Part 5

350 29 1
                                        

Setelah selesai berbicara dengan Slenderman, aku keluar dari kantornya dan pergi menemui Ben. "Hi Ben, get ready to lose" ucapku sambil menyeringai. "Yayaya, what ever" katanya sambil mengeluarkan Playstation dari lemari.

*Skip

"What the shit", pekikku saat kalah dari Ben, "Ben your cheating" ucapku. Ya, itu karena dia memakai senjata rare yang masih locked. "Hahaha, weak" ucap Ben dengan nada mengejek. "What ever" balasku. Lalu aku melihat keluar jendela dan melihat hutan yang luas, hutan itu seperti mengelilingi rumah ini. Wait, what? Mengelilingi rumah ini?

"Ben, apakah mansion ini di tengah hutan?" tanyaku. "Thats rights" jawabnya.
"Fuck! Sungguh membosankan di sini" kata salah seorang yang bicara di belakangku. Aku menengok ke belakang, ternyata itu E.J yang sedang memainkan pisau nya. "Hei, kau mau berpesta?" tanyanya kepadaku. "Hell yes, its boring in this place."
Lalu E.J membuka pintu mansion dan keluar diikuti olehku. "Hei pikirkan, kau sedang berada di suatu perumahan di mana ada aku di sana sambil menutup mata." Aku hanya menuruti perintahnya. "Bukalah matamu." Lalu aku membuka mata dan... "Holy shit, kita ada di perumahan sekarang" ucapkan kaget.  "Yup! Ini karena jimat yang Slenderman berikan pada anggota creepypasta, jadi kita bisa berteleportasi ke manapun terserah kita, dan ini satu-satunya cara agar bisa keluar dari hutan itu" katanya. Kemudian ia menunjukkan cincin yang di tengahnya bertanda Z.
"Oh..." ucapku dengan nada bosan.

"Nah, kau pilih rumah yang mana? Kalau aku rumah yang berwarna ungu itu, jangan menggangguku oke?" katanya berlalu menuju rumah yang ia tunjuk tadi.

"Oke." kataku sambil berjalan menuju salah satu rumah berwarna hijau. Aku mengetuk pintunya. Lalu ada seseorang membuka pintu. Ternyata ia seorang lelaki yang sudah cukup tua. "Hi, go to sleep" kataku sambil mengambil pisau dari hoodie ku, dan menebas lehernya secepat kilat. Darah pun memuncrat dari lehernya. Banyak sekali sehingga membuat hoodie putihku hingga menjadi penuh dengan darah. "Pa... ada siapa?" Suaranya perempuan. Aku berjalan ke arah sumber suara. Dan mendapati seorang wanita yang cukup tua, ia pun menatapku dengan wajah horor. "Sstt... just go to sleep" lalu secepat kilat kutebas lehernya. Darah pun, memancar dengan deras dari lehernya. Aku hanya tertawa gila melihat ekspresi wajahnya yang melihatku dengan tatapan horor. Aku baru teringat bahwa mayat laki-laki tadi masih ada di depan pintu. Aku segera menarik mayat lelaki itu dan kulempar di atas mayat perempuan yang baru kubunuh.

Aku hanya melihat sekeliling rumah ini dan melihat ada beberapa kamar. Tapi entah kenapa aku merasakan ada seseorang yang berada di kamar sebelah kananku. "Well well, semoga ini seorang gadis, agar aku bisa mengoleksi jantungnya." Lalu aku berjalan menuju kamar sebelah dan membuka pintunya. Benar saja, ada anak perempuan di kamar ini. Ia sedang memainkan handphonenya. Lalu ia menoleh ke arahku dan melihat ku dengan tatapan heran, "Feron...?!?" Oh shit! Aku bertemu teman sekelasku lagi?? Well, karena keluarganya sudah kubunuh jadi kubunuh saja dirinya sekalian, lagi pula tanpa keluarganya ia tidak akan bisa bertahan hidup.

Aku pun mendekatinya perlahan, "Stop! Siapa kamu?!?" tanya Feron dengan tatapan horor dan ketakutan.
"Cepat sekali kau melupakan teman?"
Kataku sambil menyeringai. Lalu kujambak rambutnya dan kugeret ia menuju mayat orang tuanya. Lalu kulempar dirinya ke dinding. Dia hanya menangis histeris ketika melihat mayat orang tuanya. "Kau... kau monster!" ucapnya. "Hahaha... kau kira aku monster, bukankah aku ini laki-laki yang selalu kau anggap banci?" Jawabku sambil tertawa gila. Yup aku selalu dianggap seperti itu di kelas.

