Jadi... masihkah ingat dirimu? Akan rencana kita tempo dulu. Kita susun sedemikian rupa, mengatur hari dan segala pernak-perniknya. Bagaimana kutak lupa kita berebut kalender, kau ingin tigabelas kuingin sembilan. Lalu sepuluh dipilih. Entah mengapa bisa. Sedang Cinta dan Rangga empat belas purnama.
Jadi... bagaimana? Masihkah kau ingat hari di mana kita memilih pernik. Roti, bubuk ajaib, dan pisau kaca. Kau belikan oven merah membara, semerah hati yang gundah gulana.
Jadi... masih ingatkah kau pada sepuluh Oktober itu. Pagi-pagi kita terbangun, tawa cerah membumbung di angkasa. Rencana kita akan sempurna.
Aku ingin memotong bagian itu. Sebab sesak menjalar di dada.
.
.
.
Jadi... bagaimana kabarmu di surga? Sedang aku merana di balik jeruji. Lintah darat itu sudah jadi nama... sebab roti isi tuba tumbangkan dia segera. Piutang sudah lunas seketika. Tapi peluru melesat di dadamu, dan dakwaan sepanjang usia bergelayut di pundak dengan mesra.
Kepada rekan tersayang akan pembunuhan berencana, mungkin kita tidak cocok menjadi pembunuh. Mungkin saja air lebih cocok hingga nelayan bisa kita jadikan pekerjaan. Sayang sudah tak ada lagi kesempatan. Jika dibalik jeruji aku macam begini, kenapa tak tembakku juga kala itu?
KAMU SEDANG MEMBACA
Juni untuk Juli
PoetryJuni untuk Juli merupakan kumpulan racauan kacau, istilah untuk puisi yang tidak jadi yang dimulai 1 Juni diakhiri 27 Juli 2016. Serta beberapa kisah pendek yang ditulis masa lampau dan sekarang. © Plutopamit, 2016
