"Kenapa? Kau tidak kenal aku? Kita bahkan sekelas?"
Seketika raut wajahnya yang bahagia berubah, menjadi sedikit kecewa..
Tapi senyuman nya kembali mengembang "oh iya" dia menepuk jidatnya.
"Bahkan aku lupa mengenalkan nama haha ayolah pantas saja kau tidak tau"
Laki laki itu mengulurkan tangan nya dengan senyuman khasnya "Anton Reksadinata panggil aja anton" senyuman nya kembali mengembang.
Reina mengulurkan tangan nya lalu menggenggam tangan Anton yang entah kenapa sangat lembut digenggaman nya
"Reina" dengan wajah polos Reina sebutkan namanya.
"Reina?"
"Ya reina"
"Tidak maksud ku. Hanya reina?"
"Haha sorry emm Reina Rahma Filliang"
"Hmmm panjang ya tak sebanding dengan wajahnya yang cantik" anton tersenyum sambil melepaskan tangan nya.
"Makasih kau pun"
"What? Kau pun? Maksudmu aku cantik?
"Bukan maksudku kau pun sama tampan nya"
"Dengan?"
"Dengan temanmu yang ketus itu" wajah Reina kali ini terlihat bete membicarakan Farya.
"Ketus? Farya maksudmu?" Anton terlihat benar benar bingung. Reina kembali tersenyum melihat wajah Anton lucu sekali , seperti anak kecil yang kebingungan.
"Iya begitulah dia teman mu? Kenapa seketus itu padamu?
"Haha" tawa Anton yang kini terdengar jelas ditelinga Reina.
"Cmon rein kenapa harus dia? Aku lebih tampan dari dia"
"Ya begitulah menurutku" Reina menahan tawanya.
"Oh iya rein aku harus pergi hari ini ada eskul futsal dilapang aku tidak boleh absen kali ini"
"Eskul?"
"Yaa, kau ikut eskul apa?"
"Entahlah aku bingung"
"Baiklah asal kau jangan lupa bayar rotimu" anton tertawa sebelum dia pergi berlari
Yaampun bahkan Reina lupa kalau niatnya kesini mau membeli satu roti strawberry. Entahlah sepertinya Anton melupakan niatnya, atau mungkin Anton membuatnya lupa. Ternyata Anton lebih baik dari teman nya Farya bahkan Reina malas membahas namanya.
~
"Halo?"
"Iya hallo"
"Kemana saja kau! Aku hampir gila mencarimu"
"Maaf Farya kau tidak usah mencariku"
"Aku mengganggumu?"
"Tidak hanya saja.."
"Apa? Kau berbeda! Apa yang membuatmu seperti ini? Kalau ada masalah katakan! Jangan diurung sendiri!"
"Maaf Farya tapi kali ini lain"
"Kau selalu begini kalau ada masalah! Ada apa Din?"
"Aku.. aku bertunangan Far maaf"
Hantaman besar memukul dada laki laki yang sedari tadi khawatir dengan perempuanya. Ya kini dia sudah mematikan handphone nya. Dia lemah sangat lemah bahkan dia tidak tau harus bagaimana. Seketika badan nya terjatuh tapi tembok masih bisa menahan badannya. Sehingga sekarang dia terduduk dengan menutup wajahnya di kedua lututnya dan melingkarkan tangan nya menutup tangis air matanya. Dia takut pertahanan nya runtuh hanya karena satu gadis, dan yang lebih dia takutkan. Dia tidak bisa bertemu dengan gadis nya...
~
Bel terakhir berkumandang seolah menyuruh para guru untuk keluar dari kelas. Saat sebagian gadis berdandan, Reina dan kawan kawan nya malah asik menertawakan cerita Reina bersama Anton saat dikantin.
"Hay girl" anton menghampiri meja Reina dan tersenyum pada teman teman Reina.
"Omg anton!" Lagi lagi Jane histeris.
"Hay emm.."
"Jane" jane mengulurkan tangan nya.
"Hay Jan" Anton membalas uluran tangan Jane.
"Oh ya girl kalian ga rias wajah kalian kaya teman teman yang lain?"
"Kami tidak suka make up ton" Reina menjelaskan.
"Kenapa? Bahkan semua gadis menyukai itu?"
"Tapi kami tidak jangan samakan kami dengan mereka" christy menambahkan
"Oke lalu apa yang disukai para gadis seperti kalian?"
"Kalo aku suka cowo tampan sepertimu" Jane dengan tatapan manja nya menatap Anton dengan tatapan handalan nya.
"Ayolah Jan kenapa harus cowo!"
"Wajar saja kalau dia menyukai cowo dia normal crist" Anton tertawa
"Dia terlalu normal Anton" Reina menahan tawa
"Dan bahkan sangat normal sehingga hanya aku laki laki tampan dihatinya" tawa meledak saat Anton mengatakan itu.
~
Saat bel berkumandan, Rika segera pergi dari kelasnya untuk menemui ayahnya yang sudah menunggu Rika di depan gerbang. Dengan cepat Rika berjalan setengah lari, takut ayahnya marah atau kembali ketus padanya.
Duk!
Tubrukan keras yang membuat Rika terpental jatuh ke lantai sekolah dengan tekstur yang kasar tak hanya itu, hape yang dipegang sosok yang menubruk Rika terjatuh dan terlihat satu pesan masuk.
"Maaf Far.."
Saat Rika memalingkan wajahnya ke depan tepat menatap laki laki yang menatap Rika seolah mau menerkam saat itu. Bukan. Bukan tatapan marah yang Rika lihat.
Tapi tatapan, tatapan penyesalan. Penyesalan yang teramat dalam , terlihat dalam mata coklat kehitaman itu laki laki itu kesepian..
"Jangan menatap ku seolah iba!"
Merasa di pandang aneh , Farya angkat bicara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Masa SMA
RomantikDia bukan manusia planet bumi, bukan juga mahkluk hidup didunia tapi aneh nya ada yg berbeda dengan tatapan nya. Yaa tatapan yang tidak pernah aku lihat sebelum nya, ini tatapan manis dan baru dia yang memberikan tatapan ini. Dia bahkan sangat aneh...
