Aku berjalan menuju rumah besar itu. Rumah itu berwarna putih dan bertingkat 2, kalau dilihat-lihat, rumah itu mirip Mansionnya Slenderman, dan rumah ini memiliki pagar tinggi yang merepotkan.
Ternyata di rumah ini juga ada satpamnya, tiba-tiba saja muncul lampu 100 watt dari dalam kepalaku.
Aku langsung menutup kepalaku dengan hoodie, dan berjalan menunduk mendekati rumah itu.
"Pak... Tolong, bisa tolong saya tidak pak...," ucap ku dengan nada memelas. Cih... kalau bukan karena pagar sialan ini aku tidak mau berakting seperti ini.
"Minta tolong apa nak?," ucap satpam itu..
"Saya boleh tidak tidur di pos bapak?, satu malam saja," ucapku memohon kepadanya.
"Memang orang tua kamu kemana?"
"Orang tua saya sudah meninggal, saya juga sudah tidak punya rumah pak, saya mohon pak, biarkan saya masuk, saya takut dengan pembunuh yang berkeliaran," dustaku.
"Baiklah nak, kamu benar juga, kamu tidak aman berada di luar sana," ucapnya sambil berjalan membukakan pintu pagar.
Tidak aman darimana?, harusnya kamu yang mengkhawatirkan dirimu sendiri pak.
Aku langsung masuk menuju pos satpam. Aku melihat ia sedang menutup pagarnya kembali, aku menggunakan kesempatan itu untuk mengeluarkan pisauku.
Lalu ia pun masuk, "Pisau nya dapet dari mana nak?," tanya nya dengan heran.
"Oh, ini pisau nya untuk membuat orang tertidur," ucapku sambil menyeringai dan mendekati satpam itu.
Ia hanya menatapku horror, lalu ia mengeluarkan pentungannya.
Huh... kau pikir itu bisa membunuhku
Aku lalu menghunuskan pisau ku ke jantungnya, dan ia terlihat sedang mengayunkan pentungan nya kearah kepalaku, tapi reflekku itu cepat, aku langsung menunduk dan menghujamkan pisauku ke perutnya, lalu merobek perutnya hingga ususnya keluar. Aku menarik pisau ku kembali dan keluar dari pos ini lalu berjalan menuju rumah.
Kalian pasti berpikir kenapa aku tidak teleportasi saja. Jawabannya simpel, BIAR GREGET!!!
Aku punya beberapa pilihan untuk masuk ke rumah itu, masuk lewat pintu depan, atau lewat jendela.
Kalau dipikir-pikir, lebih greget lewat pintu depan deh...
Tiba-tiba saja aku memiliki visi, bahwa pemilik rumah memiliki sebuah pedang katana.
Hmm... Aku harus memiliki pedang itu
Aku menuju pintu depan rumah itu lalu memencet bel yang ada pada samping kanan atas pintu, baru beberapa menit ada seorang perempuan yang membuka pintu.
Ia hanya menatapku horror, mungkin karena mukaku, atau pakaianku yang penuh darah, atau karena aku memegang pisau yang penuh darah..., Ah... masa bodo.
Tanpa aba-aba, dan sebelum ia bertindak, aku langsung menebas lehernya. Darah pun memancar dengan deras, tapi aku tidak ada waktu untuk mandi darah, atau menikmati pemandangan indah ini
Tiba-tiba saja ada suara perempuan yang setengah berteriak, "Bi, kok lama banget bukain pintunya," lalu terlihat siluet seorang wanita.
Buru-buru aku menutup pintu dari dalam, mencari sakelar lampu dan langsung mematikannya.
Kenapa harus di matikan?
Agar aku tidak ketahuan, kalau ketahuan si sebenarnya tidak apa-apa, walaupun ia berteriak, tetapi yang merepotkan, kalau ada orang lain di rumah ini menelpon polisi, bisa gawat urusannya.
Lalu aku sedikit menjauh dari sakelar lampu itu, untung aku terbiasa dengan keadaan gelap, jadi walaupun gelap aku masih tetap bisa melihat dengan cukup jelas.
Ku lihat wanita itu berjalan ke arah sakelar sambil terus menggerutu, secara diam-diam dan tanpa suara aku mendekati wanita itu dari belakang, dan langsung membekap mulutnya, lalu dengan cepat ku gorok lehernya.
Haha... Double kill
Aku langsung menuju ruangan berikutnya, sepertinya ini ruang tengah, sekaligus ruang keluarga, karena aku melihat seorang laki-laki yang cukup tua, sedang menonton TV.
Cih... Sasaran empuk, sepertinya ia sedang fokus dengan pertandingan bola yang sedang ia tonton
Jadinya dengan mudah aku mendekatinya, mendekap mulutnya, dan langsung menggorok lehernya.
Entah mengapa aku tertarik dengan sebuah kamar di lantai atas, sepertinya di sana ada seorang gadis, tanpa sepatah kata, aku langsung menuju kamar itu.
Aku lalu membuka pintu kamarnya, tiba-tiba ada yang menyahut, "Kalo mau masuk ketuk dulu dong", benar dugaan ku ia seorang gadis, sepertinya ia berumur 16-17 tahun
"Emangnya, kalo psychopath masuk harus ngetuk pintu dulu apa?", tanya ku sambil mengangkat satu alis
Ia lalu menengok, seketika air mukanya berubah histeris, dan tatapannya menatap ku horror.
"Jeff..., Jeff the Killer", ucapnya dengan terbata-bata.
"Aku bukan Jeff tolol, aku Alma, aku ulangi, Alma!!!" ucapku dengan geram sambil menekan nada pada kata Alma.
"Alma? Tidak ada yang namanya Alma dalam Creepypasta" ucapnya dengan nada terbata-bata
Cih... Cukup basa-basinya, langsung saja kudekati ia dan memukul pundaknya dengan keras, dan seketika itu juga ia pingsan, ia akan menjadi mainanku malam ini.
Sesaat kemudian, aku mendengar teriakan, itu teriakan seorang laki-laki.
Aku menggotong tubuh wanita ini seperti menggotong karung di pundak.
Lalu aku menuju sumber suara, di sana ada seorang laki-laki yang sedang menangis, sambil memegang katana, wait..., jadi dia pemilik katana itu.
"Hei kau, lelaki cengeng, boleh aku meminta katanamu? Sepertinya katanamu itu telah menjerit-jerit meminta tuan yang pengertian" ucapku sambil menyeringai.
"Diam kau keparat!" ucapnya sambil berdiri dan mengeluarkan katananya dari dalam sarung katana.
Aku menjatuhkan wanita di pundakku dan mulai menyeringai
"Go To Sleep" ucapku lalu berlari ke arahnya
Alma vs ???
Aku berlari ke arahnya dengan kencang, sambil menghunuskan pisauku ke arah lehernya, entah mengapa aku sudah tidak sabar memiliki katana itu.
Saat jarak kami sudah cukup dekat dia mengayunkan pedangnya ke arah leherku.
Cih... Gerakan amatiran.
Dengan cara membungkuk, aku berhasil menghindari katana itu, lalu aku langsung menghunuskan pisauku kearah lehernya.
Tiba-tiba saja ada sesuatu yang menyilaukan mataku, aku pun reflek mundur ke belakang, dan sesuatu mengalir melewati mataku, hmm... Sepertinya pelipisku robek, hebat juga dia.
"Hebat juga kau, oke kali ini aku serius" ucapku sambil membuka penutup hoodie.
Saat itu juga, aku langsung berteleportasi ke atas orang itu dan langsung menghunuskan pisauku pada tangannya yang memegang katana dan langsung menyayatnya sampai telapak tangannya.
Ia pun menjerit dan melepaskan katananya, aku langsung mengambil katana itu, dan secepat kilat aku membelah orang itu dari bawah sampai ke kepala.
Dan kulihat bagian tubuhnya jatuh dengan arah yang berbeda, yang satu ke kanan, dan yang satu ke kiri.
Masih ku tatap mayat dari lelaki berambut brunete ini, otaknya terbelah dua, seluruh isi perutnya bertebaran.
Aku langsung mencari tali dan sebuah kursi kayu untuk tempat mainan ku itu.
Dan aku langsung mengikat perempuan malang ini di kursi itu.
Poor girl.....
KAMU SEDANG MEMBACA
Psychopath Life
FantasíaMungkin kalian pernah berpikir bahwa menjadi Psychopath adalah hal yang menyenangkan/menantang, kalian akan merasa bebas yah...merasa bebas... Weh... authornya terlalu mendramatisir xD Stay toon guys xD
