Farya Dwi Putra

1.2K 32 0
                                    

Tepat pukul 3 saat bel pulang berkumandang Farya segera membawa tasnya dan pergi dari kelas paling awal. Tidak ada yang tau apa kegiatan Farya selama diluar sekolah setau murid murid teman Farya, Farya anak pendiam yang super sibuk. Karena setiap ada tugas kelompol Farya menolak untuk datang karena Farya selalu beralasan acara keluarga atau alasan lain nya.

Bahkan Anton enggan menceritakan Farya meskipun Farya dan Anton bersahabat sejak sd. Anton tau betul sikap sahabatnya maka dari itu Anton sangat khawatir dengan sikap dingin Farya entah sampai kapan Farya menutup masa lalunya dengan sikap dingin nya. Bahkan berbicara pun rasanya malas bagi Farya.

Anton menghampiri teman teman perempuan nya yang asik dengan gadget nya masing masing Anton duduk disamping Reina dan kepo melihat hape Reina yang sedari tadi sibuk di mainkan.

"Apaan sih Anton kepo banget" Reina berusaha menyembunyikan hapenya dari pandangan Anton.

"Apaan sih itu ada kata jemputnya" Anton tetap melihat layar hp Reina meskipun Reina berusaha menyembunyikan hapenya dari Anton.

"Dari kaka aku tau!" Kali ini Reina menyimpan hapenya ditas.

"Ih pelit banget sih" Anton mencubit lengan kiri Reina yang menganggur diatas meja.

"Aw ih!" Reina meringis dan mengusap tangan nya yang sakit.

"Ih udah kaya kucing sama tikus aja" Christy yang memperhatikan Reina dan Anton terkekeh melihat kelakuan dua teman nya.

"Ha? Kucing sama anjing kali christ" jane yang sedari tadi menyisir rambut menatap heran Christy.

"Tom jeri apa emang?" Ketus Christy.

"Oh iyayah" Zane menggaruk kepalanya yang tidak gatel.

"Kartun zaman dulu aja kamu gatau" Anton terkekeh.

"Hey guys!" Rika keluar dari pintu dan menghampiri 4 teman nya.

"Hay Rik!" Anton tersenyum dan menatap Rika yang duduk disebelahnya.

"So kenal deh!" Reina mencubit paha Anton.

Anton menjerit kesakitan karena selain sakit dicubit kakinya refleks terangkat ke ujung meja sehingga dia merintih kesakitan. Reina dan Zane tertawa menatap Anton sedangkan Christy hanya tersenyum dan menggeleng gelengkan kepalanya.

"Dasar kamu ya" Anton mengacak acak rambut Reina

"Oh iya ton Farya sibuk banget ya?" Pertanyaan Zane membuat hening kelas yang tadinya tawa dari pojok tempat Reina dan kawan kawan nya.

"Emmm kok nanya itu sih?" Anton mengernyitkan dahinya

"Ngga sih cuman ya Farya kok keliatan nya nutup banget soal pribadinya" Zane mendesak Anton.

"Iyayah kadang jarang juga ada yang mau satu kelompok sama Farya padahal kan Farya juga ga bodo bodo amat" ucap Christy.

"Hmm entahlah aku gatau banyak tentang Farya" Anton berusaha menutupi .

"Bukanya kalian satu sd ya?" Tanya Rika.

"Iyasih cuman kita beda kelas" Anton berbohong.

"Hm emang dari sd Farya udah cuek ya?" Tanya Reina.

"Ga sih dia ceria banget Rein tapi semenjak ibunya meninggal dia jadi seperti itu" Anton menutup pembicaraan sore itu.

"Kring kring" bel dari sebuah cave yang terlihat bersih rapi dan serba putih itu ramai dengan pengunjung. Laki laki berseragam SMA dengan jaket levisnya menghampiri gadis dengan kemeja putih pendek dan celana hitam seragam cave tersebut.

"Hey far" sapa perempuan berambut panjang diikat satu membalikan badan nya menatap Farya.

"Hmm hay mes" Farya menatap sekeliling "tumben rame?"

"Haha iya Far ka Dicki nelpon aku banyak orang yang datang ke cave katanya dia kewalahan jadi tadi aku ga ambil eskul osis ku" Gadis itu menjelaskan panjang lebar.

"Hm Dinda datang juga?" Farya terlihat muram saat menanyakan itu.

"Hmm dia datang sebentar lalu pergi lagi"

"Yasudahlah aku harus ganti seragam ku aku gamau ada orang yang melihat aku kerja disini" ucap Farya.

Sesampainya di dapur, Farya disambut hangat oleh Dicky dan Boy.

"Hay Far!" Boy menyapa Farya.

"Tumben datang cepat Far?" Dicky bertanya sambil memasak menu pelanggan.

"Aku tidak ikut eskul musik dick" Farya menjawab sambil mengganti bajunya.

'' tapi semangat kerjamu masih adakan?" Boy menggoda Farya sambil mencuci piring.

"Tentu boy kalau bukan aku yang bantu siapa lagi? Inikan kewajiban kita" Farya menghampiri Boy dan membantunya mencuci piring.

"Kau nekad juga Far sekolah barumu kan melarang kerja sambilan?" Boy berjalan menuju tempat jus untuk membuat jus pelanggan.

"Aku tidak mau merepotkan ayahku lagi, bahkan berkat kerja sambilan ku aku memiliki uang jajan sendiri" Farya menggantikan posisi Boy mencuci piring.

"Tapi kau hebat Far semua biaya hidupmu ditanggung sendiri tanpa campur tangan ayahmu" Ucap Dicky

"Yang penting aku bisa hidup dick"

"Alasan mu disini bukan karena Dindakan?" Tanya Dicky membuat Farya terdiam.

"Ayolah Far kenapa tidak bangkit? Kehilangan Dinda bukan akhir dari segalanya" Boy merangkul Farya

Tepat pada pukul 10.00 Farya baru sampai rumahnya saat Farya memasuki rumahnya di ruang tamu terdapat seorang perempuan dan ayahnya duduk berdua.

"Bagus kau pulang larut!" Ayah Farya bangkit dan menghampiri Farya.

Tak lama laki laki bertubuh tegap tampan datang dari kamarnya yang terletak di depan dapur menghampiri Farya. Lucky Nugraha Fradito adalah nama laki laki itu. Dia sangat menyayangi Farya seperti adiknya sendiri meskipun dia kakak angkat Farya.

Saat Farya kelas 1 smp, ibu Farya meninggal tak lebih dari sebulan ayahnya sudah menikah dengan wanita lain yang tak lain seorang janda beranak satu dan itu adalah ibu dari Lucky.

Setelah pernikahan itu Farya tidak lagi akrab dengan ayahnya bahkan memandang nya pun membuatnya malas. Farya sering menyibukan dirinya sendiri agar tidak bertemu dengan keluarganya. Bahkan saat dia tau dia memiliki ibu dan kakak baru dia sama sekali tidak perduli. Bahkan tidak ada perbincangan sama sekali semua terlihat kosong. Dalan satu rumah sangat terasa bahwa tidak ada rasa kasih sayang yang dia rasakan dari keluarganya.

Dulu saat ibunya meninggal malaikat yang selalu ada di hidupnya, malaikat senyum nya setiap hari dan malaikat pemberi semangatnya adalah seorang gadis. Hari harinya yang gelap diwarnai dengan canda tawa dari seorang gadis yang dia cintai.

Bahkan sampai dia lulus SMP gadis itu masih menemaninya dan gadis itu meninggalkan nya saat dia memasuki masa SMA. Alasan nya sangat jelas, gadis itu akan bertunangan. Padahal jauh di lubuk hatinya, Farya ingin sekali memasang cicin sah pada gadis itu. Tapi takdir berbelok.

Gadis itu telah pergi...

Cinta Masa SMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang