Story 13: Secret or no?

21 4 0
                                        

Pagi itu, Zora terlamun didalam kamarnya dan menghadap keluar jendela. Pikirannya sekarang ini sedang kosong. Entah karena apa, tetapi terlihat ada sesuatu yang terasa ganjil di hatinya.

Didalam lubuk hatinya yang paling dalam, kehidupannya tanpa sesosok Devano di sisi kehidupannya bagaikan sedang terjebak di hamparan pegunungan es yang luas, dingin dan mencekam. Tak ada penghangat. Sendiri dan selalu menyendiri di setiap hari harinya.

Biasanya setiap Zora tiba di sekolah, pasti selalu disambut dengan pelukan hangat dari seorang Devano. Ceria, gembira, riang dan tidak pernah sekali pun terlihat murung. Semuanya terasa indah, bagaikan ada pelangi yang selalu singgah di hari hari nya dan mewarnainya pula. Terhanyut dalam keceriaan yang paling dalam. Menghabiskan masa istirahat bersama orang yang dicintai nya itu. Tetapi itu dulu, saat semua masih ada di dunia ini. Saat semua belum terhapuskan, saat semua belum hilang ditelan bumi.

Sekarang, semuanya berubah layaknya sudut lingkaran utuh. Hari harinya kini hanya seperti di ambang udara tanpa alas tanpa apapun. Bisa dibayangkan kalau kaya gitu.

Sudah cukup lama Zora hanya termenung di batas jendela. Bunyi dari hp nya itu pun menyadarkan lamunan gadis belia itu.

Kau adalah, ah... yang terindah , ah.. yang membuat hatiku tenang, kucintai ka--

"Halo?"

"Halo, Zor. Cepet kesekolahan. Ada hal penting dari guru guru buat lo. Malahan semua guru nanyain lo. Cepet.

"arghh..males gue Clise. Lagi mau bolos dulu deh gue. Ga mood banget. Hal pentingnya buat lo aja ya."

"Yeh.. udah cepetan kesini. Gaada kata bolos-bolosan! Kalau enggak, lo tanggung sendiri akibatnya."

"ahh elah. yaudah gue prepare and abis itu otw ! bye!"

TUUTT...

Setelah menerima telefon yang ternyata dari Clise, Zora langsung bergegas ke kamar mandi untuk mempersiapkan dirinya pergi kesekolah. Malas betul sebenarnya untuk sekolah hari ini. Entah apa yang menarik dirinya untuk bolos saja. Pokoknya hari ini moodnya sedang tidak bagus.

*

Sebagian murid SMA LEDOZA berkumpul dan menatap lembaran kertas di majalah dinding sekolah. Ada yang menyaksikan dengan berbisik kepada teman yang disebelahnya, ada yang sangat bangga melihat pemberitahuan di mading itu, dan ada juga yang melihat lalu mengabaikannya atau langsung berlalu begitu saja.

"eh, minggir minggir. Pangeran kodok mau lewat." ucap Reno yang bergaya dengan layaknya ada seorang artis yang ingin lewat, Zidane.

"apaan si ni sange. " elak Zidane tak mau kalah.

Lelaki hitam manis itu melihat ke papan mading dan menetapkan matanya di salah satu objek yang bertulis dan bergambarkan seseorang yang tidak asing baginya. (ZORA)

"anjir, nih anak bakalan di ikutin kompetisi juara Call of Duty?" ucap Zidane mendekatkan dirinya ke kertas yang ditempel itu. Mencoba untuk memperjelas. "ce..cewe sendiri? dari sekian banyak yang ikut cuma Zora yang cewe sendiri? whats? gilee" sambungnya lagi setelah memeriksa seluruh peserta dari sekolah ini.

"kan gue bilang kalo dia itu gamers." kata Reno dengan permen kaki di emutnya.

"keren juga kali ya kalo punya cewe gamers kaya gitu." ucap Zidane. Tangan kanannya menopang dagunya sedangkan tangan kiri mengalaskan tangan kanannya itu untuk bertumpu.

Dari kejauhan, seorang wanita berambut ungu sedang berlari ke arah Zidane dengan tergesa gesa. Disamping gadis itu ada temannya.

"tuh liat Zor." ucap Clise menunjuk kertas yang tertempel di mading.

Zora mendekat kearah mading. Dia menyipitkan matanya untuk memperjelas.

"what? apa apaan ini?gabisa gitu lah ini gabisa nih wah." kata Zora ketika membaca seluruh kertas itu yang ternyata adalah dirinya akan ikut ke kompetisi pencarian juara bermain Call of Duty 4.

"Keren ya bisa ikutan kompetisi ini. Cewe satu satunya lagi." ucap Zidane yang tiba tiba berdiri disamping Zora.

*

Reno masih terfokus pandangannya ke layar handphonenya itu. Memang kalau kelakuannya di kelas pelajaran kosong ini malas sekali mengerjakan tugas yang diberikan guru yang tidak masuk kekelasnya. Alasan yang sangat utama untuk tidak mengerjakannya adalah main game Zombie frontier 3d di ponselnya. Teman sebangkunya, yakin Zidane hanya terkekeuh melihat tingkah teman yang satunya ini.

Zidane yang sedari tadi merasa di kacangkan oleh Reno, memilih untuk keluar kelas dan pergi ke perpustakaan. Lelaki yang satu ini memang sangat suka ke perpustakaan, sebelum pindah sekolah ke sini pun juga. Novel, ia sangat suka membaca itu. Terutama novel terjemahan atau tidak terjemah yang masih berbahasa inggris. Tak heran bila dirinya adalah murid paling pintar dikelas kalau dalam pelajaran inggris.

Ia berjalan ke perpus dan berbelok kanan dari koridor sekolah.

Bruk!

"eh sorry ga sengaja."ucap wanita yang menabraknya itu dengan wajah tertunuduk.
Nampaknya memang tidak sengaja, karena terlihat seperti tergesa gesa sambil memeluk buku di dadanya.

Zidane hanya mengucapkan kalimat istigfar dalam hati sambil memegan dadanya. Setelah itu ia meneruskan jalannya untuk sampai ke perpus.

*

"Zor, lo ga kenapa 'kan?" ucap Clise melambaikan tangan tepat didepan wajah Zora yang sedang melamun.

"hmm.. ga kok."

"itu kok ngelamun, kenapa?"

"ngga ngelamun. Eh Clise gue haus banget nih. Anterin ke kantin yuk." pintanya.

"tumben lo minta gue anterin? biasanya sendirian dan sendirian." bukannya mengiyakan Clise malah mengelak.

" yaudah ayo gue lagi mau ditemenin aja sekarang."

*

TBC!!

Gaseru delete!

Vote dulu ae elah gausah ngebcct


Zidane'sCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang