2. I wish i was special

491 26 10
                                        

You float like a feather in a beautiful world.
I wish I was special.
(Radiohead - Creep)

Jam sudah menunjukkan pukul 17.00 dan itu artinya seluruh karyawan diperbolehkan pulang. Beruntung si bos sedang berbaik hati hari ini. Tidak banyak tugas yang menumpuk, tidak juga banyak ceramah untuk disampaikan hari ini. Dengan langkah ringan, Naima melangkah ke arah parkiran. Satu jam lalu, Sarah pulang lebih awal karena mendadak Ibunya sakit.

Di area parkiran, seorang lelaki dengan mobil grand livinanya nampak sedang menunggu Naima keluar kantor. Ketika dilihatnya Naima celingukan ke sana kemari, Geri mengklakson mobilnya. Lantas ia mengeluarkan sedikit kepalanya dari jendela mobil dan melambai ke arah Naima.

"Ima.. abang disini!" Ia melambai-lambai, berharap Naima melihat ke arahnya. Mengenali darimana arah datangnya suara, Naima pun segera berjalan mendekati mobil grand livina itu. Ia tersenyum sumringah ketika mendapati siapa orang yang duduk dibalik kemudi.

"Abang!! Kapan sampe?" Naima menyapa Geri lewat kaca mobil pengemudi yang terbuka.

"Tadi siang," jawab Geri tak kalah sumringahnya. "Yuk pulang.. abang jemput kamu, nih."

Tanpa basa-basi, Naima mengangguk. Ia kemudian berjalan memutar ke arah kiri. Dan memilih duduk disamping kemudi.

"Kenapa jemput Ima? Harusnya abang istirahat aja di rumah." Naima mengawali pembicaraan sore itu. Pukul lima sore bagi kota ukuran Medan, untuk jalan-jalan besarnya bisa dipastikan akan terjadi kemacetan karena pada saat jam-jam itulah banyak pegawai kantoran yang pulang. Meski tidak semacet Jakarta, tapi tetap saja yang namanya kemacetam itu membunuh waktu. Dan solusi terbaik untuk meredakan kekesalan hanyalah dengan menyibukkan diri. Salah satunya dengan mengobrol.

"Abang lagi kangen sama kamu. Nggak boleh, nih?"

"Alasan klise! Oleh-olehnya mana?" Naima tahu, setiap kali Geri mulai mengutarakan perasaannya, dia harus segera mengalihkannya. Dia tidak ingin mendengar terlalu jauh. Dia tidak ingin ada yang lebih gawat yang di dengarnya daripada sekedar kata kangen.

"Tuh dibelakang."

Naima memutar kepalanya ke jok belakang. Disana ada tiga bungkus kacang sihobuk dan beberapa bungkus kopi sidikalang. Mata Naima berbinar manakala dilihatnya ada kopi sidikalang. Segera diraihnya kopi itu.

"Wah! Enak nih buat temen minum di kantor. Makasih loh bang.."

Geri melirik Naima dari ekor matanya. Baginya menyenangkan melihat Naima dengan senyum merekah dan mata berkilat senang seperti ini. Dia bahkan rela deh, membeli berton-ton bahkan seratus kontainer isi kopi sidikalang pun jadi.. asal dia bisa terus melihat Naima seperti ini.

"Iya. Kacangnya juga diambil, dong."

"Eh boleh juga nih?"

"Ya ambil aja. Buat dibagi-bagi di kantor."

Dengan cekatan Naima pun membungkus kacang sihobuk dan kopi sidikalang itu lalu memasukkannya ke dalam tas nya.

"Sarah pasti seneng banget nih."

"Kalau kamu seneng nggak?"

"Seneng dong bang. Nggak lihat nih aku udah senyum-senyum daritadi?" Naima menolehkan wajahnya ke arah Geri, ia menunjukkan deretan gigi putih bersihnya pada Geri. Geri tertawa melihatnya. Ia mengulurkan tangannya ke pucuk kepala Naima, mengacak-ngacak rambutnya sekilas.

"Iya bawel. Abang tau kok."

Geri memang tahu. Ia bahkan sangat tahu, Naima berbohong. Naima itu begitu pandai menutupi kepedihan hatinya dengan senyuman palsu macam ini. Tapi dia bisa apa? Memaksanya cerita? Bahkan untuk mendobrak pintu hatinya saat ini pun terasa sulitnya.

ReturnTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang