I hate to turn up out of the blue
Uninvited
But I couldn't stay away
(Adelle - Some one like you)
Bagi Naima pekerjaannya yang sekarang adalah nyawa hidupnya. Percayalah, bekerja dengan menyusun ratusan bahkan ribuan invoice bukanlah pekerjaan yang mudah, mengerjakan report weekly maupun monthly juga bukanlah pekerjaan yang mudah, apalagi untuk sekaligus mengontrol arus kas kecil, sekali lagi... it's not easy.
Tapi bagi Naima, semuanya serasa mudah saja. Ketelitiannya, keuletannya, kerapihan dan kepintarannya adalah hal yang sangat membantunya dalam pekerjaan ini.
"Ima--Sarah.. tolong siapkan data weekly kita ya, saya mau periksa." Suara si Bos pagi itu sukses membuat Naima mengangguk patuh. Disebelahnya Sarah hanya bisa mencibir. Itu dia lakukan ketika bosnya sudah kembali masuk ke ruangannya.
"Tiada hari tanpa report. Fiuh..." ia membuang napas dengan setengah kesal, tentu saja Naima memilih untuk tidak terlalu memperdulikan gerutuan temannya itu. Baginya, pekerjaan ini sama sekali tidak memberatkan. Toh sejak awal dia sudah tahu pekerjaannya ini akan seperti apa sibuknya.
"Jadi penasaran... apa sih yang membuat Naimauli Tobing selalu bersemangat dengan pekerjaannya?" Sesaat Sarah sudah menggeser bangkunya ke kubikel Naima. "Aku sendiri aja nih boseeeennn banget. Pengin resign tapi belum dapat kerjaan baru. Fiuh lagi deh..." hembusan udara dari bibir mungilnya yang mengerucut keluar begitu saja.
"Selama kita kerja sama orang ya seharusnya berikan yang terbaik lah, Sar. Selama kita masih butuh gaji daaaaannn... insentif yang gede, lakukanlah semaksimal mungkin.." dengan enteng Naima menjawab, seolah tidak ada beban. Jemarinya bahkan menari lincah diatas keyboard, mengerjakan report weeklynya.
"Huuu.. ngomong sama kamu sih nggak ketemu solusinya! Yang ada dapet nasehat deh!"
Naima mengulaskan senyum geli di wajahnya. "Makanya, kalau nggak mau diperintah orang ya buka usaha aja. Ya nggak?"
Wajah Sarah yang tadi memberengut tambah memberengut mendengar solusi Naima. Mukanya bertekuk sepuluh.
"Masalahnya... darimana modal buat buka usaha jeung? Gila! Modal kawin aja belum kekumpul."
"Ya makanya cari calon suami yang kaya raya dong biar nggak susah-susah nabung buat kawin. Biar dia bisa modalin kamu buat buka usaha juga." Naima berkata dengan santainya, seolah menyingkirkan kenyataan bahwa temannya yang satu ini adalah salah satu spesies yang sulit mendapatkan pasangan hidup, tak heran.. berat tubuhnya saja mencapai 65kg dengan tinggi 150cm. Cowok mana yang bisa langsung tertarik padanya secara langsung? Nah, kalau sampai Naima memberi usulan padanya untuk mencari kriteria cowok yang menurutnya high class, tentu saja itu semua impossible! Jelas ini penghinaan. Ada yang naksir dengannya saja, sudah syukur.
"Tau ah! Bisa aja ya curi poinnya!"
Naima terkikik geli. Kali ini dia mengalihkan pandangannya dari komputer. "Udah deh sana kerja.. si bos udah nungguin report kita nih." Sesekali pandangannya mencuri lihat ke arah ruangan bos yang hanya ditutupi dinding kaca.
"Ya iya! Berisik banget deh udah kayak Ibu pejabat satu itu aja!" Gantian Sarah yang melirik tajam ke arah ruangan bosnya.
"Cusss deh dikerjain dong..."
"Iya, Nyonya!"
***
Kedua bola matanya hampir saja melompat ketika di pelajarinya berkas-berkas yang ada di hadapannya. Sarah berdiri mematung sambil setengah menunduk. Dia tak berani menatap bosnya lama-lama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Return
ChickLitHidup Naima tidak pernah mudah sesudah kepergian Ben. Kepingan kebahagiaan yang ia serakkan selalu saja tanpa permisi merangkai dalam setumpuk kenangan lewat pikirannya. Dan sebagai seorang pria yang mencintai Naima, Geribaldi selalu optimis.. bahwa...
