Kepada kesunyian yang memeluk erat malam-malam yang kesepian. Dan burung-burung yang kadang enggan terlelap dan berkicau tengah malam. Lalu katak yang masih jumpalitan lalu berdendang, sedang jangkrik merasa pantas untuk berdendang. Kucing-kucing garong berebut gadis idaman, sedangkan ibu kucing menyusui di atas loteng penuh kecemasan.
Kepada keramaian yang mendekap pasar penuh hingar bingar. Ada pembeli markisa yang masih saja tawar menawar. Di sebelahnya penjual sapu lidi yang mengantuk dan ingin makan ubi jalar. Sedangkan penjual sabun seribuan masih memekik kencang. Di belakangnya tukang obat kutil sedang berdendang. Dan ibu berdaster merah berteriak sebab kecopetan. Ayam-ayam berteriak melihat jasad saudaranya. Dan sapi menitikkan air mata menatap rendang di rumah makan padang.
Kepada renta-renta yang berbaris di padang rumput. Bergoyang berdendang sesuka hati. musik nostalgia yang diperdengarkan melebur bersama kenangan tiga puluh tahun ke belakang. Kematian bermetamorfosis menjadi kawan. Seperti bom waktu yang dinanti dan ditunggu. Para tetua tertawa sebab hidup diciptakan untuk bahagia.
Kepada bayi-bayi yang menangis bersama di pagi hari. Jejeran boks warna-warni tak ciptakan bahagia. Sebab yang melahirkan tak inginkan mereka. Semakin didekati tangis makin bikin hati teriris. Jika orangtuanya saja tak harap ada mereka? Kepada siapa mereka menggantung asa akan sehatnya jiwa?
Kepada gajah yang bergading dua. Atau harimau yang berbelang tak hingga. Atau kelinci-kelinci yang berlari ke sana ke mari. Kepada apakah racauan ini harus diakhiri?
20/6/2016
KAMU SEDANG MEMBACA
Juni untuk Juli
PoetryJuni untuk Juli merupakan kumpulan racauan kacau, istilah untuk puisi yang tidak jadi yang dimulai 1 Juni diakhiri 27 Juli 2016. Serta beberapa kisah pendek yang ditulis masa lampau dan sekarang. © Plutopamit, 2016
