan pendidikan dan makan gak usah mikir uang. Entah apa maksudnya Tata juga gak ngerti.

Setelah keluar dari ruang TU sekolah ini, Tata diajak seorang guru BK untuk menuju kelas barunya. Sedangkan ayahnya membelikan seragam sekolah di koperasi sekolah tersebut lalu berangkat kerja.

Untung aja hari ini hari Selasa, siswa-siswi disini pasti masih pakai baju putih abu-abu. Kalau mereka pake baju batik, masa Tata mau pake baju batik sekolah lamanya sih? Kan Tata belum beli seragam sekolah ini.

Kini ia sudah sampai di depan kelas barunya bersama guru BK tersebut. Pintu kelas tertutup, tapi kegaduhan yang super bising mengalahkan semuanya. Pasti di dalam belum ada gurunya.

Guru BK tersebut mengetukkan pintu dan membuka pintu kelas tersebut. Benar saja, anak-anak kelas ini hacep banget. Kalo dulu disekolah lamanya, tiap pagi sebelum bel masuk pasti udah disuguhkan gendangan musik dangdut dari kelasnya. Lagu apa aja dijadiin dangdut, mulai lagu pop, rock, sampe edm pun bisa Rian dan kawan-kawannya ubah menjadi versi dangdut.

Kelas ini berbeda. Saat Bu BK baru membuka pintu kelas tersebut, alunan lagu EDM dengan beat yang super hacep tersetel kencang.

Masyaallah, ini kelas apa kelab malam?! Atau malah dwp?

Hebat bener ini kelas, di pojok belakang aja ada dua speaker. Beat lagu edmnya ngalahin speaker angkot di kotanya dulu. Parah!

Ibu BK hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya heran sambil menyilangkan tangannya, anak-anak lain kelas tersebut pun langsung berhamburan. Ada yang buru-buru menuju tempat duduknya, ada juga yang lari-lari buat matiin lagu edm terus ngebirit ke tempat duduk.

"Ckck kalian ini ya heran deh ibu, gak malu apa ada anak baru kalian begini?"

Seluruh murid di kelas mengalihkan pandangan mereka pada Tata.

#CintagramTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang