Mau ngelanjutin part sebelumnya nih karena aku kena writters block di part sebelah. Oh ya aku gabisa fast update sesuai jadwal karena ini lagi di Pare dan ambil program 3 bulan. So bener2 gabisa sering buka watty. Setelah pulang dari sini, soon as possible aku bakalan fast update banget kok hehehe.
Jangan lupa vomments yah gengs !!!
.
.
.
"Kau bersihkan badanmu dulu di kamar. Kamarmu sebelah kanan di ujung lorong." titah Deo untukku. Aku pun menurutinya dan menuju ke kamar yang dimaksud. Badanku seakan menuntut untuk dipertemukan dengan kasur. Aku merebahkan badanku sejenak di kasur. Dan ntahlah mataku terasa berat setelah itu.
Tiba-tiba ada sesuatu yang berat melingkar mengelilingi pinggangku. Aku sudah tahu ini pasti Deo, ikarena siapa lagi yang berada di sini jika bukan aku dan dia ? Ketika aku berusaha menarik badanku menjauh, Deo semakin menarikku lebih erat. Ternyata lelaki ini sudah bangun sebelum aku.
"Diam sebentar, Kay. Aku ngantuk." aku hanya terdiam dan mengerutkan keningku. Bukannya sedari tadi dia sudah tidur berada di sebelahku ?
"Kau kan juga tidur tadi, bodoh." cibirku di pelukannya.
"Memejamkam mata saja aku tidak bisa, Kay. Apa kau selalu mengeluarkan suara ketika tidur seperti tadi ? Menjijikkan." Sialan. Apa iya aku mendengkur ketika tidur tadi ? Memalukan.
Setelah berkata seperti itu, Deo hanya terkekeh karena dia sudah pasti bisa menebak bagaimana ekspresi dan warna wajahku saat ini. Dalam satu tarikan, dia memutar balikkan badanku sehingga berhadapan dengannya.
"Aku bohong, Kay. Kau tidak perlu memasang tampang tegang seperti itu haha." aku semakin mengerucutkan bibirku ketika tahu bahwa lelaki menyebalkan ini hanya ingin mengerjaiku saja. Setelah percakapan singkat kami, tidak ada satupun yang memulai membuka suara lagi. Aku sibuk dengan pikiranku, begitu juga dengannya. Mungkin saja saat ini dia sedang berpikir tentang keputusanku berlibur ke Indonesia besok malam.
Setelah cukup lama saling mendiamkan satu sama lain, aku pun mengecup bibirnya singkat lalu segera melepaskan pelukannya dan beranjak turun dari kasur. Aku memberikan isyarat padanya jika aku ingin membersihkan tubuhku terlebih dahulu. Dan dia hanya menganggukkan kepalanya.
.
.
.
Sebuah tangan melingkar di pinggangku dari arah belakang. Membuatku sedikit menarik ujung bibirku untuk tersenyum. Lelaki ini sungguh seperti akan ditinggalkan oleh induknya jika seperti ini. Setelah membersihkan badan tadi aku memang langsung menuju dapur untuk membuat sedikit makan malam karena Deo sedang tertidur dengan damainya, sehingga aku tidak membangunkannya.
Pelukannya semakin erat di pinggangku, dagunya pun sekarang sudah berada di antara leher dan bahuku. Membuatku merasakan geli karena hidungnya menyentuh leherku.
"Sedang memasak apa, mom ?" tanyanya dengan suara anak kecil. Sungguh menggemaskan.
"Kau sudah bangun ? Aku sedang membuat sup karena kurasa udara disini cukup dingin." kataku menjawab pertanyaannya. Dia lagi-lagi hanya menganggukkan kepalanya sambil memelukku lebih erat.
"Kau tidak membangunkanku. Kukira kau meninggalkanku sendiri disini." katanya dengan suara yang terlampau rendah. Pikiran macam apa ini ? Bagaimana aku bisa pulang jika jalan menuju rumah saja aku tidak tahu.
"Idiot. Kau lupa aku tidak tahu jalan pulang ? Aku akan pulang dengan apa ?" kataku mencibirnya. Deo hanya tertawa renyah lalu melepaskan pelukannya dan menuju meja makan. Aku segera memberinya semangkuk sup kepadanya dan mengambil semangkuk sup untukku sendiri. Kami makan dalam keheningan. Mungkin hanya lima menit dia menghabiskan supnya, setelah itu dia memandangku dalam. Aku yang diperhatikan seperti itu tentu saja menjadi salah tingkah. Akhirnya mangkuk sup milikku kuletakkan sedikit jauh dengan jarakku dan aku menatap Deo juga.
"Apa ?" tanya nya sambil menaikkan satu alisnya.
"Aku yang seharusnya berkata seperti itu. Apa ?" tanya ku balik kepadanya. Deo hanya memutarkan bola matanya mendengar pertanyaanku.
"Tidak. Aku hanya ingin memandang kekasihku. Apa salah ?" jawabnya santai.
"Salah. Kau membuatku susah menelan sayur sop tadi dan untuk apa kau memandangku. Malah akan membuatmu bosan." jawabku juga tak kalah santai. Tiba-tiba kurasakan tangannya menggenggam tanganku sambil menatap mataku dalam. Tatapannya tak bisa kuartikan apa maunya.
"Setidaknya untuk terakhir sebelum kau pergi meninggalkanku tersiksa di London, Kay." kata Deo akhirnya. Aku hanya tersenyum dan melanjutkan aktivitasku membersihkan piring-piring yang tadi kami gunakan untuk makan. Setelah aku selesai berberes, aku segera bergabung dengan Deo di ruang tengah. Hanya duduk berdua di sofa yang ada di sudut ruangan. Kurasa tidak akan ada kegiatan di luar untuk hari ini karena besok aku sudah harus terbang ke Indonesia dengan Kyle.
.
.
.
"Sampaikan maafku untuk Kyle, karena sepertinya dia marah denganku. Wajar saja karena aku membawamu lari selama tiga hari dua malam dan tanpa seizin darinya." kata Deo sambil menggaruk tengkuknya yang kuyakin tidak terasa gatal. Aku hanya mengangguk lalu mengusap pundaknya. Aku yakin kemarahan Kyle tidak akan berlangsung lama. Setelah itu, Deo segera menaiki mobilnya dan melesat pulang. Begitu juga denganku.
Kulihat Kyle duduk di ruang tengah sambil mengganti-ganti channel televisinya. Saat aku duduk di sebelahnya, jangankan melihatku, melirik saja tidak. Kurasa memang saat ini dia sedang tidak ingin di ganggu. Aku juga sedang tidak memiliki mood yang baik untuk bertengkar dengannya. Jadi kuputuskan sebaiknya aku pergi tidur duluan. Lagipula jadwal penerbanganku dan Kyle ke Indonesia terbilang cukup pagi. Jika aku tidur malam sudah bisa dipastikan aku akan ketinggalan pesawat.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNEXPECTED WEDDING (EDITED)
Teen FictionWARNING 21++ !!! Kayla : Mungkin ini saat yang tepat untuk melepaskan semuanya. Karena memang terkadang cinta tidak harus menggenggam tangan satu sama lain, tetapi merelakan satu sama lain untuk kebahagiaan masing-masing.... Ardian : Terkadang apa y...