"Alma...?? Apa kamu juga yang telah membunuh Fani?!?" ucapnya dengan mulut bergetar penuh ketakutan. "Maksudmu wanita dengan jantung yang cukup indah itu?" Jawabku. Ia hanya menatapku dengan tatapan yang lebih horor dari sebelumnya. "Apa kau punya bensin?" tanyaku sembari melihat ke sekeliling kamar orang tuanya. Dia hanya diam dan berpikir, berusaha mencerna omonganku. Aku tidak peduli dan berjalan ke arahnya. Lalu kutancapkan pisauku ke kaki kanannya hingga masuk sepenuhnya. Ia hanya menjerit kesakitan. Lalu kututup mulutnya dan mendekatkan mulutku ke kupingnya dan membisikkan "Ssstt... jika kau berteriak akan ku potong lidahmu" ancamku. Well, sepertinya aku harus berbohong. Kuambil lagi pisau dari dari kakinya, dan kubuka paksa mulutnya, lalu kupotong lidahnya. Dan kutancapkan kembali pisauku hingga masuk sepenuhnya ke kakinya. Hanya saja, kali ini aku menancapkannya ke kaki kiri.

Well, aku ingin sekali membakar mereka. Tetapi aku tidak bisa merasakan rasanya memotong jantung korbanku hidup-hidup. Wait, jantung... Oh ya, aku baru teringat aku tidak punya wadah untuk mengoleksi jantung, dan jantung milik Fani ada pada toplesnya Smiley. "Damn" gumamku. Aku melihat Feron yang sedang berekspresi seperti orang yang meminta belas kasih. Aku hanya terkekeh melihatnya. Aku berkeliling di rumah ini dan menemukan 1 galon bensin dan sebuah pemantik api, aku tersenyum keji dan langsung membawa ke 2 barang itu. Aku mendekati Feron dan mengambil pisau kesayanganku, aku pun menjilati darah yang ada pada pisauku, dan melihat Feron menatap ngeri melihat barang yang ku bawa. Seakan ia tahu apa yang akan aku lakukan. Aku membuka tutup galon berisi bensin ini, dan menyiramkan nya di tubuh Feron beserta mayat orang tuanya. "YOU'VE MEET A TERRIBLE FATE DON'T YOU?!" kataku setengah berteriak, lalu melempar pemantik api yang sudah aku nyalakan dan keluar dari rumah itu.

Lalu aku melihat E.J yang sedang memakan sesuatu. "Mau...?" tawarnya kepadaku, "Hell no!!" jawabku setelah ku sadari itu adalah ginjal. Lalu dengan cepat aku bertanya. "Hei, apa itu E.J? Kudengar para member creepypasta memanggil mu E.J dan seorang badut dengan nama L.J" tanyaku. "Well, E.J adalah singkatan dari Eyeless Jack, sedangkan L.J adalah singkatan dari Laughing Jack. Nama kami disingkat karena nama kami sama" jawabnya dengan rinci. Lalu aku bertanya lagi, "Kenapa kau dipanggil Eyeless Jack? Apa kau sudah tidak punya mata?" tanyaku penasaran. "Yup!" jawabnya dengan singkat. "Aneh, tapi kau seperti bisa melihat dengan normal" balasku dengan heran. "Ini berkat ramuan dari Slenderman" jawabnya. Ramuan lagi, apakah Slenderman itu selalu bisa membuat ramuan ajaib? tanyaku dalam hati. "Hei, apakah dengan jimat ini bisa berteleportasi ke mana saja?" tanyaku untu kesekian kalinya.

"Well... tidak juga, kita hanya bisa berteleportasi ke kota, ke pemukiman manusia terdekat, ke tempat Dr. Smiley, ke mansion dan ke tempat di mana teman kita sedang dalam masalah. Tetapi untuk saat genting seperti itu, biasanya jimat ini akan bersinar, tetapi sinar itu hanya bisa dilihat oleh orang yang memakainya, dan jika Slenderman memanggil orang itu." Jawab E.J panjang lebar. Saat itu juga cincin itu bersinar, aku melihat E.J seperti mengatakan 'Slenderman memanggil kita?'. Ia hanya mengangguk dan mulai menghilang. Aku pun berkonsentrasi bahwa aku sedang berada di mansion. Aku terkejut ketika sudah di sambut dengan orang yang lebih banyak dari sebelumnya. Dan aku pun berpikir ini adalah anggota lengkap creepypasta. Tapi ada sesuatu yang tidak mengenakkan dalam perasaanku. Aku melihat seseorang yang berpakain sama seperti ku sedang memainkan pisaunya dengan menundukkan wajahnya. Lalu tiba-tiba ia menoleh ke arahku dengan tatapan tajam. Ia memiliki muka yang sama denganku, mulut sobek dan kelopak terbakar. Aku hanya memekik dalam hati, "Jeff?!?" Ya... tidak salah lagi, dia Jeff.

Psychopath LifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang